Jatuh bangun Thomas Effendy berbisnis kaus gaul merek ie-be dan CabLines

Agustus 27, 2008 at 12:09 am 8 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 52, Tahun XI, Minggu IV September 2007

Menjaring Hoki Tulang Iwak Bandeng
Jatuh bangun Thomas Effendy berbisnis kaus gaul merek ie-be dan CabLines

Sukses meniti karier di sebuah perusahaan asing tidak membuat niat Thomas Effendy untuk menjadi pengusaha jadi surut. Bersama adiknya, Thomas pun berjualan baju untuk orang gaul: ie-be dan CabLines.

Kalau Anda rajin jalan-jalan di pusat perbelanjaan, mungkin Anda pernah melihat konter kaus dengan merek ie-be. Ini adalah merek salah satu baju kaus produksi dalam negeri, seperti halnya C-59 atau H&R. Kaus yang berlogo tulang ikan ini biasanya memiliki desain yang gaul dengan warna-warna cerah. Maklum saja, ie-be memang didesain sebagai kaus untuk anak muda yang gaul.

Saat ini, kaus ie-be boleh dibilang sudah cukup terkenal. Bahkan, penggemar kaus gaul itu tampak makin banyak. “Pasar kaus untuk anak muda dan anak gaul ini ternyata bagus,” ungkap Thomas Effendy, Presiden Komisaris PT Central Aneka Busana, produsen kaus ie-be. Makanya, jangan heran kalau sekarang ie-be memasang gelar Clothing Indonesia Number One.Tapi, posisi wahid ini bukan dicapai dengan jalan mudah. Banyak masalah yang harus dihadapi Thomas sebagai pendiri ie-be untuk membesarkan merek ini.

Thomas merintis usaha kaus pada tahun 1996. Saat itu Thomas memang ingin menjalankan sebuah bisnis. Hal ini bukan didorong karena Thomas butuh penghasilan tambahan, lo! Soalnya, waktu itu Thomas sudah memiliki jabatan empuk, yakni Assistant Vice President Finance Charoen Pokphand Indonesia.

Thomas mengaku sudah lama menyimpan keinginan untuk berwirausaha. “Saya memang sudah bertekad, pokoknya, saya harus jadi entrepreneur,” kenang pria yang berasal dari Pontianak ini. Tak tahunya, niat yang menggebu-gebu tadi sulit dilaksanakan. Pasalnya, perusahaan tempat Thomas bekerja melarang karyawannya berbisnis.

Salah segmen pasar

Hanya, pria kelahiran tahun 1958 ini tidak kurang akal. Untuk mengakali ketentuan itu, Thomas hanya memosisikan dirinya sebagai investor. Urusan operasional dan manajerial bisnis diserahkan kepada adiknya.

Kebetulan, sebelumnya si adik yang bernama Thomas Subekti bekerja di perusahaan pakaian dengan merek Hammer. Dus, setelah sang adik keluar dari pekerjaannya, Thomas bersaudara pun mantap menjalankan bisnis.

Awalnya Thomas menyewa sebuah ruko di Penjaringan dan merekrut empat orang untuk membantu produksi. Modalnya, menurut pengakuan Thomas, hanya beberapa juta rupiah. “Saya sudah lupa,” katanya. Dengan mengusung merek Cab Equipment, Thomas mulai berbisnis kaos. “Nama Cab itu singkatan dari Central Aneka Busana, nama perusahaannya,” kenang bapak dua anak ini, terkekeh. Awalnya, Thomas mencoba masuk ke segmen pasar dewasa.

Saat itu, model jualan yang dipakai Thomas masih door to door. Thomas meminta bantuan teman-teman dan kenalannya untuk menjual kaos bikinan mereka.

Malangnya, dewi fortuna belum berpihak pada Thomas. Baru setahun berbisnis, usaha Thomas sudah kena gonjang-ganjing krisis moneter. Saat itu daya beli masyarakat benar-benar rendah, sehingga Thomas kesulitan menjual produk yang telanjur dibikin.

Gawatnya lagi, bulan Mei 1998 terjadi kerusuhan besar. “Waktu itu bisnis saya sudah hampir mati,” tutur pria yang sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Charoen Pokphand Indonesia ini. Kata Thomas, saat itu produksi kausnya sempat benar-benar berhenti.

Si adik yang menjadi pengendali perusahaan pun semakin khawatir dengan kelangsungan bisnis. Maklum saja, demi menjalankan bisnis, Subekti sampai meninggalkan pekerjaannya. Namun, Thomas meyakinkan adiknya untuk bersabar dan tetap optimistis keadaan akan membaik.

Untunglah, tahun 1999 pabrik Thomas sudah mulai bisa berproduksi lagi. Bahkan, tahun itu Thomas mulai memasarkan produk-produknya lewat department store. “Pertama kali kami masuk lewat Ramayana,” ujarnya.

Namun, bisnis Thomas belum juga berlangsung mulus. Sebabnya: Thomas menyasar segmen pasar yang salah. Dus, beberapa kali Thomas mengubah segmen pasarnya. Mulai dari segmen dewasa, menengah ke atas, sampai menengah ke bawah.Sukses baru dirasakan Thomas saat meluncurkan merek baru. Pada tahun 2001, Thomas mengeluarkan baju kaus dengan merek Iwak Bandeng. Sejak awal, Thomas menyasar segmen anak muda dan anak gaul lewat merek ini. Rupanya, hoki Thomas memang di segmen ini. Merek Iwak Bandeng pelan-pelan jadi terkenal.

Kalau dirunut, Iwak Bandeng jadi terkenal karena usaha Thomas untuk mempromosikan merek ini. Thomas tidak segan-segan menyewa artis top seperti Irfan Hakim, Raffi Ahmad, Nadia Vega, dan Alyssa Soebandono sebagai ikon kausnya. Thomas juga rajin membawa artis-artis tadi untuk roadshow keliling Indonesia demi memperkenalkan kausnya.

Selain itu, Thomas juga menyingkat nama Iwak Bandeng menjadi ie-be. Alasannya, “Supaya terdengar lebih gaul,” kata Thomas yang sekarang memiliki 900 karyawan untuk garmen ini.

Biarpun ie-be sudah berenang dengan sukses, Thomas tidak melupakan merek Cab Equipment. Thomas mengubah merek tersebut menjadi CabLines, dan memasarkannya untuk segmen eksekutif gaul. Strategi ini sukses.Sekarang, Thomas bersaudara mulai memetik hasil jerih payahnya. Jualan door to door pun sudah tak lagi dilakoni. Saat ini, ie-be dan CabLines sudah bisa ditemukan di enam gerai dan 439 konter di seluruh Indonesia.

+++++

Tetap Ingat Keluarga dan Kampung

Jangan menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya. Prinsip ini rupanya dipegang teguh oleh Thomas Effendy. Anak keenam dari sepuluh bersaudara ini selalu mengingat dari mana dia berasal dan keluarga yang telah membesarkannya. Lahir dari orangtua yang bekerja sebagai pemilik warung kopi membuat Thomas benar-benar mengerti apa arti kerja keras. Selain itu, Thomas juga sadar, walaupun saat ini dia sukses sebagai profesional dan juga sukses berbisnis, tidak semua anggota keluarganya bisa sesukses dia. “Artinya, rezeki saudara-saudara saya yang lain ada yang dititipkan lewat saya,” tutur Thomas.

Karena itu, bila ada anggota keluarganya yang kemalangan, misalnya sakit keras namun tidak punya cukup dana untuk berobat, Thomas tidak segan membantu saudaranya tersebut.

Selain itu, Thomas juga tidak pernah melupakan kota tempat dia dilahirkan, yaitu Pontianak. Dus, jangan heran kalau dari enam gerai ie-be dan CabLines yang ada di Indonesia, tiga di antaranya, ternyata berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Bahkan,Thomas memilih Pontianak sebagai lokasi gerai ie-be yang pertama. “Kalau bukan kita yang orang sana yang membangun dan membesarkan Pontianak, siapa lagi?” ujar dia. Wah, salut!

Harris Hadinata

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , , , , , , , , .

Marketing Narkoba ala Pertamina Kisah di musim dingin ( true story)

8 Komentar Add your own

  • 1. andri  |  September 19, 2008 pukul 5:59 pm

    sukses terus PT CENTRAL ANEKA BUSANA

    Balas
  • 2. agus  |  Januari 29, 2009 pukul 4:29 am

    jadi pengen tahu masa gimana kehidupannya mulai dari lahir smp seperti sekarang ini… sdh ada yg nulis blum ya? artikel di kontan lbh lengkap ato sm aja dg ini? tlg infonya dong. trims

    Balas
  • 3. Verry  |  Februari 9, 2009 pukul 6:55 am

    salam kenal buat mas thomas,,perkenalkan nama saya verry asal kota palembang saya salut dengan perjuangan mas thomas saat ini juga saya mempunyai cita cita membuka usaha rumahan pembuatan kaos olah raga tetapi belum berjalan alias masih meraba didalam mencari order kalau mas thomas tidak keberatan tolong suport dari mas thomas agar saya bisa maju dan sukses seperti mas thomas usaha ini juga berawal dari usaha orang tua yaitu usaha pembuatan pakaian seragam dll tetapi tekat saya dari kecil ingin sekali mengembangkan usaha tersebut apalagi bisa seperti mas thomas sesudah dan sebelumnya terima kasih mas thomas contak person : 0813 67 202 987 /0819 77 89 82 83 Email : Very_Fals@yahoo.com

    Balas
  • 4. Rev's  |  Februari 27, 2009 pukul 1:48 pm

    Thank’s untuk postingannya, sangat menginspirasi, pastinya boleh ambil pelajaran berharga dari kisah sukses pak Thomas.

    Sirait

    Balas
  • 5. harry  |  April 3, 2009 pukul 6:54 pm

    Inspiratif sekali..ayo dong yg lain jg kalah..

    Balas
  • 6. herikaryadi  |  Mei 19, 2009 pukul 8:06 am

    Saya Pribadi
    setelah membaca kisah ini makin lebih semangat,karena perjuangan ku selama ini yg mungkin bisa dikatakan melihat kesuksesan,belum sebanding dengan kisah sukses p thomas.

    Balas
  • 7. shinta  |  Mei 22, 2009 pukul 6:15 am

    salut untuk bapak atas perjuangannya mencapai kesuksesan..btw dlu tahun 2007 aq pernah kerja di Cablines n IE BE juga loh, di jogja..

    Balas
  • 8. Andrie  |  Maret 13, 2012 pukul 5:03 pm

    Di mana alamat grosirnya ie be gan? Saya sangat berminat. Saya susah mencarinya. Mohon infonya. Tlg hub: 085213355733

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

Add to Technorati Favorites