Sawah Pak Tani

November 20, 2013 at 4:21 am 2 komentar

Petani bajak sawah pake traktor
Kerja rutin kontrol ladang numpak Harley
Ngitung laba panen pake komputer
Ngirim order beras pake helikopter

Pagi ini suara serak Kaka SLANK mengalun merdu dari headphone membuai benak sembari mengiringi kaki saya melangkah mengitari jalanan aspal di kampung.

Di lahirkan dari rahim seorang ibu bernama Sri, nama yang sama dengan Dewi Padi, besar di keluarga besar yang berprofesi sebagai petani dan lingkungan sekitar rumah dengan suguhan pemandangan padi yang menghijau membuat saya dekat dengan petani.

Petani, sebuah profesi yang di masa kini akrab dengan orang pinggiran dan mulai perlahan tersingkirkan walaupun mereka sebenarnya adalah rantai penting penyedia pangan. Selama orang Indonesia masih menggunakan nasi sebagai makanan pokok, selama itu pula kita masih butuh petani.

Hal inilah yang mendorong saya ketika mengunjungi pulau Dewata Bali untuk kesekian kalinya, sengaja saya meluangkan waktu untuk melihat hijaunya sawah di sana.  Walaupun sudah terbiasa melihat padi dan sawah, potret sawah yang menghijau yang sering di jadikan objek fotografi, seperti  foto ” Hijau Negeriku” karya Adi wiratmo yang merupakan salah satu finalis dari 24 foto terbaik Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, dan juga sebagai objek gambar di kartupos, masih mampu menggoda saya untuk mengunjunginya.

Pengairan sawah di Bali menggunakan sistem Subak, sebuah sistem irigasi yang merupakan salah satu mahakarya leluhur yang ada di Pulau Dewata. Sistem ini telah dikenal sejak tahun 944 Masehi. Dengan menggunakan Subak maka penairan sawah akan terbagi dengan adil dan merata. Sebagai hasilnya adalah sebuah sawah terasering dengan susunan yang indah di pandang mata. Subak sendiri sudah di tetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada Juni 2012. Selain di Tegalalang salah satu sawah terasering yang terkenal adalah di Bali ada di daerah Jatiluwih.

Rasa Penasaran untuk melihat hijaunya sawah terasering di Tegalalang membuat saya dua kali mengunjunginya dalam kurun waktu satu tahun. Kunjungan saya pertama di sana, masih kurang tepat waktunya, sawah habis di panen sehingga tidak tersisa padi di sana.

Kunjungan saya yang kedua dengan menggunakan motor melaju melawan kantuk dan dinginnya udara pagi. Sampai di Tegalalang, saya di sambut hamparan padi menghijau, dan suasana yang masih sepi. Pagi itu hanya ada saya dan adik saya yang mengunjungi Tegalalang. Saya segera saja turun untuk berjalan di pematang sawah, melihat hijaunya padi sekaligus merasakan segarnya hembusan udara pagi. No Pic =Hoax ? Saya berikan bukti video untuk di tonton, supaya kita semua dapat dengan jelas membayangkan suasana pagi yang berpadu indah dengan hijaunya padi.

Sawah di Bali selain di pergunakan untuk menanam padi, juga mempunyai fungsi lain sebagai objek pariwisata sehingga memungkinkan petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Hal tersebut yang belum terjadi di desa tempat saya berasal. Sampai kapan para petani dapat hidup makmur dan jadi profesi yang bergengsi?

Tanpa terasa saya sudah berjalan cukup lama mengelilingi kampung, dan suara serak Kaka SLANK masih terdengar di telinga, seakan menjawab pertanyaan saya.

Kapan-kapan ? semua itu akan terjadi
Entah kapan ? para petani hidup bagai orang di kota
Nggak mungkin, nggak mungkin
Semua itu akan terjadi
103 tahun mungkin…

Entry filed under: traveling. Tags: , , .

Membedah Situs Indonesia Travel Bersampan Menuju Derawan

2 Komentar Add your own

  • 1. eloratour  |  November 30, 2013 pukul 3:53 am

    Kage,
    SLANK melagukan kritik atas terpuruknya dunia Pertanian Republik yang ngakunya Negeri Agraris dan Negeri Bahari dalam bahasa POP, yg mudah dipahami oleh kita kebanyakan orang awam …

    Bersyukur Masyarakat Bali masih menghidupi Subak,
    Juga sistem Lingko, model Teras Sawah yg masih terjaga di Desa Cancar, Kabupaten Manggarai, NTT …
    Juga sistem Kehidupan Sosial Komunitas Badui, …

    Ah, seandainya kita sadar akan Kearifan Lokal terbukti lebih sustainable dibanding Kapitalisme …

    Salam Kenal dari Lampung Bung Kage …

    Balas
    • 2. blogkage  |  Desember 2, 2013 pukul 9:35 am

      Yupp, salam kenal

      dan setuju bhw kearifan lokal memang lebih sustainable

      semoga saya segera dapat maen ke Lampung 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2013
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites