Kisah Deniek berbisnis sewa foto

April 26, 2008 at 12:03 am 2 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 47, Tahun X, 28 Agustus 2006

Foto Lama Mendatangkan Laba
Kisah Deniek berbisnis sewa foto

Lebih banyak bermodal hobi, Deniek Sukarya merintis usaha di bidang fotografi. Salah satu usahanya yang sukses adalah penyewaan foto. Ia berhasil merangkul pasar yang pemainnya masih langka ini.

Jika ada orang yang menjalankan usaha sesuai dengan hobi, komentar kita pasti cuma satu: “Wah, pantesan sukses. Enak, sih,…pas sama hobinya.” Hobi memang harus jalan terus, seiring dengan perkembangan usaha. Tapi, kesuksesan yang diperoleh bukan semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini bisa kita lihat dalam sosok Deniek Gede Sukarya. Pehobi fotografi kelahiran Bali, 52 tahun lalu, ini memiliki beberapa usaha yang tak jauh-jauh dari lembaran bergambar tersebut. “Memang, bisnis utama saya itu adalah fotografi dan turunannya,” cetus ayah dua anak ini.

Bisnis Deniek dimulai tahun 1983, ketika ia mendirikan bisnis desain grafis, konsultan kreatif, serta fotografi. “Desain grafis itu bagi saya adalah turunan fotografi. Jadi, bisnis inti saya adalah fotografi,” katanya. Sekarang nama Deniek tidak bisa dipisahkan dengan gudang foto bernama Sukarya & Sukarya Pandetama yang didirikannya. Dari gudang foto inilah ratusan perusahaan melalui biro iklan menyewa foto untuk dipasang di baliho, kalender, company profile, poster, juga iklan di media cetak. Kalau mau ditelusuri, klien penyewa Deniek antara lain Gudang Garam, Citibank, Telkom, Garuda Indonesia, Astra Otoparts, Schlumberger, Indofood Sukses Makmur, dan Bank BCA.

Menurut Deniek, ia mematok tarif sewa yang rata-rata sama, untuk semua foto. “Terlalu complicated kalau saya harus membedakan harga foto yang satu dengan yang lain,” ujarnya. Hanya, tarif sewa dibedakan dari peruntukan foto. Misalnya, media pemasangan foto seperti billboard atau kalender. Satu lagi pertimbangan Deniek adalah skala pemasangan foto, mau internasional atau nasional. “Kalau internasional, kenaikan biayanya 50%,” ujar Deniek yang sekarang memiliki stok foto sekitar 100.000 unit ini. Ia memberi contoh, menyewakan slide untuk Telkom selama setahun seharga Rp 18 juta. “Kalau untuk iklan koran, sewanya Rp 6 juta, “sambungnya.

Bisnis sewa foto masih sangat jarang di Indonesia. Kendati tetap memegang hak cipta dan bebas menyewakan foto ke pihak lain, Deniek selalu menjaga etika dalam bisnis ini. “Kalau sudah disewa, kami enggak menyewakan foto itu lagi kepada siapa pun,” kata dia. Ketika batas waktu sewa habis, barulah Deniek melepaskan foto tersebut kepada pihak lain.

Deniek enggan menyebutkan omzet bisnisnya sekarang. “Enggak etis kalau saya bilang angkanya,” kilahnya. Hanya, menurut Deniek, stok foto miliknyalah yang sekarang merajai dunia penyewaan lembar bergambar ini di Indonesia. Dari bisnis sekaligus hobi ini, Deniek mampu menghidupi puluhan karyawan dan keluarganya.

Ia juga pernah mendirikan galeri foto seni yang pertama di Indonesia yang berlokasi di Kemang. Sayang, galeri itu kemudian harus ditutup. “Cost-nya terlalu tinggi,” ujar Deniek yang berencana mencari tempat lain untuk membikin galeri foto. Maklum, “Galeri ditutup, teman-teman ribut karena enggak ada tempat untuk pameran lagi, “sambungnya tersenyum.

Menolak diminta menjadi direktur

Deniek sangat lekat dengan fotografi. Hobi itu sudah dijalani sejak dia masih SMA dulu. Ia tertarik dengan fotografi setelah bertemu dua orang kakak adik dari Malang yang berkelana ke Bali. “Mereka hanya bermodal kamera pocket,” kenang Deniek. Karena tertarik, Deniek pun sering ikut mereka mencetak foto. Dari kedekatan itu, Deniek sadar kalau mereka benar-benar menggantungkan hidup dari jepretan kamera. “Saya lihat, mereka bisa hidup dari fotografi,” ucap Deniek.

Deniek bukan anak orang kaya. Saban hari, sebelum dan sepulang sekolah, ia bekerja di sebuah toko kelontong tradisional. Dari pemilik toko itulah ia mengutang uang untuk membeli sebuah kamera. “Enggak mungkin saya bisa mengumpulkan uang dari jaga toko,” tutur Deniek. Dengan uang tersebut ia membeli kamera Yasica. Tiap Sabtu dan Minggu, Deniek menjadi juru foto keliling. “Dari situ saya bisa mengumpulkan uang untuk beli kamera yang lebih bagus,” kenangnya.

Hobi menjepret terus berlanjut, sampai tahun 1977, ketika Deniek kuliah di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. “Saya baru sadar, saya punya banyak foto, tapi untuk apa?” ujarnya. Ia lantas menulis artikel bermodal foto itu dari dikirim ke Koran nasional dan satu media di Amerika. “Ternyata, semua dimuat. Wah, rasanya bangga sekali,” kenang Deniek. Sejak itu Deniek berkeputusan untuk mencari sesuap nasi di bidang penerbitan.

Tiga tahun kemudian Deniek, yang meninggalkan kuliahnya, pergi ke Jakarta. Ia bekerja di Kedutaan Kanada, kendati tidak bertahan lama. Setelah itu, ia bersama kawannya mendirikan majalah Business Magazine yang terbit di Singapura. “Saya sebagai reporter, penulis, sekaligus merangkap fotografer,” ujarnya.

Meski majalahnya tidak bertahan lama, toh Deniek tidak rugi. Soalnya, salah satu tulisan di majalah itu membuatnya ditawari pekerjaan di sebuah biro iklan Singapura. Deniek pun hijrah ke sana.

Deniek bekerja di Singapura sampai tahun 1983, ketika anak pertamanya lahir. Setelah itu, ia memboyong anak dan istrinya kembali ke Indonesia. Ketika sampai di Indonesia, menurut Deniek, ia ditawari menjadi direktur sebuah perusahaan periklanan. “Tapi, saya lihat, kok, utangnya banyak. Mendingan saya start sendiri saja,” kenang Deniek.

Ia membawa uang sekitar Sin$ 28.000 dari Singapura. Dengan uang itu, Deniek mendirikan kantor desain grafis di Cinere. “Uangnya hanya cukup untuk kontrak rumah dan beli mobil VW Combi,” sambung Deniek. Untungnya, sejak lama Deniek sudah membangun jaringan di antara teman-temannya. Alhasil, usahanya ini cepat maju.

Setelah beberapa lama menggarap desain grafis dan penyewaan foto, Deniek ingin menjajal bidang lain. Berbekal pengalaman menggarap majalah, Deniek pun membikin majalah internal untuk beberapa perusahaan pada tahun 1990. Misalnya, “Kami bikin majalah untuk Honda yang oplahnya 80.000,” ujarnya.

Bisnis bidang foto ini sangat unik karena batas antara profesional dan seni menjadi sangat tipis. Deniek berkeyakinan bahwa untuk sukses di bidang komersial, ia harus selalu konsisten. “Kita harus bagus setiap saat. Kalau orang baru bikin karya yang bagus sekali saja, itu namanya amatir,” ujarnya.

Kendati sudah hobi, Deniek beberapa kali harus menelan kenyataan pahit di bisnis foto ini. “Kadang ada orang yang beranggapan, kok sewanya mahal betul,” tuturnya. Padahal, menurut Deniek, harga yang tinggi layak untuk dipasang pada hasil kreativitas yang tidak bisa diulang itu. Maklum saja, kecil sekali kemungkinan ada hasil jepretan yang sama persis dalam jangka waktu berbeda. “Momen itulah yang dibeli orang,” ungkap Deniek.

+++++

Kerja Serabutan

Masa muda Deniek Gede Sukarya, Presiden Direktur Sukarya & Sukarya Pandetama, adalah masa yang penuh kerja keras. Sejak kelas 1 SMA pria kelahiran Jembrana, Bali, ini sudah bekerja di sebuah toko kelontong. “Kerjanya serabutan. Menggendong karung, jualan bumbu, rokok, pembukuan, sampai mencari dagangan,” kata anak pertama dari empat bersaudara ini. Pekerjaan tersebut dilakukan setiap subuh, sekitar pukul 03.00, dan setelah pulang sekolah sampai pukul 18.00.

Gara-gara bekerja serabutan, Deniek pernah kena tegur gurunya lantaran dating terlambat. “Saya disuruh memilih: mau bekerja atau sekolah,” kenang Deniek yang hobi membaca novel thriller ini. Tentu saja Deniek tidak bisa memilih. “Kalau enggak kerja, saya enggak bisa sekolah,” lanjutnya. Deniek memang membiayai sendiri sekolahnya. Ketika ia kuliah di Yogyakarta, kamera menjadi andalan untuk membayar SPP. Namun, bangku kuliah ini ditinggal lantaran Deniek lebih tertarik mengadu nasib bidang penerbitan di Jakarta.

Hobi fotografi telah mengubah hidup Deniek. Ia juga punya pengalaman berkesan selama menjepretkan kamera. “Paling berkesan waktu diminta memotret gempa di Bali tahun 1976, karena saya sendiri menjadi korban gempa,” ujar Deniek. Order pemotretan itu datang dari Selandia Baru. Hasil jepretan Deniek tersebut digunakan untuk menggalang dana bantuan dari Australia. Sayang, belakangan Deniek kehilangan foto-foto tersebut. “Mungkin waktu itu negatifnya saya kirim ke sana juga, “tutur Deniek.

Hendrika Y., Yuwono Triatmodjo

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , .

Jalan pintas ke bisnis spa ala Leha-Leha Day Spa Diany Pranata berbisnis penyelenggara pesta pernikahan

2 Komentar Add your own

  • 1. yanastabalitour  |  Mei 25, 2009 pukul 6:59 am

    ternyata putra jembrana.. salam bli…:D:D:D

    Balas
  • 2. mm  |  November 18, 2011 pukul 8:28 am

    Sekarang dimana saya bisa sewa foto, rencananya untuk desain kalender 2012.
    Tolong di info website dan kontak personnya ya ..

    Tks

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites