Hajatan Besar Kraton Yogyakarta [5]

Mei 10, 2008 at 12:03 am 1 komentar

UPACARA PERKAWINAN PENUH SIMBOL DAN MAKNA

Mas Kawinnya Alquran dan ’Kalpika’
10/05/2008 05:28:12

”Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat, ingsun nikahaken putraningsun wadon, Gusti Kanjeng Ratu Maduretno karo sira, Pangeran Haryo Purbodiningrat kanthi mas kawin Alquran lan terjemahane, perabot salat lan ali-ali iki”.

Sebelum menjawab, KPH Purbodiningrat menyembah lebih dulu. Kemudian dengan tegas menjawab. ”Kula tampi nikahipun putranipun putri Dalem, Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, kanthi mas kawin Alquran sarta terjemahanipun, seprabot alat salat kaliyan kalpika”.

Suasana khidmat saat ijab kabul Jumat (9/5) pukul 06.35 di Masjid Panepen Kraton Ngayogyakarta begitu terasa. Tiba-tiba dari dalam masjid yang hanya dipakai untuk tafakur dan menikahkan putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwono sejak HB I itu lamat-lamat terdengar ringtone sebuah ponsel dengan nada ‘Sponge-bob’, saat KPH Purbodiningrat menjawab. Meski demikian, suasana khidmat itu tidak terganggu.

Dan ‘nun jauh di sana’ di 4 masjid pathok nagara yaitu di Masjid Plosokuning, Masjid Mlangi, Masjid Babadan dan Masjid Wonokromo doa pun dilantunkan dengan khusyuk. Semua berharap agar kehidupan putri ketiga Sri Sultan kelak akan mengarungi kehidupan rumahtangga yang bahagia dan dijauhkan dari segala marabahaya.

Upacara yang hanya berlangsung singkat, sekitar 10 menit itu telah mengubah perjalanan hidup putra bungsu pasangan RH Djuwanto Hadi BA (almarhum) dengan RAy Hj Handayati Djuwanto. Lelaki kelahiran Yogyakarta 1 Juni 1976 yang terlahir dengan nama Yun Prasetyo itu sekitar sebulan lalu mendapat gelar paringan Dalem Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat. Dan dua hari silam sudah ‘naik pangkat’ dengan gelar paringan Dalem Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Purbodiningrat. Jumat pagi, pengusaha bunga ini resmi menjadi menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X, karena menikahi putri ketiga GRAj Nurkamnari Dewi yang kini bergelar GKR Maduretno.

Usai ijab kabul, KPH Purbodiningrat yang didampingi KPH Wironegoro dan kakaknya Didik Nugrahanto kemudian menandatangani kelengkapan administrasi yang sudah disiapkan Kepala KUA Kecamatan Kraton, HM Mukhlis. Juga dua saksi di antaranya KGPH Hadiwinoto. Kemudian KPH Purbodiningrat yang mengenakan busana Atela putih, menghaturkan sembah sungkem kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Jumat kemarin adalah puncak dari apa yang selama ini diharapkan pasangan Yun Prasetyo dan GRAj Nurkamnari Dewi, yang telah menjalin hubungan cukup lama. Perjalanan cinta mereka yang panjang, kini telah menyatu dalam kehidupan bersama dengan restu bukan hanya dari orangtua namun juga seluruh keluarga bahkan warga masyarakat.

Rangkaian upacara adat pernikahan di Kraton, penuh simbol bermakna. Namun tidak seperti biasa, rangkaian upacara adat kali ini lebih banyak dilakukan secara tertutup untuk pers. Hanya upacara adat panggih yang dilaksanakan secara terbuka. Di dalam adat panggih inilah ‘digelar’ pelbagai upacara dengan simbol-simbol tertentu. Balang-balangan gantal, mijiki serta mecah tigan oleh GKR Pembayun serta pondhongan.

Pondhongan adalah upacara yang sangat spesifik dalam perkawinan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Upacara ini menjadi simbol, bahwa pengantin putri adalah putri Sri Sultan Hamengku Buwono, memiliki derajat lebih tinggi daripada pengantin laki-laki. Zaman dulu kala, pondhongan dilakukan dari kuncung Kagungan Dalem Bangsal Kencana hingga Emper Kagungan Dalem Bangsal Prabayeksa.

Perjalanan waktu, pelaksanaan pondhongan tidaklah harus menempuh sepanjang itu. Pengantin laki-laki dan paman pengantin putri, biasanya memondhong pengantin putri dari kuncung Kagungan Dalem Bangsal Kencana hingga Emper Bangsal Kencana sebelah Utara. Tetapi dalam pelaksanaan pernikahan GRAj Nurkamnari Dewi dengan Yun Prasetyo SE MBA betul-betul hanya disimbolkan saja. Karena kondisi badan, GKR Maduningrat sepintas duduk di atas tangan suami yang bertautan dengan tangan pamannya GBPH Cakraningrat, yang seolah mau memondhong-nya.
”Tidak masalah pondhongan seperti itu, karena ini memang simbol saja,”

Pasangan pengantin itu masih harus menebar senyum. Karena itu, keletihan pun harus mereka sembunyikan. Saat upacara dhahar klimah dan tampa kaya dilakukan di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Upacara yang melambangkan tanggungjawab seorang suami terhadap istri dan keluarganya, memberikan nafkah.

Rangkaian upacara sudah dilakukan sejak Kamis pagi akan berakhir Sabtu (10/5) siang ini ketika GKR Maduretno dan KPH Purbodiningrat, akan melaksanakan upacara pamitan. Tetapi senyum tetap harus ditebar. Kebahagiaan menunggu saat-saat seperti ini harus ditunjukkan bukan hanya pada keluarga, namun juga tamu yang memberikan doa restunya. (Fsy/Fia/Ela)

sumber berita dari SINI

bagian keenam baca di SINI

bagian pertama baca di SINI

bagian kedua baca di SINI

bagian ketiga baca di SINI

bagian ke empat baca di SINI

Iklan

Entry filed under: news. Tags: , , , , , , , , , , , .

Hajatan Besar Kraton Yogyakarta [4] Hajatan Besar Kraton Yogyakarta [6]

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites