Waralaba pusat hiburan malam Afterhour

Mei 15, 2008 at 12:23 am Tinggalkan komentar

WARALABA
Tabloi KONTAN No. 16, Tahun X, 23 Januari 2006

Mantapnya Sodokan para Eksmud
Waralaba pusat hiburan malam Afterhour

Ingin menjadi juragan pusat hiburan malam yang kian ngetren? Tawaran waralaba Afterhour, yang merupakan gabungan biliar, bar, dan restoran, bisa menjadi alternatif. Modalnya memang besar, lebih dari Rp 3,5 miliar. Tapi, tak sampai dua tahun, modal bisa balik.

Jam kerja usai sudah. Rasa jenuh pun menggelayuti pikiran yang sudah bekerja seharian. Otak serasa berasap dan kekurangan oksigen. Lalu, ke mana selanjutnya? Para eksmud alias eksekutif muda di kota-kota besar biasanya memilih hangout atau clubbing dulu. Ngapain juga bete terjebak kemacetan dalam perjalanan pulang ke rumah? Mendingan melonggarkan sesak otak di berbagai tempat hiburan malam. Begitulah mungkin pikir mereka.

Di Jakarta, ada begitu banyak pilihan tempat mangkal sepulang kerja. Ada ratusan kafe, bar, restoran, dan klub hiburan lain. Di antara belantara hiburan malam Jakarta itu, terdapatlah Afterhour. Terletak di jantung kota Jakarta, tepatnya di lantai II Gedung Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Afterhour merupakan perpaduan arena biliar, bar, dan restoran.

Saban malam, selepas jam kerja, Afterhour disesaki pengunjung yang mayoritas dari kalangan eksmud. Laki dan perempuan bercampur. Sebagian asyik menyodok bola biliar sambil sesekali menyesap minuman kesayangan. Sebagian lagi menyemuti floor sembari menggoyang-goyangkan tubuh, mengikuti hentakan musik yang diracik seorang disc jockey alias DJ. Di sudut lain, sebagian pengunjung asyik bersantap malam.

Tren bertandang ke pusat-pusat hiburan selepas kerja ini jelas menjadi ladang bisnis yang kian subur di kota-kota besar. Penikmat dunia malam terus bertambah, sehingga pengusaha tempat hiburan mendulang keuntungan yang lumayan besar. Contohnya, ya, Afterhour Jakarta. Pusat hiburan ini berdiri tahun 2001 dengan modal miliaran rupiah. “Telah balik modal 18 bulan setelah berdiri,” cetus Eduard Hans Setiady, CEO Hans Consulting, perusahaan yang menjadi konsultan Afterhour.

Prospek bisnis hiburan yang begini cerah di masa mendatang, plus keinginan memperluas jaringan, telah mendorong Afterhour menawarkan waralabanya. Tak hanya di dalam negeri, Afterhour juga gencar menawarkan waralabanya hingga ke luar negeri. “Afterhour adalah merek lokal yang mengekspor mereknya ke luar negeri,” tandas Eduard.

Gayung pun bersambut. Seorang pengusaha di Singapura langsung menyambut tawaran ini. Kata Eduard, persiapan gerai di Singapura ini sudah kelar 99%, dan siap buka pada pertengahan tahun ini. Selanjutnya, Afterhour menargetkan, dalam dua tahun ke depan, sulur bisnisnya akan tumbuh di berbagai kota Asia. Targetnya adalah Kuala Lumpur, Ho Chi Minh, Manila, Bangkok, Shanghai, dan Hongkong.

Hanya satu gerai di satu kota

Di dalam negeri, Afterhour menerima cukup banyak lamaran dari calon mitra. “Untuk di Bali, malah ada sekaligus dua peminat serius. Tapi kami akan memilih satu saja, “tandas Eduard. Ya, Afterhour hanya menjual waralaba secara eksklusif, satu gerai untuk satu kota.

Nah, dari survei Afterhour, ada beberapa kota besar di Indonesia yang berpotensi untuk membuka usaha ini. Yakni: Bali, Surabaya, dan Bandung. Untuk kota-kota lain, kalau ada peminatnya, Afterhour bersedia melakukan survei untuk menghitung kelayakan usahanya.

Omong-omong, apa keuntungan menjadi terwaralaba Afterhour? Dengan nada promosi, Eduard mengemukakan beberapa alasan. Pertama, laiknya system waralaba, terwaralaba bisa langsung menggunakan nama Afterhour yang sudah lumayan kondang di Jakarta.

Kedua, terwaralaba tinggal mentransfer keunikan dan atmosfer Afterhour ke gerainya. “Afterhour bisa me-retain customer, pelanggan merasa feels like at home, ini yang enggak bisa di-copy pesaing-pesaingnya,” tandas Eduard. Terwaralaba juga otomatis ikutan dalam program pemasaran dan promosi secara nasional. Dus, juga mendapat dukungan operasional, seperti pertukaran DJ.

Ketiga, terwaralaba akan memperoleh pelatihan, mulai general manager, bartender, akuntan, PR, hingga waitress. Semuanya akan dilatih sekaligus dipekerjakan di Jakarta selama 2-3 bulan. Oh, ya, dalam pelatihan ini, waiter, bartender, dan PR akan mempelajari teknik-teknik mendorong tamu agar dengan senang hati mengorder minuman. “Tema utama kami memang biliar, tapi kami fokus pada penjualan minuman yang menyumbang 80% dari omzet,” terang Eduard.

Selanjutnya, Afterhour akan memasok minuman dan makanan yang khas Afterhour. Terwaralaba bisa saja melakukan inovasi atau memasok minuman dan makanan lain, asalkan mendapat persetujuan dari pewarabala.

Semua dukungan dari Afterhour itu tentu ada biayanya. Terwaralaba harus membayar franchise fee sebesar Rp 1,2 miliar untuk masa lima tahun. Selain itu, setelah beroperasi, terwaralaba juga harus membayar royalty fee sebesar 5% dari omzet. Sekitar dua tahun ke depan, bila jaringan Afterhour sudah meluas, terwaralaba juga harus membayar advertising fee sebesar 3% dari omzet.

Tamu-tamu harus di-entertain

Selain franchise fee itu, terwaralaba masih harus menyediakan modal miliaran. Total modal untuk menyodok ke bisnis ini sekitar Rp 3,5 miliar. Ini sudah termasuk perizinan, peralatan biliar, bar, restoran, serta renovasi ruang. Modal ini juga sudah mencakup persediaan awal makanan dan minuman (beverages), modal kerja, dan biaya training karyawan di Jakarta.

Tapi, modal itu belum termasuk sewa ruang. Untuk membuka gerai Afterhour, luas ruangnya minimum 800 m2 dan maksimum 1.000 m2. “Ruangnya jangan terlalu luas juga, nanti terlihat kosong, kan tidak sepanjang waktu ramai,” ujar Eduard.

Yang harus diperhatikan benar, pilihlah lokasi yang benar-benar strategis. Yakni, gampang diakses dan memiliki lahan parkir yang luas. Kalau sampai salah pilih tempat, butuh modal yang teramat besar untuk membukanya kembali di lokasi lain.

Hal penting lain dalam membuka usaha ini adalah manajemen tim yang baik. “Dibutuhkan satu general manager (GM) yang benar-benar komit,” tandas Eduard. Si GM ini harus hadir dan bertugas setiap hari. Dia harus meng-entertain tamu-tamu dan menciptakan suasana seperti yang ada di Jakarta.

Jika si terwaralaba tidak bisa melakukan sendiri fungsi GM ini, dia harus mencari orang yang benar-benar cakap untuk menduduki posisi ini. Oh, ya, selain GM, setiap gerai waralaba Afterhour membutuhkan sekitar 40-50 orang pekerja.

Nah, bila semua persyaratan dan persiapan sudah beres, dalam waktu sekitar 14 minggu setelah perjanjian waralaba diteken, Anda sudah bisa hajatan launching gerai Afterhour Anda.

Bila lokasi bagus dan semua lancar, menurut perhitungan Eduard selaku broker dan konsultan franchise ini, terwaralaba bisa membukukan omzet sekitar Rp 600 juta-Rp 800 juta sebulan. Dengan margin bersih sekitar 25%-30%, maka dalam waktu kurang dari dua tahun, seluruh modal Anda-baik investasi maupun modal kerja awal akan kembali. Selanjutnya Anda tinggal menyodok keuntungan ke brankas Anda.

Mesti Sinaga, Agung Ardyatmo

Tabel simulasi perhitungan bisa di donlod di SINI

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , , , , .

Hajatan Besar Kraton Yogyakarta [7] Kisah Fauzi berbisnis konveksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites