Tawaran waralaba Frankfurter Hot Dog

April 13, 2008 at 1:01 am 1 komentar

WARALABA
TAbloid KONTAN No. 17, Tahun IX, 31 Januari 2005

Jajanan Bule Made In Lokal
Tawaran waralaba Frankfurter Hot Dog

Anda yang sedang mencari bisnis baru, waralaba Frankfurter Hot Dog bisa menjadi salah satu alternatif. Tapi, ini bukan untuk sembarang orang. Anda harus punya ruang di lokasi strategis, plus modal duit Rp 1 miliar. Balik modalnya tak sampai lima tahun.

Banyak orang ingin memulai usaha sendiri. Namun, sebagian besar bingung mau mulai dari mana dan apa pula bidang usahanya. Tak usah membuang begitu banyak waktu dan energi dalam kebingungan. Mulailah dari apa yang Anda gemari dan Anda mengerti. Sebab, cukup banyak orang membuktikan, hobi atau kesukaan bisa jadi titik awal kesuksesan berbisnis. Salah satunya adalah Adrien Luis, pengusaha makanan hotdog bermerek Frankfurter yang lagi mengembang di mana-mana.
Frankfurter, yang kini gencar menawarkan pola kerja sama waralaba, memang bermula dari kegemaran Adrien dan adiknya menyantap hotdog. Hampir saban hari kakak beradik ini menikmati makanan cepat saji (fast food) berupa roti lonjong yang diisi sosis atau irisan daging campur sayuran dan aneka saus itu. Penasaran, Adrien pun mencoba-coba membuat sendiri santapan yang ngepop di Amerika dan Eropa itu.

Racikan coba-coba itu rupanya berhasil. Malah dia merasa hotdog buatannya cukup enak dan layak jual. “Cukup pas dengan lidah Indonesia,” ucap Adrien. Maka, mereka mulai membisniskannya. Dengan modal awal sekitar Rp 10 juta, Adrien dan adiknya lantas berjualan hotdog dengan sebuah gerobak sederhana. Ternyata hotdog kelas gerobaknya itu cukup laris.

Adrien pun memberanikan diri melangkah lebih maju lagi. Dia membuka sebuah gerai hotdog di pusat perbelanjaan D’Best di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Restoran dengan menu utama hotdog ini ia beri nama Frankfurter Hot Dog. Asal tahu saja, di Eropa sana, hotdog juga sering dinamakan frankfurter, wiener, atau bologna.

Tempatnya harus strategis

Gerai Frankfurter Hot Dog yang pertama ini ternyata juga segera diserbu konsumen. Dia pun segera membuka dua buah cabang baru, satu di Kemang Raya dan satu lagi di Cilandak Town Square. Adrien mengaku sengaja memilih tempat-tempat yang rada eksklusif karena ia ingin membidik segmen konsumen menengah atas. Hal ini bisa dilihat dari harga menu-menunya berkisar Rp 20.000-Rp 35.000 per porsi. Jadi, target pasar Frankfurter memang berbeda dengan Hotdog Booth yang pernah ditulis KONTAN (Rombong Roti Bule, 20 September 2004). Strategi ini ternyata cukup ampuh. Gerai-gerai Frankfurter tak pernah sepi pengunjung.

Ibarat gula-gula, manisnya kesuksesan yang diraih gerai-gerai Frankfurter mulai menarik minat para pengusaha yang sedang mencari ladang bisnis. “Karena banyak orang yang mulai menanyakan, kemudian kami pun mulai membuka waralaba,” ujar Adrien.

Sejak menerapkan sistem waralaba, jumlah gerai Frankfurter Hot Dog bertambah dengan sangat cepat. Kini, tak kurang sudah ada delapan gerai Frankfurter, yaitu di Kemang Raya, Cilandak Town Square, Plaza Indonesia, Kelapa Gading Sport Mall, Setia Budi Building, Sun Plaza (Medan), Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan di The Plaza Semanggi. “Tahun ini kami akan buka lagi di Forum Senayan, Pondok Indah II, dan Dharmawangsa,” beber Adrien.

Anda tertarik ikutan waralaba Frankfurter? Pastikan dulu Anda memenuhi sejumlah persyaratan. Pertama, Anda haru memiliki sebuah ruangan restoran dengan ukuran minimal 50 m2. Lokasinya harus strategis dan cukup ramai dikunjungi konsumen. Jangan coba-coba memilih tempat yang berada di lokasi yang kurang strategis, sebab pewaralaba pasti langsung menolaknya. “Ada yang mau buka di ITC Permata Hijau, kami tolak karena tempatnya masih sepi. Takutnya dia tidak balik modal, “cerita Adrien.

Kedua, Anda juga harus memiliki modal berupa duit tunai sekitar Rp 300 juta-Rp 800 juta. Uang ini Anda perlukan untuk membeli paket investasi yang disediakan Frankfurter. Paket investasi ini sudah mencakup biaya waralaba (franchise fee) untuk jangka waktu lima tahun. Perlengkapan dapur, wallpaper, foto produk, seragam karyawan, menu, komputer dan software-nya, logo, beberapa alat promosi, plus gaji karyawan selama tiga bulan juga sudah termasuk dalam paket investasi tersebut.

Balik modal sebelum lima tahun

Sayangnya, Andrien tak mau memerinci tarif franchise fee yang ia pungut. Cuma, berdasarkan pengalaman Djulia Matio, terwaralaba gerai Frankfurter Hot Dog di Gedung BEJ, ia mesti membayar franchise fee sekitar Rp 400 juta-Rp 500 juta. “Ini untuk jangka waktu lima tahun,” kata Djulia.

Selain itu, Djulia juga mengeluarkan dana sekitar Rp 200 juta untuk renovasi ruang usaha. Plus biaya pengadaan perlengkapan-perlengkapan lainnya, “Total saya habis hampir Rp 1 miliar,” imbuhnya.

Modal yang kurang-lebih sama juga dikeluarkan Reggy Pundhiartha dan Retno Wulandari yang membuka gerai Frankfurter di Cilandak Town Square. Tambah lagi, baik Djulia maupun Reggy masih harus menanggung biaya royalti (royalty fee) yang besarnya sekitar 5% dari total omzet bersih restorannya.

Laiknya sistem waralaba makanan lain, terwaralaba Frankfurter akan memperoleh pasokan bahan baku seperti sosis dan aneka macam saus. Pasokan ini selalu terjamin karena pewaralaba sudah memiliki pabrik sendiri. Selain itu, terwaralaba juga boleh mengembangkan berbagai menu sendiri. Dengan catatan, menu itu harus dikonsultasikan terlebih dulu dengan pewaralaba.

Setelah sekitar empat bulan beroperasi, Djulia mengaku restorannya kini sudah cukup ramai dikunjungi pembeli yang sebagian besar adalah pekerja kantoran. Menu-menu andalannya adalah Brafust Frankfurter Smokey Beef, yakni hotdog sapi muda ditambah satu iris daging sapi asap (smokey beef). Juga ada Frankfurter Smokey Beef, yakni hotdog sapi biasa ditambah selembar smokey beef. Menu andalan lainnya yang banyak dipesan pembeli adalah Brafust Chilli Beef. Ini adalah hotdog sapi muda dengan daging sapi cincang plus bawang bombai, wortel impor, kacang polong impor, dan kacang merah impor.

Saat ini Djulia bisa mengantongi penjualan rata-rata sekitar Rp 45 juta per bulan. Dengan omzet segitu, seluruh biaya operasional restoran pun tertutup. “Saya harapkan bisa balik modal sebelum lima tahun,” ujar Djulia. Nah, Anda masih tertarik?

Cipta Wahyana, Palupi Anggraeni, Kurniawan Aryanto

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , .

Peluang dan ancaman bisnis VCO Tawaran waralaba Peaches Tea House

1 Komentar Add your own

  • 1. ryuuk  |  Juli 27, 2008 pukul 4:04 pm

    Huehehe malessss mahal bgt, harganya lebih mahal dari hotdog beli di NYC…padahal biasa banget makanannya…it’s a hotdog for God’s sake…

    Sekali kejebak udh cukup deh…ga bakal balik lagi. Coba aja liat gerai yg di citos, org2 yg udh pernah kesana pada males balik lagi……

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites