Sukses Ferry Mudjianto berbisnis konveksi

Mei 27, 2008 at 12:32 am 5 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 41, Tahun X, 17 Juli 2006

Menjahit Laba di Kaus Bola
Sukses Ferry Mudjianto berbisnis konveksi

Bermodal dua mesin jahit, Ferry Mudjianto memulai bisnis konveksi di Bandung. Bisnisnya berkembang pesat, tapi nyaris KO dihantam krismon. Untunglah Ferry tertolong oleh para penggemar sepak bola dan peritel Italia.

Sepak bola memang mendatangkan berkah. Bukan hanya bagi para pemain, pelatih, dan ofisialnya, lo. Berkah laba juga hinggap pada pengusaha yang menyeser bisnis pernak-pernik sepak bola. Maklum saja, yang namanya penggemar sepak bola itu ada miliaran jumlahnya.

Para penggemar bola ini tidak sayang membelanjakan uang untuk membeli kaus dan pernak-pernik tim idola mancanegara. Jika tidak kuat membeli kaus atau pernak-pernik berlisensi dari luar negeri, bolehlah memiliki versi murahnya di pasar lokal. Nah, dari penggemar inilah bisnis konveksi milik Ferry Mudjianto bisa selamat mengarungi krisis moneter.

Ketika krismon terjadi pada pertengahan tahun 1997, Ferry merasakan betul pukulan bagi usahanya ini. Selama berbisnis, Ferry mengandalkan pesanan konveksi perusahaan besar seperti Goodyear dan Astra. Nah, pada saat krismon, pesanan mereka mandek. “Padahal, saya sudah sangat bergantung pada mereka,” kenangnya. Ferry yang waktu itu menghidupi 600 karyawan jadi pusing tujuh keliling.

Di saat seperti itu, hajatan Piala Dunia 1998, disusul Piala Eropa 2000, menjadi penyelamat. Ferry berkeliling Bandung, Jakarta, dan Surabaya. “Saya pengin tahu, apakah toko-toko di sana menjual baju bola, seperti Manchester United dan AC Milan,” katanya. Ternyata tidak ada yang membuka usaha di celah menganga itu.

Ferry pun lantas menyambar peluang. Ia mempelajari literatur dan fokus menggarap kaus klub dari Italia. “Yang penting saya tidak melanggar hak cipta,” tutur sarjana hukum Universitas Parahyangan (Unpar) ini. Caranya adalah dengan mencetak logo klub, seperti MU di kaus bikinannya. “Logo tim kan belum terdaftar di sini. Kalau merek seperti Umbro, Adidas, sudah terdaftar,” kata dia.

Membuka usaha dengan modal dengkul saja

Usai menyablon kaus, Ferry langsung menyulap garasi rumahnya menjadi gerai kecil-kecilan. Selama berbisnis, Ferry tidak punya pengalaman berdagang ritel. Alhasil, kaus bola itu dipajang sekenanya dengan ditempel di kaca. “Hari itu, belum beres saya memajang kaus sudah dapat duit Rp 3 juta,” ujarnya sembari tertawa lebar. Dalam seminggu Ferry pun mendapatkan uang untuk menutup gaji ratusan karyawannya. “Selamatlah Vilour, cashflow juga terjaga,” ungkap ayah dari dua anak ini.

Sebenarnya Ferry sudah merintis bisnis sejak masih kuliah di Universitas Parahyangan, sebelum tahun 1980. Waktu itu Ferry kos di Jalan Bungsu dan memiliki tetangga bernama Cik Siok Jin yang punya pabrik kaus. Ferry kerap main ke situ, sehingga sedikit demi sedikit tahu seluk-beluk bisnis konveksi. Suatu ketika, teman-teman Ferry di kampus memesan kaus untuk calon mahasiswa sebanyak 400 potong. “Harganya masih Rp 600, saya jual Rp 900,” kenangnya. Ferry berhasil mengantongi laba Rp 120.000. Jumlah yang sangat besar, karena uang kosnya sebulan kala itu hanya Rp 6.000. Karena labanya besar, Ferry keterusan menjadi calo kaus.

Tanggal 1 April 1983, Ferry memutuskan untuk membuka usaha, bersama calon istrinya yang bernama Esther. “Saya cuma modal dengkul,” ujarnya. Dari hasil menjadi calo kaus, Ferry bisa membeli dua mesin jahit, merekrut dua karyawan, serta mengontrak rumah di Dipati Ukur. “Saya sendiri yang memotong kain, pacar saya menangani pembukuan,” sambung Ferry lagi.

Kalau kebetulan mendapatkan order besar, Ferry melimpahkan sebagian kepada Cik Siok. Berkat pesanan kaus Hari Anak Nasional yang mencapai 8.000 potong, Ferry bisa membeli kantor yang selama ini dikontraknya. “Saya beli dengan harga Rp 13 juta,” ucapnya.

Selama berbisnis dengan nama CV Kartika itu Ferry giat mencari order ke mana-mana. Ia menyetir mobil sendiri, memburu sekolah sampai Cilacap. “Saya tangani seragam olah raga mereka,” ujar Ferry. Dari perburuan order ke sekolah-sekolah, Ferry bisa mengambil margin 100%. Para klien tidak ada yang komplain atas harga yang ditentukan Ferry. “Wong waktu itu saingan masih sedikit dan servis saya bagus dengan sistem jemput bola,” dalihnya.

Usai menggarap seragam olah raga sekolah, Ferry ganti membidik pembuatan seragam dari perusahaan BUMN di Bandung. “Saya juga menggarap baju satpam mereka sampai sepatunya,” ujar Ferry. Selanjutnya, Ferry melebarkan pasar ke perusahaan swasta seperti Unilever dan Goodyear.

Setelah mendapatkan banyak pelanggan tetap, pada tahun 1996 Ferry mengganti nama perusahaannya menjadi Vilour. Nama ini, menurut dia, sebenarnya adalah singkatan dari Vici Lourencia yang diambil dari nama orang tuanya. “Artinya, kemenangan saya ini juga berkat doa orang tua,” ujarnya. Selain mengganti nama, Ferry juga kian serius menggarap bisnisnya.

Suka memecat karyawan yang pintar

Namun, malang tak dapat ditolak karena krismon terjadi. Perusahaan yang menjadi pelanggan Vilour pun memotong anggaran promosi dan seragam karyawan. “Saya pikir, kalau enggak ada inovasi, matilah usaha saya,” cetus Ferry. Ia pun lantas banting setir pada bisnis kaus bola.

Selain diselamatkan bisnis kaus bola, Ferry juga kedatangan pelanggan baru. Namanya Fabiscio Korlanini, pengusaha department store Italia. “Dia order training suit Nike, karena dia sudah pegang lisensi,” ujar Ferry. Untuk tahap pertama, Fabiscio memesan 20.000 setel dan dijual di 16 gerai department store miliknya di Italia.

Kini pesanan dari Italia tersebut menjadi tulang punggung bisnis Vilour. “Kontribusinya mencapai 60%,” ujarnya. Maklum, jualan ke mancanegara dilakukan dalam dolar. Adapun penjualan kaus bola Vilour di dalam negeri hanya mencakup 30% bisnis Ferry. Sayang, ia enggan menyebutkan omzet bisnis Vilour. “Yah, cukuplah untuk makan satu kampung. Kampung Vilour, maksudnya,” ungkap Ferry.

Ferry tetap mempertahankan 600 karyawan yang mengerjakan order Vilour. Namun, Ferry juga mengaku gemar memecat karyawan yang dianggap pintar. “Saya beri pesangon, lalu saya kasih modal untuk berdiri sendiri,” ujarnya. Dengan cara ini, Ferry membikin mitra-mitra dalam jaringan bisnisnya. Ferry pun bisa dengan leluasa menerima order berjumlah ribuan yang waktu pengerjaannya mepet. Soalnya, ia tinggal bagi-bagi saja order tersebut kepada para mitra bisnis. “Kalau enggak ada kerjaan dari saya, mereka bisa terima order orang lain,” tuturnya.

Sesuai dengan perkembangan, Ferry juga tidak ketinggalan tren distro. Bulan ini ia membikin merek Attitude, untuk membidik anak SMP dan SMA. Bermodal Rp 100 juta, Ferry membuat kaus, mug, topi, dan tas Attitude. “Nanti akan saya coba masukin ke kampus-kampus juga,” kata pemilik enam gerai di enam kota besar ini.

Tentu saja Ferry tetap tidak meninggalkan penggemar bola yang menyelamatkan bisnisnya di kala krisis. Ia menjadi sponsor beberapa klub bola di daerah. Cara ini juga diyakini Ferry sebagai strategi pemasaran yang pas. “Nanti kalau produk saya sudah kuat di daerah, semoga bisa tembus ke nasional,” tutur Ferry yang bercita-cita bisa menjadi sponsor PSSI.

+++++

Bakat juga Penting

Selama dua puluh tiga tahun berbisnis, rupanya Ferry Mudjianto meyakini satu hal. Ia percaya bahwa perasaan merupakan hal yang sangat penting dalam berbisnis. “Tapi, itu talenta, ya!” ucap lelaki berusia 40 tahun ini. Ferry menyarankan agar orang yang merasa tidak punya talenta jangan coba-coba berbisnis. “Mendingan dia jadi profesional saja,” kata Ferry yang hobi menjelajah alam.

Bagi Ferry sendiri, terjun ke dunia bisnis juga bukan tanpa alasan. Sarjana hukum ini tidak berminat merintis karier di bidang hukum. Feeling untuk bisnis diperolehnya dari pengalaman menjadi calo kaus calon mahasiswa di Unpar. Namun begitu, anak kelima dari enam bersaudara ini mengaku tidak berminat ikut ayahnya buka usaha bengkel. “Saya enggak suka, karena bengkel itu kotor,” cetusnya.

Menilik dari pengalaman masa kecil, Ferry tidak akan memaksa kedua anaknya untuk melanjutkan Vilour. Waktu kecil, menurut Ferry, ia terkenal sebagai anak yang suka membantah, tidak pernah anteng di rumah, banyak pacarnya, dan sulit diatur. “Tapi, orang tua tidak pernah memaksa saya harus begini atau begitu,” tuturnya. Itu sebabnya, ia enggan mengarahkan kedua anaknya tersebut. Soalnya, “Nanti kalau dia gagal, kita sendiri yang sedih,” lanjutnya.

Hendrika Y., Aprilia Ika (Bandung)

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , .

Cara Cepat Daftar Adsense Mencicipi peluang kerja sama rumah makan Cibiuk

5 Komentar Add your own

  • 1. Forum Investor  |  Mei 29, 2008 pukul 3:12 am

    Ternyata untuk menjadi pebisnis, juga perlu bakat.

    Balas
  • 2. bejes  |  Januari 23, 2009 pukul 8:09 pm

    ganbatte ,,,yatte miyou

    Balas
  • 3. Iqbal  |  Maret 27, 2009 pukul 11:47 pm

    Wow….
    Saya emg lagi tertarik berbisnis dalam dunia konveksi
    Bisa minta info2 gimana membuka usaha dibidang ini ga?

    Balas
  • 4. Andy  |  September 30, 2011 pukul 6:56 am

    pok,,pok,pok,,(sambil tepuk tangan)
    salut untuk anda,saya sangat tertarik dalam usaha konveksi dan berniat memulai usaha..
    mungkin anda bersedia untuk memberikan sekilas peencerahan tentang membuka usaha konveksi skala rumahan..

    -terima kasih-

    Balas
  • 5. Fredy Firdaus  |  April 29, 2012 pukul 1:47 am

    Terima Kasih Sangat Informatif sekali…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites