Kisah sukses Dimas Djayadiningrat menjadi sutradara video klip

April 29, 2008 at 1:10 am 7 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 32, Tahun IX, 16 Mei 2005

Dari Tukang Gulung sampai Sutradara Beken
Kisah sukses Dimas Djayadiningrat menjadi sutradara video klip

Dimas Djayadiningrat awalnya hanya desainer sampul kaset. Ia belajar secara otodidak untuk menjadi sutradara video klip. Kuliah pun harus terkatung-katung. Sekarang, order terus membanjir.

Anda tentu masih ingat suguhan musik di televisi sebelum era video klip sesemarak sekarang. Ketika itu tontonan musik di televisi hanya menyuguhkan lenggak-lenggok dan suara penyanyinya. Artinya, kepiawaian sang biduan untuk memikat mata penonton benar-benar menjadi andalan. Terkadang ditampilkan pula band pengiring sebagai pemanis serta penari latar yang tiada henti berjoged agar tontonan lebih menarik.

Zaman sudah berubah, dan persaingan antarpenyanyi makin sengit. Sekarang ini rasanya tak ada penyanyi atau kelompok musik yang berani meluncurkan produk baru tanpa dukungan video klip. Video yang biasanya cuma berdurasi tiga menit ini bahkan sudah menjadi sarana wajib untuk berpromosi. Berikutnya, kreativitas membuat video klip pun menjadi sangat penting. Maklum saja, video klip bisa berisi beribu tema. Bisa saja ia nyambung dengan syair lagu, bisa pula itu hanyalah imajinasi visual sang sutradara. Yang penting, video klip harus mampu memikat perhatian penonton yang berikutnya jadi mendengarkan lagu yang ada di situ. Tak usah heran, sutradara video klip andal selalu menjadi buruan penyanyi beken atau grup band tenar.

Tersebutlah nama Dimas Djayadiningrat, salah satu sutradara video klip tenar di negeri ini. Tak ada lagi orang yang meragukan kepiawaiannya membuat video klip. Ia pun sudah menyabet penghargaan di berbagai lomba. Dari tangan dinginnya lahirlah video-video klip untuk kelompok pemusik atau penyanyi papan atas di negeri ini. Sebut saja Iwan Fals, Dewa 19, Krisdayanti, Kla Project, Slank, atau Sheila On 7. Mereka adalah pelanggan setia Dimas. Boleh jadi hampir semua artis top Indonesia pernah memasrahkan penggarapan video klip mereka kepada bekas juri Indonesian Idol 1 ini.

Kerja serabutan jadi penggulung rol film

Dimas ternyata juga jago membuat tayangan iklan serta menyutradarai film layer lebar. Untuk iklan, misalnya, pria yang masih keturunan ningrat Banten ini paling tidak menerima order sekitar 15 iklan saban tahun. Harga sebuah iklan bisa mencapai Rp 400 juta. Khusus film layar lebar, Dimas sukses menggarap sekuel film horror Jelangkung dan Tusuk Jelangkung, Bangsal 13 serta film remaja berjudul 30 Hari Mencari Cinta. Semua film tersebut termasuk box office untuk ukuran tanah air.

Tentu saja, keberhasilan Jay -begitu Dimas akrab disapa- tidak turun dari langit. Jay benar-benar memulai dari nol. Ia berkisah, semula dirinya tertarik menekuni bidang desain grafis. Bidang ini memang jadi idamannya sejak lama. Makanya Jay memutuskan melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti Jurusan Desain Grafis selepas SMA pada tahun 1992.

Rupanya bangku kuliah benar-benar pijakan awal Jay meniti sukses. Bukan lantaran ia lulus dengan predikat cum laude selama menimba ilmu. Tapi dari sinilah Jay mendapat teman yang sering nongkrong di Gang Potlot, markas besar grup band kondang Slank. Karena Jay sering ikut-ikutan kongkow di sana, ia pun mulai mengenal dunia musik. Pergaulannya ini mulai membawa berkah ketika Jay bisa menyalurkan bakatnya sebagai juru desain sampul kaset. Proyek pertama yang digarapnya adalah membuat sampul album untuk grup musik Kidnap bersama Anang Hermansyah. “Sayang Kidnap enggak lama bertahan,” ujarnya mengenang.

Di saat senggang, pria berambut panjang ini juga bekerja serabutan. Kadang lelaki yang gemar berpakaian hitam ini jadi fotografer untuk band-band yang tengah manggung. Pekerjaan lain seperti menggulung rol film sempat pula dilakoninya. “Bayarannya, yah… cuma buat senang-senang saja,” ungkap pria lajang berbintang Leo ini. Ia juga melanjutkan hobinya membuat desain cover album untuk beberapa penyanyi atau band alumnus Gang Potlot. Setelah Kidnap, Jay juga menggarap sampul kaset Andai, album pertama Oppie Andaresta yang kocak itu.

Kondang berkat sering menang kontes

Karya Jay yang tergolong nyeleneh dan kreatif rupanya memikat sejumlah studio besar. Sebutlah Musica Studio dan Aquarius yang lantas mencarinya untuk membuat sampul album kaset Kla Project serta Dewa 19. Pekerjaan itu ia tekuni selama empat tahun hingga 1996. Sayang, keasyikan sebagai desainer sampul album berbuntut korban karena Jay lantas memutuskan untuk berhenti kuliah. “Saya sudah mulai realistis dan seperti menemukan dunia saya,” kata dia.

Kendati namanya sudah kondang sebagai desainer sampul kaset, Dimas tak lantas puas dengan profesi tersebut. Ketika seorang teman yang jebolan IKJ mengajaknya untuk membuat video klip, Jay tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dari sinilah Jay mulai berkenalan dan mempelajari proses pembuatan video klip secara otodidak. Mulai dari tata artistik, pencahayaan, hingga penyutradaraan. “Saya enggak langsung pegang kamera, apalagi jadi sutradara,” kata Jay mengingat masa lalunya.

Jay mengawali kiprahnya di dunia video klip sebagai seorang penata artistik. Waktu itu ia jadi penata artistik video klip lagu Terbunuh Sepi milik Slank. Debut barunya itu tergolong sukses besar. Tak dinyana video klip itu malah menjadi pemenang bulanan dan tahunan dalam ajang Video Musik Indonesia. Bahkan yang mengejutkan, video klip garapannya itu mendapatkan gelar Best of Art Director pada tahap grand final.

Kisah selanjutnya bak air mengalir. Berkat kemenangannya di ajang kontes video klip paling beken di negeri ini, Jay mulai kebanjiran tawaran menyutradarai pembuatan video klip. Tawaran pertama yang disambarnya adalah video klip lagu Rumahku milik Oppie Andaresta. Lucunya, Jay hanya berdua alias dengan seorang juru kamera dalam membuat video klip itu. “Gerilya banget, deh,” kenangnya.

Lagi-lagi, dewi fortuna masih kepincut dengan garis nasib Jay. Video klip pertamanya itu juga menyabet berbagai penghargaan. Ia lalu membuat video klip Kuldesak yang juga meraih Best Video of The Year sebagai Best Director pada tahun 2000.

Kini, nama Jay sudah tak asing lagi di kancah pervideoklipan di negeri ini. Boleh dibilang, Jay sudah jadi salah satu maestro di bidang ini, selain nama beken seperti Rizal Mantovani, Jay Subiakto maupun Richard Buntario. Ia mengaku tak bermodal duit besar untuk jadi sukses seperti sekarang. “Modal utamanya ide di kepala, “ungkap Jay datar.

Mantan kekasih penyanyi Shanti ini tentunya tak sulit lagi mendapatkan order, justru tawaran datang tanpa henti. Sekadar gambaran, Jay bersama Rexinema-rumah produksi yang didirikan bersama teman-temannya, rata-rata menggarap video klip untuk 26 buah judul lagu saban tahun. Asal tahu saja, Rexinema membanderol Rp 90 juta untuk sebuah video klip.

Sekarang giliran Jay yang lebih selektif dan membatasi orderan agar hasilnya tidak terkesan serampangan. Jay mengaku hanya menerima tawaran jika idenya langsung nongol begitu mendengar lagu tersebut. Untuk menentukan jodoh tidaknya, Jay mematok waktu seminggu sebagai ajang penjajakan. “Kalau idenya tidak maksimal, saya tidak berani syuting,” tambahnya. Rupanya mengawini lagu perlu ubo rampe juga. Jangan-jangan butuh mas kimpoi juga?

+++++

Belajar saat Mengembara

Nama Dimas Djayadiningrat dan Rexinema seolah tak bisa dilepaskan. Padahal sejatinya rumah produksi ini bukan 100% miliknya. Memang Dimas jadi salah satu pendiri Rexinema pada 1997. Tapi Jay memutuskan hengkang dari Rexinema tiga tahun kemudian. Alasannya, ia ingin bebas malang melintang sebagai sutradara video klip freelance. Jay lantas berpindah-pindah rumah produksi tanpa ikatan apa pun.

Sering gonta-ganti tempat ternyata ada faedahnya. Ia jadi mengenal ilmu baru tentang pembuatan iklan. Ia pun jadi tertantang menguasai bidang tersebut. “Iklan itu lebih ganas, saingannya bukan hanya dari lokal,” tutur pria yang berambut panjang ini.

Nyatanya setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya balik ke pelimbahan juga. Dua tahun malang melintang sendirian, Jay lantas kembali bergabung ke Rexinema. Kondisi Rexinema saat itu memang mulai kelabakan akibat sengitnya persaingan antar rumah produksi. Jay terpikat kembali lantaran ditawari membuat sekuel film layar Jelangkung dan Tusuk Jelangkung. Dua film ini diharapkan bisa mengangkat kembali pamor Rexinema. “Rexinema sedang butuh gebrakan, dan juga uang, “ujarnya.

Hasilnya memang luar biasa. Tusuk Jelangkung sebagai contoh, sukses besar lantaran mampu menggaet 1,3 juta penonton dan jadi tambang duit bagi Rexinema. Setelah itu, lantas muncul film layar lebar lainnya. Sebagai balasan, kabarnya Jay mendapat 10% golden share alias saham cuma-cuma di Rexinema. Benar, Jay?

Johana Ani Kristanti

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , .

[Trick] bikin google pake nama kamu Kisah Dudy berbisnis sewa genset

7 Komentar Add your own

  • 1. kukuh  |  Agustus 30, 2008 pukul 3:29 pm

    Hai…maaf kalo saya ikiut gabung di forum ini.
    Saya pun tertarik dengan profesi Sutradara Video Clip….dalam waktu dekat ini saya akan mencoba GAMBLING secara INDIE untuk menjadi sutradara dalam pembuatan Video Clip sebuah bandbaru yg sama2 INDIE.
    Yang mengganjal di hati adalah : Apakah tepat langkah saya ini ? Atau terlalu beranikah dengan biaya sendiri membuat video clip sebuah band baru yg sama2 indie.?
    Barangkali saya bisa mendapat jawaban nya di sini.

    Balas
  • 2. daniella  |  Oktober 8, 2008 pukul 6:54 pm

    hai… saya juga mau minta maaf ikut gabung di forum ini.
    saya juga tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan video klip, sayangnya jaringan saya mnuju ke “arah sana” belum terbuka lebar. dan karena udah suka dari dulu, rencananya pengen nulis skripsi tentang sejarah video klip musik indonesia. barangkali memungkinkan untuk berbagi data apapun tentang sejarah video klip tersebut, atau jaringan ke pihak-pihak yang mengerti. terimakasih

    Balas
  • 3. taztha  |  Desember 4, 2008 pukul 1:56 pm

    hai,,,,boleh gabungkan?
    saya juga suka banget yang berbau denga kamera, apalagi saya sekolahnya pas banget dijurusan multimedia yang emang diajari yang kayak gitu. suatu saat nanti bukan kamu aja yang punya cerita sukses, tunggu ntar pasti saya juga punya cerita sukses juga dengan menjadi sutradara yang punya banyak inspirasi ini,

    Balas
  • 4. Dzikry  |  Januari 7, 2009 pukul 4:12 pm

    Cerita sukses yang menarik.apa aada tips dari jay terkait menjadi sutradara sukses?

    Balas
  • 5. novanda  |  Februari 2, 2009 pukul 6:23 pm

    i’m gonna be the next Dimas Djayadiningrat ….

    cuman,perlu support otaknya y…….!!!!!!!!!

    Balas
    • 6. akmal ubaners  |  Juni 19, 2012 pukul 4:22 am

      share yang menggembirakan untuk para sineas muda,

      Balas
  • 7. fathimatur ruza  |  April 4, 2011 pukul 11:39 am

    gak tau kenapa tiba tiba q punya inspirasi buat menjadi seorang sutradara.
    awalnya q punya sebuah cerita tapi q susah buat menulisaknnya.
    lalu q pikir gmn caranya agar cerita saya bisa muncul.
    akhirnya q terinspirasi buat menjadi seorang sutradara.
    apakah saudara Dimas Djayadiningrat bisa membantu saya untuk mewujudkan impian saya
    terima kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites