Membandingkan tawaran dua waralaba kafe

Mei 30, 2008 at 12:55 am 5 komentar

USAHA
Tabloid KONTAN No. 33, Tahun IX, 23 Mei 2005

Ganteng Mana: Miko atau Bean?
Membandingkan tawaran dua waralaba kafe

Bila ingin menyeruput sedapnya bisnis kafe, dua penawaran waralaba baru bisa menjadi pilihan. Mau pilih Miko Coffee asal Belgia yang di sononya sudah berumur 204 tahun atau Beanstock Coffee and Tea? Dalam tempo 1-3 tahun investasi sudah impas.

Dulu kopi identik dengan minuman bagi orang-orang yang sudah berumur. Masih ingat, kan, ketika kakek nenek, opaoma, atau ayah dan teman-temannya menyeruput secangkir kopi hangat di pagi hari? Ketika kita ingin mencicipi lezatnya bubuk cokelat yang diseduh dengan air hangat itu, acap mereka melarangnya. Kalaupun diberi, paling seteguk dua teguk. “Masih kecil jangan kebanyakan minum kopi,” begitu nasihat yang selalu mereka ucapkan.

Tapi, zaman sudah berubah. Kini, kedai kopi modern yang beken disapa kafe sudah menjamur di mana-mana dan selalu dijejali pengunjung segala usia. Bahkan kini,nongkrong di kafe sudah menjadi tren dan gaya hidup kaum eksekutif.

Di kafe orang betah ngupi bareng berjam-jam. Tema obrolan bermacam-macam mulai dari masalah bisnis, hobi atau sekadar menunggu kemacetan lalu lintas lenyap. Kalau sudah begitu, orang tak segan merogoh koceknya cukup dalam. “Saya biasa menghabiskan Rp 100.000-Rp 200.000 sekali nongkrong,” ujar seorang pengusaha rumah produksi.

Gaya komunitas kafe yang enteng membuka dompet ini mendorong Ashari Yusuf membuka kedai kopi sendiri. Mei 2002, pecinta kopi ini mendirikan PT Adi Tata Nusindo sebagai pemilik merek Beanstock Coffee and Tea. Saat ini seluruh proses produksi kafe ini berbasis di Singapura. Ashari sendiri sudah mengoperasikan dua gerai dan akan membuka dua gerai baru Juni nanti. Seluruh gerai itu berlokasi di Batam.

Untuk memperluas gerainya ke seluruh Indonesia, sejak tiga bulan lalu Ashari menawarkan waralaba Beanstock Coffee and Tea yang mengusung konsep kopi bar. Jangan harap dapat menemukan minuman beralkohol di Beanstock. “Bukan karena saya penganut vegetarian, tapi karena kami ingin kafe ini sehat,” tandas Ashari. Makanya, susu dan bahan lainnya di kafe ini memakai yang low fat.

Beanstock menganut waralaba putus

Kafe ini fokus pada minuman kopi dan teh serta beberapa variannya. Ada 30 jenis minuman kopi yang dijual, seperti single espresso, café mocha, dan cappuccino. Untuk sajian nonkopi, Beanstock memiliki ice blended, hot chocolate, dan hot vanilla. Selain itu tersedia juga 30 aroma teh kelas dunia, 12 rasa jus botolan, 11 rasa es krim, lima rasa ice blended dan sembilan rasa smoothies. Adapun makanan yang tersedia mulai dari muffin hingga tiramisu.

Asyiknya, Beanstock menganut waralaba putus (independent franchise). Maksudnya, seluruh operasional dikelola terwaralaba, tapi pengawasan tetap di tangan pewaralaba. Makanya media promosi dalam bentuk apa pun harus diajukan dulu ke pewaralaba.

Bahan yang harus dipasok dari pewaralaba hanyalah yang bersifat khas seperti biji kopi, teh, madu, sirop, gula, dan bubuk cokelat. Sedangkan bahan lainnya seperti susu cair, susu kental, es batu dan air mineral boleh dibeli melalui pemasok setempat. Begitu juga kue, roti atau makanan bisa bekerja sama dengan produsen setempat. “Tapi jenis dan rasanya kita yang menentukan, ini demi keseragaman dan kualitas,” tegas Ashari.

Target pengunjung Beanstock mulai dari anak sekolah, remaja, eksekutif muda hingga paruh baya. Karena itu, harga kopi atau teh beragam mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 21.000 per cangkir. Biasanya setiap pengunjung menghabiskan Rp 15.000-Rp 30.000 sekali nongkrong.

Dengan begitu, menurut Ashari, penjualan Beanstock bisa mencapai Rp 800.000 setiap hari kerja. Di akhir pekan bisa mencapai Rp 1,2 juta-Rp 2 juta sehari. “Selisih marginnya lumayan besar, lo,” terang Ashari. Ia memberi contoh 1 kg kopi seharga Rp 175.000 bisa menghasilkan 130 cangkir yang rata-rata dijual Rp 10.000 secangkir. Total jenderal, pendapatan yang diperoleh Rp 1,3 juta. Dengan margin yang cukup besar, investasi awal Beanstock diperkirakan bakal balik dalam 2-3 tahun.

Tertarik? Siapkan saja duit Rp 195 juta. Dari jumlah itu sebanyak Rp 145 juta digunakan untuk renovasi ruang, papan nama, berbagai perlengkapan, dan bahan baku untuk dua bulan. Bahan baku itu meliputi stok kopi, susu cair, teh, bubuk ice blended, sirop, es krim, sirop moka, dan smoothies. Yang Rp 50 juta lagi merupakan franchise fee untuk lima tahun plus promosi dan pelatihan karyawan. Terwaralaba juga wajib membayar royalty fee 3% dari omzet tiap bulan.

Di Miko tanpa iuran royalty

Soal lokasi ditentukan pewaralaba. Syarat utamanya di lokasi utama, minimal di ibu kota kabupaten. Oh, ya, pewaralaba mengutip juga biaya survei lokasi. Daerah Sumatra biayanya Rp 1,5 juta, Jabotabek Rp 2 juta, Jawa Rp 2,5 juta; Sulawesi, Kalimantan, dan Bali Rp 3 juta. Biaya survei ini dikembalikan bila kerja sama waralaba terealisasi.

Kafe lain yang juga gencar menawarkan waralaba adalah Miko Coffee lewat bendera PT Miko Pertama Indonesia. Kedai kopi ini berasal dari Belgia dan berdiri sejak Juli 1801. Sejak tahun 2003, Miko masuk di Indonesia, dan kini memiliki dua outlet di Yogyakarta dan Jakarta.

Seluruh bahan baku diimpor langsung dari Belgia. Ragam sajian kopi di Miko hampir sama dengan kafe lain. Hanya saja Miko memiliki filter kopi. “Dengan coffee filter, semua mutu rasanya dijamin. Minum di mana saja, di tempat mana saja, rasanya sama,” jelas Paulus Kurniawan, Presiden Direktur PT Miko.

Harga jual kafe Miko antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per cangkir. “Sehari paling rendah bisa 150 cups,” cetus Paulus. Marginnya 20%-30%.

Paulus mengenakan franchise fee Rp 100 juta untuk tempo sembilan tahun. Ini untuk kafe yang berlokasi di mal. Fee antara lain digunakan untuk pelatihan, dan untuk sepuluh terwaralaba pertama baru dibayar setelah satu tahun beroperasi. “Jadi, tahun pertama gratis,” ucap Paulus berpromosi. Asyiknya lagi, kafe Miko tak mengenakan royalty fee sepeser pun.

Selain franchise fee tadi, terwaralaba harus menyediakan dana sekitar Rp 150 juta untuk renovasi tempat agar sesuai dengan standar Miko Coffee. Di samping itu, masih ada biaya untuk berbagai peralatan kafe berkisar Rp 60 juta-Rp 70 juta. Dengan memperhitungkan berbagai biaya dan pendapatan, Miko diperkirakan mencapai titik impas sekitar 1,5 tahun.

Nah, kedai kopi mana yang paling cocok dengan selera Anda?

Ahmad Febrian, Asih Kirana W., Fifi Yulianti

Tabel simulasi perhitungan bisa di donlod di SINI

Tulisan Lain yang Berhubungan

Peluang waralaba kedai kopi Gloria Jeans Coffees

Tawaran waralaba Kedai Kopi dan It’s Coffee

Menjajaki waralaba kedai kopi Cup & Cino

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , , , , .

Tawaran kerja sama usaha Salon Lellidewi Menjajaki waralaba kedai kopi Cup & Cino

5 Komentar Add your own

  • 1. avy  |  Mei 30, 2008 pukul 4:54 pm

    wah gila mahal juga…….
    Kopi 1 Kg Rp.175 rebu hhahahahaha mahal amat yak
    saya beli sekilo robusta arabica cuman 30rebu sampe 40rebu.

    Balas
  • 2. bona  |  Oktober 6, 2008 pukul 8:48 am

    kira2 ada tawaran lebih murah lagi gak

    Balas
  • 3. COFFEE BREAK  |  Januari 28, 2009 pukul 7:54 am

    CARZY PROMO !
    Menyambut awal tahun 2009

    COFFEE BREAK
    membuka kesempatan untuk :
    – Para pebisnis (entrepreneur), mahasiswa, investor atau siapun Anda untuk memiliki coffee house dengan harga special..

    Hanya Khusus untuk 20 MITRA..
    – BONUS : MESIN KOPI, POTONGANH FEE MANAGEMENT, FREE FEE ROYALTY !

    SEMUANYA MUNGKIN HANYA DI COFFEE BREAK?

    wait!
    Jika Anda ingin menjadi Barista?
    Segera gabung bersama kami…

    Semuanya mungkin…Hanya ada di COFFEE BREAK?

    Segera hubungi marketing di 0341-7700020 atau SMS di 085.234.998808 SEGERA!

    INGAT HANYA untuk 20 MITRA SAJA DI SELURUH INDONESIA !

    *Promo ini berlaku hingga bulan Februari 2009

    SEGERA !
    hubungi marketing di 0341-7700020 atau SMS di 085.234.998808

    Jangan sampai pesaing Anda, di kota Anda mendahului Anda…

    PROMO ini berlaku untuk 1 kota 1 MITRA !

    ” sudahkah Anda coffee break hari ini ?”

    Balas
  • 4. Satya  |  Mei 5, 2009 pukul 7:57 am

    Wah buat yang mau buka coffeeshop…saya menawarkan diri menjadi barista dgn pengalaman sy di hospitality industries selama 7tahun…terakhr sbg spv.outlet selama 3 tahun.

    Balas
  • 5. kiki amalia  |  Juli 6, 2009 pukul 2:55 am

    menurut saya,miko coffee terlalu mahal lg pula,,apa bedany dgn kopi dipinggir jalan? jgn mahal dong bpk paulus

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites