Kisah Fauzi berbisnis konveksi

Mei 16, 2008 at 12:34 am 11 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 46, Tahun X, 21 Agustus 2006

Sejelas Peluang Kaus Kelas
Kisah Fauzi berbisnis konveksi

Fauzi memulai bisnis konveksinya dari membikin kaus seragam untuk murid-murid sekolah. Sekarang, ia sudah punya 55 unit mesin jahit plus merangkul puluhan klien perusahaan besar.

Kendati tidak tampak luar biasa, jangan sepelekan bisnis kaus kelas. Kaus seragam ini, lazimnya, dipesan oleh murid-murid dalam satu kelas atau satu sekolah sekadar memperlihatkan kebersamaan mereka. Nah, tidak sedikit pengusaha yang mendulang sukses dari ikatan emosi anak sekolah ini. Salah satunya adalah Fauzi Ishak yang membangun usaha konveksinya dari membikin kaus kelas seperti ini.

Saat ini Fauzi memiliki usaha konveksi bernama BEKaos. Meski menyandang nama kaus, Fauzi justru lebih banyak menggarap seragam untuk perusahaan. “Sekitar 80% pekerjaan saya sekarang adalah menjahit uniform,” tutur bapak dari tiga anak ini. Misalnya, ia baru merampungkan pesanan dari Garuda Maintenance Facility senilai Rp 1,2 miliar. Selain itu, menurut Fauzi, ia juga menggarap seragam KPC, Freeport, Trakindo, serta Aerowisata Catering.

Untuk mengerjakan pesanan kaus, Fauzi memiliki 55 unit mesin jahit. Jika seluruh kapasitasnya dikerahkan, Fauzi mempekerjakan sekitar 70 orang karyawan. “Tapi, dalam kondisi sekarang, memang jarang penuh. Paling cuma 35 mesin saja yang jalan,” celetuknya.

Ia juga punya cara sendiri untuk meladeni pelanggan yang memesan ribuan baju dengan tenggat mepet. Kebetulan, keluarga besar Fauzi punya usaha konveksi serupa di Bandung. “Jadi, saya potong di sini, lalu saya bagikan ke Bandung,” jelas Fauzi yang pernah menggarap 50.000 potong kaus pesanan dari Aceh yang harus rampung dalam waktu dua minggu.

Jadi tawuran gara-gara kaus pesanan

Fauzi membangun bisnisnya ini dari sebuah gang kecil di Mampang pada pertengahan 1980-an. Berbekal pengalamannya membikin kaus kelas di Bandung, Fauzi pun nekat menyewa rumah kecil. Ia membuka usaha pembuatan kaus dengan modal Rp 2,8 juta. “Saya masih ingat, sewa rumahnya Rp 800.000 setahun,” tutur Fauzi.

Setelah itu, ia harus hidup berhemat dengan uang Rp 2 juta sisanya. Fauzi mengajak dua kawan untuk menjadi karyawan dan ikut mengerjakan seluruh proses pembuatan kaus, kecuali menjahit. “Saya beli mesin, saya potong sendiri, sablon sendiri, tapi saya enggak bisa menjahit,” katanya.

Bisnis pembuatan kaus ini ternyata cepat berkembang. Dalam seminggu, Fauzi bisa menggarap 100 potong kaus. “Dulu, saya cukup punya nama di antara anak-anak SMA itu,” kata Fauzi yang memilih sebutan Bandungprima untuk usaha pembuatan kausnya ini.

Menggarap kaus kelas pesanan anak SMA membawa pengalaman lucu bagi Fauzi. Sebut saja waktu ia menerima pesanan kaus dari STM Boedoet dan STM Penerbangan. Dua siswa sekolah itu tawuran lantaran bertemu muka ketika sama-sama mengambil kaus di rumah Fauzi. “Saya malah sampai dimintai keterangan oleh polisi segala,” ujar lelaki berusia 37 tahun ini sambil tertawa lebar.

Tapi, Fauzi tidak mau melulu bergulat dengan bisnis kaus kelas. Ia membuka pasar baru dengan mencari pelanggan perusahaan. Selama tiga tahun pertama, Fauzi rajin menawarkan sendiri kaus bikinannya ke banyak perusahaan. Pengalaman pahit menjadi bagian dari hidupnya. “Saya harus menunggu bagian purchasing selama berjam-jam. Terus kita dikasih waktu cuma lima menit. Itu pun mereka enggak jadi pesan,” kenang Fauzi. Alhasil, beberapa kali ia tertidur di atas sepeda motor di pelataran Monas. “Saya kecapekan, ya, tidur saja di situ,” katanya.

Aksi promosi door to door itu memang membuahkan hasil. PT Telkom menjadi klien pertama Fauzi. Kebetulan perusahaan ini dikejar waktu untuk membuat seragam Telkom Jakarta Selatan. Fauzi pun segera menyambarnya, kendati harus bekerja sama dengan koperasi karyawan di situ. “Nilainya Rp 50 juta. Waktu itu nilai segitu besar sekali,” ujarnya. Karena pesanan terus bertambah, Fauzi harus pindah ke Tebet untuk mendapatkan tempat yang lebih besar.

Nah, tahun 1993 Fauzi mengusung BEKaos pindah ke Condet. “Dulu, ini rumah orang Betawi asli yang kemudian bisa saya beli,” ujar Fauzi mengenai workshop-nya yang sekarang. Di sinilah, Fauzi menaruh puluhan mesin miliknya.

Emoh dianggap pengusaha plin-plan

Menurut Fauzi, berbisnis konveksi cukup unik. Pasalnya, si pengusaha harus tahu detail bahan baku dan produksinya. Fauzi merasa diuntungkan dengan bekal pengalaman selama di Bandung dan jaringan yang dimiliki di sana. “Saya jadi tahu, di mana bisa mencari bahan yang harganya miring, untuk disesuaikan dengan anggaran pemesan,” ujar Fauzi.

Sebagai pengusaha, Fauzi merasa dirinya enggak takut merugi. “Kalaupun rugi, saya harus belajar dari situ,” tegasnya. Fauzi mengakui beberapa kali dirinya pernah rugi besar. Kala menang tender, kerap kali hitungan bisnis sesungguhnya melesat jauh dari nilai tender. Pasalnya, harga bahan baku sering naik turun. Kalau harga bahannya kelewat tinggi, Fauzi berusaha menegosiasikan harga jual kepada pemberi order. Jika negosiasi gagal, ya sebisa mungkin ia tetap memenuhi kewajibannya. “Saya enggak mau kalau pelanggan bilang saya plin-plan,” cetusnya. Lebih lagi, dengan cara begini, kebanyakan pelanggan justru terkesan dan memesan lagi di lain waktu.

Pemain di bisnis konveksi jumlahnya ada ratusan ribu. Tapi, menurut Fauzi, ia tetap optimistis dengan kesempatannya meraih laba. Tiga bulan lalu, ia membuka bisnis konveksi di Batam. “Cukup lumayan kok responnya,” ujarnya. Menurut dia, masih banyak daerah yang menyimpan potensi pasar. “Prinsip saya, jangan takut memulai,” tandas Fauzi.

Fauzi justru khawatir dengan serangan konveksi dari China. Beberapa kali ia merasakan pahitnya serangan ini. Misalnya, niatnya memasok seragam ke Malaysia gagal karena kalah dengan produk China. “Saya ngeri sekali dengan produk mereka. Karena, harganya bisa jauh lebih murah,” ucap Fauzi. Padahal, sebelum tahun 2003, Fauzi banyak mengirimkan seragam dan pakaian jadi ke Malaysia dan Brunei.

Fauzi tidak mau sekadar berkutat di bisnis konveksi saja. Ia baru membuat OrbitCom yang bisnisnya periklanan dan event organizer. Ia juga berbisnis separator jalan, bekerja sama dengan kantor polisi di Jakarta. Untuk itulah, ia membikin tim pemasaran sendiri. “Tim pemasaran ini fleksibel, bisa ke BEKaos, bisa ke Orbit juga,” ujar Fauzi yang sekarang tidak perlu melepas lelah di pelataran Monas lagi.

+++++

Bisnis Keluarga

Konveksi memang tidak asing bagi Fauzi Ishak. Maklum, banyak anggota keluarganya di Bandung berbisnis kaus. Ia merintis bisnis kaus semasa SMA. “Eh, lama-lama keenakan, karena SMA sudah pegang duit sendiri,” kenang anak keenam dari tujuh bersaudara ini. Maka, Fauzi pun ogah tertahan di bangku kuliah Universitas Pasundan. “Saya lebih memilih untuk wiraswasta,” ucap lelaki Riau kelahiran Bandung ini. Tiga saudara laki-lakinya, semua mempunyai bisnis konveksi.

Meski ayahnya adalah juga seorang pengusaha, Fauzi mengaku mendapat gemblengan keras dari kakaknya. Sang kakak, menurut Fauzi, selalu melarangnya melakukan banyak hal. “Dia bilang, jangan belagu. Kalau sudah bisa mencari duit seribu perak, bolehlah kamu bertingkah,” kenang Fauzi. Ucapan itu melecut Fauzi untuk mulai membikin kaus kelas semasa SMA. “Saya koordinir teman-teman saya untuk membuat kaus ini,” ujar Fauzi yang hobi badminton, tenis meja, dan joging.

Hendrika Y., Aprillia Ika

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , , .

Waralaba pusat hiburan malam Afterhour IKLAN JADOEL vol 2

11 Komentar Add your own

  • 1. nik_nik  |  Mei 17, 2008 pukul 2:20 pm

    wah… kebetulan saya mau usaha kaos sebagai sambilan.. karena sy gak bisa desain jadinya ,ajak teman yg bisa desain🙂
    tp masih blum ngerti apa2 di dunia konveksi.

    Balas
  • 2. RIANTO XAVERIUS SIMAMORA  |  Juni 16, 2008 pukul 5:36 am

    makanya belajar biar gak bisa

    Balas
  • 3. jenny wong  |  September 16, 2008 pukul 4:09 pm

    wow…hebat bgt jiwa bisnisnya… klo blh tau brp lama waktu yg di butuhin buat dapet hasil yg kaya sekarang pak??? saya msh 19 taon,saya jg pny rencana buka usaha konveksi,mudah2an berhasil seperti bapak.

    Balas
  • 4. Umi Farida  |  Oktober 5, 2008 pukul 12:15 pm

    Tempat Kulakan kainnya darimana mas?

    Balas
  • 5. Verry  |  Februari 9, 2009 pukul 6:36 am

    Perkenankan nama saya Verry asal kota palembang saat ini saya mempunyai cita cita ingin mengembangkan usaha jahitan keluarga menjadi usaha pembuatan kaos atau konveksi saat ini juga saya sudah beli mesin pordek kaos,obras kaos,serta alat alat lainnya,tetapi saya sampai saat ini masih bingung bagaimana mencari order kerjaannya untuk itu saya mohon masukan yang beguna dari mas fauzi yang sudah sukses merintis usaha konvesinya dari nol.saya tunggu mas masukan mas fauzi sesudah dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih wassalam contak person 0813 67 202 987 / 0819 77 898 283 Email : very_fals@yahoo.com

    Balas
  • 6. yulia  |  Februari 18, 2009 pukul 2:37 am

    Assalamualaikum Wr. Wb. perkenalkan saya Yulia, saya kebetulan tinggal di lingkungan konfeksi di daerah grogol jakarta barat, tapi karena saya dulu bekerja dan tidak tau seluk beluk tentang bisnis apapun, dan sekarang saya konsen jadi ibu rumah tangga. Tapi saya ingin mendirikan konfeksi sebagai trend seter di perkampungan saya tinggal. Saya ingin ngambil upah jahit saja, menurut info yang saya dapatkan, agar pekerjaan ideal, saya harus menyediakan 6 set mesin ( 6 mesin jahit & mesin obras) 1 mesin kam dan 1 mesin gosok gas, adapaun pengelelonya bersifat bagi hasil, jadi provit dibagi 3. 1 bagian untuk pengembalian modal bank, untuk sewa tempat dan biaya operasioanal, sisanya baru dibagi 2, apakah hal ini cukup menguntungkan buat saya atau malah merugikan saya, hal apa saja yang harus saya persiapkan untuk menjadi konfeksi yang langgeng, karena ini saya sangat spekulasi, saya tidak bisa menjahit dan saya tidak bisa membuat pola. Adapun pekerjaan pengelola adalah mencari order, mengkontrol keluar masuk barang, ergonomik dan semua yang berkaitan dengan produk, saya yang menyiapkan tempat dan mesin2nya. kontrol produksi saya sendiri, untuk pembayaran direct langsung ke saya. Yang saya agak ragu untuk pembayaran ke karyawan jika ada pembayaran telat dari pengorder, apa saja yang harus saya persiapkan untuk mengantisipasi masalah ini. Mohon masukan atas ide saya ini, trimakasih atas kerjasamanya Wassalamualaikum. Yulia

    Balas
  • 7. Aan  |  Maret 28, 2009 pukul 4:54 am

    AssalamualaikumWr,wb.
    Perkenalkan saya Aan, sy tinggal di Soreang Kab. Bandung…saat ini sy memiliki usaha konveksi utk semua produk (kaos, jaket, Sweeter, Celana anak), siapa tau ada yang tertarik untuk memesan produk2 sy atau kerjasama Makloon, silahkan hub : aanwalkiat@yahoo.co.id…..thanks. Wasswrwb

    Balas
  • 8. siyamadi  |  April 13, 2009 pukul 6:52 am

    Go Para wirausahawan

    Balas
  • 9. baskoro ari w  |  Juli 21, 2009 pukul 8:08 am

    mas fauz biaya untukmembuka konveksi sekecil kecilnya brapa ya?trus klo disemarang untuk beli bahannya dimana yak?

    Balas
  • 10. romance  |  Oktober 24, 2011 pukul 12:52 am

    saya ingin sekali membuka usaha konveksi, tp saya belum bisa apa2 tolong mas2,mbk2 berkenan membantu saya, modal saya hanya kejujuran. makasih

    Balas
  • 11. Else  |  Januari 17, 2013 pukul 1:26 am

    Asslm…sy dgn else..saat ini sy br mmulai buka usaha konfeksi n sdh mmpunyai mesin 12, mesin obras 4, alat mesin lobang kancing dll sdh lengkap, tp sy skg lg mncari orderan n mgk ada yg lg butuh mmbuat seragam2 dll bs hub else k no 08114861111 n 081321330111 n email elseagustina@yahoo.com….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites