Review Film Laskar Pelangi

September 27, 2008 at 1:31 am 21 komentar

Sesuai janji gw di postingan sebelumnya kali ini gw mo nge review film Laskar Pelangi. Secara Keseluruhan Filmnnya layak tonton, walopun tidak “se-heboh” bukunya, setidaknya menurut gw. Ada beberapa penyederhanaan yang di lakukan, mungkin budget dan keterbatasan waktu tayang yang cuma 2 jam, sehingga filmya tidak bisa menggambarkan novelnya yang tebelnya kira 300 halaman.

Adegan awal gw kurang ngerasa gregetnya…kemudian tokoh-tokoh yang menonjol dalam film ini hanya 3 orang, Ikal, Mahar dan Lintang, anggota Laskar Pelangi laennya hanya seperti jadi pelengkap. Menurut gw film ini fokusnya adalah ke masalah pendidikan, pesannya agar anak-anak Indo mempunyai cita-cita yang tinggi dan untuk lebih banyak memberi.

Kemunculan Tora Sudiro walopun perannya serius tapi imej dia yang komedi begitu kuat, so penonton malah ketawa liat dia muncul. Akting Cut Mini juga bagus, kalo nominasi FFI gw rasa dia bisa masuk, akting anak-anak belitong juga natural dan bagus.

Ok Boi, worth to see gw kasih nilai 8 /10

Berita Laskar Pelangi Laennya di Blogkage

Laskar Pelangi The Movie

Pre-nonton Laskar Pelangi

Entry filed under: news. Tags: , , , , , .

Pre-nonton Laskar Pelangi Selamat Idul Fitri 1429 H

21 Komentar Add your own

  • 1. Pre-nonton Laskar Pelangi « blog-nya kage  |  September 27, 2008 pukul 1:34 am

    […] Review Film Laskar Pelangi […]

    Balas
  • 2. khalidmustafa  |  September 27, 2008 pukul 1:56 am

    Silakan liat-liat juga resensinya di http://khalidmustafa.info

    Balas
  • 3. Dy  |  September 27, 2008 pukul 4:13 am

    Menurut saya, untuk menggambarkan situasi belitong, memang film ini pas banget. Tapi secara cerita, film Laskar Pelangi ngga sebagus novel-nya tuh. Film ini seolah hanya ditujukan kepada yang udah baca novelnya aja, tapi bagi yang belum, dijamin bingung abis deh. Coba aja, dari awal ngga diperkenalkan siapa-siapa saja tokoh laskar pelangi itu. Tau-tau udah ngumpul aja 10 orang. Setuju dengan anda, hanya 3 tokoh yang menonjol. Itupun kita bisa tau karakter ke-3 tokoh itu karena dah baca bukunya. Sedangkan ke-7 tokoh lainnya gimana tuh. Apa peran mereka dalam laskar pelangi itu.
    Kedua, sutradara terlalu maksa untuk memasukkan seluruh kejadian dalam cerita ke dalam film. Ujung2nya hanya muncul secuplik2 tanpa jelas apa maksudnya. Contoh, tiba2 ada adegan orang teriak2 bawa obor malem2, sepintas mukanya flo muncul, eh besoknya dia masuk sekolah muhammadyah, lalu akrab sama Mahar dan ke pulau angker. Maksudnya apa? Siapa Flo itu, bagaimana karakternya dia, apa yang bikin dia hilang, apa yang bikin dia tertarik masuk SD muhammadyah? tanpa pernah baca bukunya, adegan itu menurut saya cuma gerbage. Trus adegan ada anak yang nguber truk itu maksudnya apa?
    Adegan karnaval juga ngga maksimal banget. Coba dibantu sama koreografer kek, biar lebih dramatis. Kejadian gatel2nya juga ngga jelas. Memang sih se bioskop pada ketawa, karena inget cerita di buku aja.
    Penggunaan artis2 senior dan beken juga ngga maksimal banget. Alex Komang muncul ngga lebih dari 5 menit. Jajang C Noor cuma buat ngomong kalau Pak Sardan susah dibawa ke rumah sakit. Robie Tumewu dengan dialeg ala betawi.. ngga banget. Rieke, yaa.. kenapa harus jutek sih.
    Cut Mini sih oke banget.. Pak Sardan juga good, apalagi anak2.. salut deh. Natural banget, udah gitu dialegnya memang pas banget. Kecuali Flo.. masa sih Flo itu bisa lolos casting dari 3000 anak di belitong.
    Best partnya adalah ekspresi cut mini saat mengetahu pak Sardan sudah meninggal, dan ekspresi Ical saat Lintang mengundurkan diri dari sekolah.
    Hal2 yang mengharu biru perasaan, mengombang ambing emosi, klimaks, ketegangan, penasaran, dll seperti itulah yang seharusnya diperkaya dalam sebuah film.
    So.. intinya film ini adalah visualisasi dari bukunya aja. Tanpa terlalu memikirkan alur ceritanya.
    Inilah review saya terhadap hasil karya putra terbaik bangsa di bidang sineas.
    That’s whay.. saya belum terlalu bangga dengan film2 Indonesia.

    Sorry

    Balas
  • 4. jel  |  September 28, 2008 pukul 4:38 pm

    mas / mbak Dy,
    untuk bisa ngerti alur cerita film ini mas ngga perlu baca novelnya. cukup simak & ikuti pesan2 dalam setiap scenenya, mas bisa ngerti alur ceritanya mau kemana.
    sayapun belum pernah baca novelnya, tapi saya betul2 mengerti pesan & alur cerita film ini. pengenalan kararkter penting dalam film ini menurut saya cukup jelas. oya nama tokoh utama film ini ‘Ikal bukan ‘Ical’ & nama kepala sekolahnya ‘Pak Harfan’ bukan ‘Pak Sardan’
    memang menurut saya setelah nonton film ini saya tidak menganggap bahwa film ini adal film terbaik saat ini. Tapi dengan segala kekurangan yang ada, film ini cukup mampu membuat penontonnya terhibur, terharu dan tertawa dan tergugah. jadi kombinasi cukup lengkap untuk sebuah film lokal yang selama ini belum pernah saya temukan di film lokal lain setelah film ‘naga bonar jadi 2’
    kalau saya rate film ini 9/10

    Balas
  • 5. bantal28  |  Oktober 4, 2008 pukul 8:03 am

    yuupp….saya setuju bahwa riri riza “lumayan memaksakan” seluruh isi novel ke dalam film, byk sebenarnya adegan yg apabila ditiadakan tdk berpengaruh ke dalam substansinya..
    ada jg perbedaan antara novel dng filmnya, contoh, setau saya ketika anak2 mengikuti cerdas cermat, yg ada dalam novel adalah sd muhammadiyah leading dlm perolehan nilai dan sd pn timah frustasi dan gambling memencet bel sehingga byk mendapat pengurangan angka, sedangkan dlm film nilai mereka berimbang (sepertinya kebanyakan film2 US dimana seringkali terjadi situasi spt ini, ex.film yg mengisahkan pertandingan2 olahraga), selain itu dlm novel terjadi perdebatan antara lintang dng guru pn timah, tp dalam film yg terjadi adalah guru pn timah tersebut malah membela lintang.
    over all lumayan lah..meskipun beyond my expectation, rate dari saya 8/10, masih dibawah “berbagi suami”.

    Balas
  • 6. ringo  |  Oktober 5, 2008 pukul 10:42 am

    akting pemeran Flo adalah kekecewaan terbesar gue nonton film ini..Flo dalam film ini sama sekali nggak tomboy, tatap matanya lemah dan bicaranya kayak orang sakit, beda banget sama Flo di novel yang trengginas bagai singa. terus pemunculan bintang-bintang ‘pop’ ( tora sudiro, robie tumewu, rieke dyah pitaloka, cut mini, buat gue sangat mengganggu, kalo divisi casting bisa mengkasting anak-anak laskar pelangi dan nyatanya mereka bisa main natural ( kecuali pemeran Flo..huh! ) kenapa nggak sekalian aja guru-guru dan lain-lainnya juga di kasting dari Belitong pula..??pemunculan bintang pop ini akhirnya membuat gue ber suudzhon kalo film ini dibalik misi mulia ‘mengkritik dunia pendidikan kita’ juga ada misi meraih pasar pula, alias jumblah penonton alias jumlah duit tentunya….maafin gue ya Allah karena udah berprasangka buruk hehe
    banyak terjadi perubahan2 yang kasar dari versi novelnya seperti Lintang yang ketemu buaya ‘adegan ketemu buaya ditengah jalannya’ di geser untuk keperluan unsur penambah ketegangan saat Lintang tak kunjung datang menjelang lomba cerdas cermat. di novelnya, ceritanya tidak begitu..kenapa film indonesia suka dengan sesuatu yang berlebihan..?? padahal bisa kok kalo pengen dramatis tapi adegannya biasa-biasa aja. tinggal sinematografinya aja dibagusin..
    gue sebenarnya pengen menghamburkan lebih banyak lagi kekecewaan setelah nonton film ini, tapi nggak mungkin ditulis disini hehehe btw gue juga akan sedikit berbaik hati memberi pujian pada Riri Riza kalo ada adegan yang bagus sekali dalam film ini..seperti anak-anak LP ( bukan Linkin Park yah!!) yang berlarian di bukit pantai belitong..explore alamnya bagus sekali…seharusnya di perbanyak tuh explore keindahan alam Belitong..yaahh, ngritik lagi hehehe emang ngritik lebih gampang yahh 😀
    buat gue film ini, ‘diluar perkiraan’ atau ‘mengecewakan’ atau ‘ekspektasi gue terlalu berlebihan’ ratingnya adalah hummmmm yahhh okelah 7,5 dari 10.
    yang suka film horror, visit blog gue horrorsekarepdewek.blogspot.com
    thanks buat yang punya blog ini.

    Balas
  • 7. Makbul  |  Oktober 5, 2008 pukul 11:36 pm

    Terus terang harapan saya dari Laskar Pelangi sebagai salah satu karya Riri Riza kelihatannya terlalu tinggi. Mengenai konten novel vs film, saya pikir masing2 bersiftat independen, film bisa saja sebuah pengembangan naskah dari Novel, jangan satu bergantung dari yang lain. Lord of the Rings, misalnya….berapa banyak persentase penonton yang telah membaca novelnya, tapi tetap bisa menikmati ceritanya….
    Kembali ke Laskar Pelangi, menurut saya, semuanya serba tanggung, sebaiknya saya uraikan satu per satu:
    1. SET.
    Belitung?? Saya tidak mellihatnya sebagai tempat yang berbeda dari tempat lain, mengapa? Penambangan timah hanya buat background cerita/ cuma sekedar lokasi (hanya dialek melayu yang membuat saya menerima kalo itu daerah belitung) Coba bayangkan, tutup mata anda sejenak, putar kembali Laskar Pelangi di kepala anda…..tempatkan di daerah macam Jawa Barat, Lombok, Maluku…..bisa kan?? Kenapa? Karena contoh ‘perbudakan’ terhadap hak anak2 kecil tak terlihat, hanya seorang bocah dalam truk dan kita tidak melihat penderitaan / kontras dari seorang bocah yang ingin sekolah namun harus bekerja kasar di pertambangan.
    2. CERITA / KARAKTER.
    Disini pengembangan dari sebuah novel, seharusnya tidak secara A-Z mengambil unsur narratif dari sebuah ‘diary’ berbentuk novel. Entah itu bisa membosankan (di film) atau malah terkesan diburu buru waktu 90mnt masa tayang yang mengakibatkan tercecernya cerita karakter2 yg penting. Karakter2 seperti Tora Sudiro dari SD tetangga, bisa saja digantikan oleh Bakri yang menurut saya aktingnya sebagai antagonis lebih bagus. Karakter seperti Jajang C. Noer , Slamet Rahardjo malah jadi sekedar penghibur, yang menurut saya, akting mereka berdua adalah yang paling bagus dari ekspresi dan dialeksasi bahasanya. Ikranegara dan Slamet Rahardjo seharusnya saling bertukar karakter. Fokus adalah kata yang hilang dari film ini. Banyaknya karakter membuat hilangnya fokus cerita. Sudut pandang / karakter utama yang diambil pun agak2 tanggung. Biarlah Ikal yang menceritakan dari sudut pandang seorang anak kecil yang polos melihat pola pikir tujuan pendidikan di belitung, ketimbang terpontang pantingnya kita sebagai penonton, berrsimpati terhadap Ikal, Bu Guru, Lintang, Kepsek, dsb.
    3. TEKNIS.
    Mungkin sebagai pengamat teknis, saya agak kaget melihat inkonsistensi pencahayaan, editing, pengambilan angle, dll. Lebih kaget lagi bahwa ada setidaknya 2 adegan yang mengambil jelas2 framing/movement film asing. 1.Ketika anak2 sedang berlarian di batu2 pinggir pantai (The Beach) 2. Tangan yang meraih ilalang pada saat adegan terakhir Lintang dan Ikal bersua kembali (Gladiator). Setelah melihat Gie dan 3 Days to Forever, saya terhenyak menyaksikan kesilapan2 teknis seperti ini. Mudah2an bung Riri dan Pak Yadi Sugandi bisa menjalani satu proses post production sekali lagi.

    Untuk sebuah film bertemakan anak2, saya lebih kagum dengan Petualangan Sherina, yang fokus terhadap tema. Sekali lagi, Laskar Pelangi terkesan terlihat ‘cari aman’. Berada di tengah2 Petualangan Sherina dan Gie. Beauty shot, terkesan hanya beauty shot semata, maaf, tapi ini bukan film untuk promosi pariwisata.

    Meskipun demikian, banyak poin positif di film ini.
    1. Casting anak2 Belitong dah cukup meyakinkan, favorit saya adalah Mahar, yang benar2 mencerminkan anak2 daerah yang polos dan serba tertarik dengan hal baru. Penggunaan majalah National Geographic adalah suatu yang benar menakjubkan.
    2.Masih jauh lebih bagus dari film2 buatan PH2 pengeruk uang, salah satunya yang menggaet 2 penata fotografi dari Hollywood, tapi hasilnya kayak sinetron di TV. Tampang bukan segalanya, yang penting isi hatinya. Tul ngga?
    3.

    Maaf bila saya terkesan terlalu kontradiktif dengan opini2 lain, bukan untuk mencari sensasi, dan bukan untuk mencari-cari kesalahan. Opini ini hanya bersifat sekedar opini/studi perbandingan dengan film2 Riri sebelumnya dan saya bukanlah siapa siapa di dunia film, mungkin ini hanya karena harapan saya yang terlalu tinggi terhadap film ini, dan saya yakin standard Riri Riza yang telah ditunjukkan oleh film2 sebelumnya, tidak terlihat di film ini.

    Balas
  • 8. riri maksa  |  Oktober 6, 2008 pukul 7:33 am

    laskar pelangi…
    hmmmmm ancur bgt…kecewa berat dgn miles,
    byk shot yg gak pantes n gak cocok..maksa bgt seh..heran!!!!

    soal cerita..???
    ancurrr berat…

    overall gw setuju dgn si makbul tuh…

    wuah kaco klo begini..bikin film ato kejar setoran seh..??

    Balas
  • 9. wew  |  Oktober 7, 2008 pukul 10:11 am

    Saya orang yang belum pernah baca novel Laskar Pelangi.

    Kalo menurut saya sih, setiap film pasti ada kekurangannya. Entah itu akting yang kaku, penceritaan yang agak lemah, maupun adegan yang reasanya terpotong-potong. Laskar Pelangi bukan film yang sempurna. Kalau boleh saya kasih rating, paling hanya 5.5/10

    Tapi film inilah yang saya akan ingat sampai akhir hayat. Bukan Lord of the Rings maupun film-film lainnya yang sangat menghibur. Saya akan ingat selalu dengan Laskar Pelangi karena film ini memberikan saya sesuatu yang lebih dari hiburan, yaitu sebuah pelajaran nyata tentang kehidupan.

    Film itu hanya kesenangan sesaat, amanat yang kita dapat dari menontonnya-lah yang akan bertahan.

    Balas
  • 10. Review Film Cinlok « blog-nya kage  |  Oktober 11, 2008 pukul 12:46 am

    […] to the topic, kemaren gw juga masih harus ngantre tiket, yupp masih ngantre coz laskar pelangi masih tayang, dan kebanyakan yang nonton adalah limpahan dari penonton Laskar Pelangi. Jadi mereka […]

    Balas
  • 11. irMa gitu  |  Oktober 13, 2008 pukul 7:21 am

    gw seTuJu….fiLmx kgak same seRuuux ma buKu yg teBelx 300 ntuu…maYbe coZ tIme….

    Balas
  • 12. oddy orlando  |  Oktober 13, 2008 pukul 9:18 am

    bukan cuman itu gue mau juga ikut main sinetron laskar pelangi

    Balas
  • 13. Goenk's  |  Oktober 13, 2008 pukul 10:25 am

    Semua yg udh dblgin d atas, gw setuju!!

    mgkn masukan bwt produser,bikin aja film smua tokoh laskar pelangi, contoh; side story of floriana.. Krna nurut gw smua tokoh lp unik n pnya kisah yg menarik..

    Balas
  • 14. Blogkage updates week 2 oct 08 « blog-nya kage  |  Oktober 13, 2008 pukul 11:42 am

    […] gw juga sempet ngantre [lagi] tiket laskar pelangi, dan aujubile antrean-nya masih nguler sampe caesar, gileeee dah kayak pada mo antre sembako aja […]

    Balas
  • 15. dita  |  Oktober 14, 2008 pukul 2:35 am

    buat aku, film sama buku nggak bisa dibandingin. masih untung filmnya dibuat.

    Biar gimanapun, ongkos produksi nggak akan bisa memenuhi imajinasi kita, kan?

    Film ini pun dibuat bukan cuma buat yang sudah baca novelnya, tapi juga buat mereka yang nggak suka baca buku.

    Jadi, hargai sajalah sineas Indonesia yang sebenarnya cuma berusaha menyampaikan pesan dari novel itu ke penonton.

    Bahwa pendidikan di Indonesia memang masih bobrok.

    Nikmati saja filmnya..

    Balas
  • 16. suryow  |  Oktober 14, 2008 pukul 4:27 am

    wah saya belum nonton…

    Balas
  • 17. kotoko  |  Oktober 14, 2008 pukul 5:37 am

    film emang g kn bsa muat/ nampilin semua isi novelnya, gila aja po masak novel segitu banyk halamannya mau difilmin bisa2 sepuluh jam aja belum selesai tu. emangnya gampang apa bikin film.

    menurutku sih dengan adanya film ini paling gak pesan2 yg ingin disampaikan ke semua org indonesia untk jgn menyerah dalam meraih cita-cita udah tersampaikan khususnya buat para pecinta film yang malas membaca. fungsinyakan gitu.

    gak ada yg sempurna di dunia ini pasti ada kesalahannyakan, namun jika diukur manfaatnya lebih banyak tu dibanding kesalahan2 yg dicari2 di dlm film ni.

    kita harus berani menghargai hasil karya orang lain dong,,,,,,,,, ya menurut aku sih ni salah satu film yang terbagus diantara film2 di indonesia (emang da berapa bnyk film yg bgs sih????) daripada film2 yg lainnya yg sama sekali gak mutu bgt yg hanya mengeksploitasi aj.

    buat siapapun yang ingin berkarya asalkan bermutu dan tetap memegang nilai2 agama, aq dukung deh

    semoga dengan film ni banyak org yg akan tersadar bahwa PENDIDIKAN tu SANGAT PENTING dan HARUS menjadi PRIORITAS UTAMA.

    dan semoga aja para petinggi pemerintah yang dah pada nonton semoga sadar juga untuk memperbaiki kondisi pendidikan indonesia ingat dewan2 yg terhormat kondisi spt yg di film laskar pelangi sampai sekarang masih banyak terjadi di negara kita tercinta ini.

    Good Luck !

    Balas
  • 18. aaaaaaaaaa  |  Oktober 15, 2008 pukul 7:24 am

    BT NI BLOG

    Balas
  • 19. taryan  |  Oktober 29, 2008 pukul 1:30 am

    kalau menurut saya Filmnya lebih bagus daripada novelnya laskar pelangi, riri reza dan mira lesmana sangat cerdas membawa alur cerita kepada yang lebih realistis.

    Dalam novel mahar menyanyikan lagu Tennese Waltz karya Anne Muray sedangkan dalam film mahar menyanyikan lagu seoraja yang merupakan lagu melayu. ada juga lintang yang sudah pandai memakai rumus integral tanpa adanya perhitungan secara tertulis, perdebatan lintang dan drs zulfikar guru fisika teladan pn timah yang terlalu meninggi.

    lagu begadang-2 dalam film memang merupakan lagu yang lagi ngetren dibelitong pada tahun itu.

    sedangkan di film cerita lebih realistis dan natural.

    Andrea terlalu berlebihan dalam menulis sebuah karya sastra tanpa disertai data-data yang benar.

    Adanya beberapa bagian yang ditiadakan dalam film seperti trapani yang menjadi gila karena ketergantungan sama ibunya, societeit de limpai yang mengunjungi pulau lanun, tuk bayan tula. adalah merupakan hal yang wajar karena banyak hal-hal yang dianggap tidak mungkin dilakukan oleh anak seusia itu dan disisi lain dianggap sisi negatif seseorang sehingga tidak patut dipertontonkan atau di tiru

    dan dalam hal ini pembaca laskar pelangi jangan terlalu berlebih-lebihan dalam membaca atau memuji laskar pelangi, andrea terlalu emosional dalam menulis. dan andrea pun mengakui kalau filmnya lebih bagus dari novelnya.

    so bagi pembaca yang sekaligus menonton filmnya jangan kecewa terhadap filmnya. justru harus lebih kritis terhadap novelnya…

    Balas
  • 20. rizal  |  November 4, 2008 pukul 2:00 pm

    demi kemajuan kualitas dan kematangan sutradara,..saya pun sangat setuju apabila banyak adegan yang menurut imajinasi penonton terkesan dipaksakan,..
    namun dibalik itu semua jujur saya katakan..film laskar pelangi sangat membuat adrenalin qw tumpah ruah,..
    mungkin karna aqw manusia bukan malaikat,..melihat ironi realita pendidikan yang di ungkapkan oleh lintang cs sungguh menyentuh kemanusiaan qw..
    sekali lagi bagi yang belum menyadari bahwa betapa gurita telah menggerogoti hak didik bagi generasi masa depan,..
    ini takkan kita biarkan,..
    tentunya menegur bapak-bapak kita yag terlalu lama menjalin asmara dengan korupsi,..
    saudara qw berilah teguran pada mereka yang masih senang dengan lembaran rupiah,..
    toh dengan kita hanya diam tidak akan menjauhkan kemiskinan dari lingkungan kita
    baik itu miskin kejujuran,..kepercayaan,..apalagi miskin harga diri,..
    sekali lagi berbuatlah sekecil apapun itu,..
    negara ini sudah cukup tua untuk menanti generasi muda yang brilian,..
    jangan biarkan sampai indonesia ditelan hayalan kekayaan semu yang telah menjadi umpan oleh bapak-bapak kita terdahulu,..

    Balas
  • 21. collll  |  November 7, 2008 pukul 7:53 am

    menurut aku laskar pelangi… gimana ya… aku baca dari atas aku setuju sama rizal [dari pada cape’2]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kategori

Add to Technorati Favorites