Delia, dari pengasong hingga eksportir tas

April 9, 2008 at 1:03 am 8 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 27, Tahun IX, 11 April 2005

Kisah Tas Yogya di Fifth Avenue
Delia, dari pengasong hingga eksportir tas

Awalnya, Delia Murwihartini hanya menitipkan tasnya di beberapa penginapan di Yogyakarta. Kini pelanggannya ada di seluruh dunia. Bahkan ada galeri khusus produknya di kawasan bergengsi Fifth Avenue di New York, Amerika Serikat.

Jangan harap Anda bisa menemukan tas wanita bermerek The Sak di Indonesia. Paling apes, kita hanya bisa mendapatkan merek Read’s, itu pun hanya terdapat di galeri tertentu di tanah air. Kendati tas berbahan baku rotan, pandan, dan tempurung kelapa ini hasil kerajinan tangan (handmade) Yogya, The Sak maupun Read’s tak beredar di sini. Tapi, ia berkelana ke seantero dunia. Salah satu gerainya bahkan ada di kawasan bergengsi Fifth Avenue, New York, Amerika Serikat. Di situ tas ini mejeng dengan label harga US$ 35 hingga US$ 105 per buah.

Kalau sudah begitu, siapa mengira bahwa tas itu adalah buatan Delia Murwihartini. Ia sebenarnya seorang sarjana komunikasi lulusan Universitas Gadjah Mada. Lantaran ogah bekerja kantoran seperti teman-temannya, selepas kuliah Delia malah kursus menjahit. Buntutnya, sejak tahun 1989 ia menjahit tas yang ia titipkan di berbagai penginapan yang banyak mendapat tamu asing, di Prawirotaman, Yogyakarta.

Setiap minggu, tak lebih dari 15 buah tas berhasil ia produksi. “Saya nenteng-nenteng anak pertama saya ikut ngasong,” kenang Delia. Modalnya hanya gunting, jarum dan sebuah mesin jahit merek Butterfly.

Menjajakan tas dari satu guest house ke guest house lainnya, Delia berkeliling mengendarai sepeda motor bututnya. Selain di guest house, ia juga menitipkan tas di Tourist Information Center, di bilangan Malioboro. Meski satu-dua bule terlihat membungkus tas buatannya sebagai buah tangan dari Indonesia, ada juga tas yang tetap nangkring dengan manis di sudut front office. Saat itu tas buatannya tidak punya label merek. Harganya cuma US$ 3 – US$ 5.

Target pasarnya memang orang luar negeri

Kendati murah meriah, toh dari penjualan tas itu ia sudah mengantongi untung bersih 40%, setelah dipotong biaya produksi dan ongkos titip bagi si penjaga guest-house. Ia memang sengaja menjadikan turis asing sebagai sasaran. Baginya, berbisnis dengan bule enggak ada basa-basinya. “Orang Jawa itu kalau bilang iya, kadang-kadang tidak iya,” paparnya. Di samping itu, tentu saja ceruk pasar luar negeri lebih menggiurkan ketimbang pasar lokal.

Mujur tak dapat ditampik. Kurang dari setahun mengasong tas, Delia bertemu bule Swedia yang langsung memesan tas senilai US$ 6.000. Ia harus mengirim pesanan itu dalam waktu satu bulan. Bermodal nekat, ia menyanggupi pesanan itu.

Sayang, pinjaman bank tak juga mengucur ke kantongnya. Padahal, ia harus segera menggarap pesanan tas dalam jumlah ribuan unit. Tak kehabisan akal, Delia lalu menyambangi toko-toko yang menjual bahan baku. Pada mereka, Delia bilang bahwa ia sedang mendapat order namun tak punya uang untuk membeli bahan baku. Karenanya, ia mengajak kerja sama untuk memberikan barang-barang yang dibutuhkan, dan akan dibayar kemudian. “Dan itu berjalan!” ujarnya.

Dengan bahan baku “utangan”, Delia merangkul lima orang perajin lokal untuk menggarap pesanan itu. Para perajin itu memproduksi tas di rumah mereka sendiri lantaran Delia tak punya lahan yang cukup untuk menampung mereka. Makanya, ia rela setiap hari menyambangi para perajin dari satu desa ke desa lain demi mengontrol kualitas tas sesuai standarnya.

Maret 1990, ekspor pertama tas Delia berangkat ke Swedia. Inilah pengalaman pertamanya membuat tas dalam jumlah ribuan dan harus mengatur pengerjaan, mengontrol kualitas, serta mengirimnya dengan rapi. “Dari situ saya punya keberanian, bahwa ternyata barang ini bisa terjual dengan bagus,” ungkapnya.

Sejak itu Delia lebih berani berhadapan dengan calon-calon pemesannya. Pesanan senilai US$ 3.000-US$ 4.000 kemudian masuk dalam daftar order yang biasa ia garap. Salah satu cara menggaet pembeli dari mancanegara itu, ia mendatangi kantor Departemen Perdagangan dan minta daftar perusahaan-perusahaan di Eropa yang membutuhkan tas dari Indonesia. Setelah nama dan alamat ada di tangan, ia mengirimkan katalog tas produksinya. Tak hanya itu, ia berkorespondensi dengan calon pembeli dan berniat menyambangi mereka satu per satu di Eropa.

Akhirnya niat itu kesampaian. Tahun 1991 Delia menyeret satu koper besar berisi contoh tas ke Eropa. Ia menuju Italia, Belanda, Belgia, dan berakhir di Paris. Di negara-negara itu ia menggelar dagangannya di depan calon pembeli dan berpromosi menjajakan tas buatannya. “Wah, saya seperti bakul. Buka koper, dagang sampel tas di sana,” kenangnya. Pulang ke Indonesia, ia membawa setumpuk order. Ia pun menggandeng sekitar 100 orang perajin lokal untuk menyelesaikan pesanan itu. Terpaksa, ia juga mengubah rumah orang tuanya menjadi pabrik tas dadakan.

Berikutnya, Delia juga menyambangi Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) untuk mencari tahu jadwal pameran yang kerap digelar di Eropa. Ia bertekad harus mampu menembus pasar Eropa. Lantaran tabungannya masih tipis, ia mendapat bantuan Dewan Penunjang Ekspor terbang ke Paris untuk menggelar pameran di sana. Pameran ini merupakan awal ia berhubungan dengan dunia internasional untuk perdagangan tas. “Setelah itu saya ketagihan untuk pameran di luar negeri,” tukasnya.

Kerja kerasnya berbuah manis. Pada 1994 ia sudah mampu membangun pabrik di lahan seluas 2.000 m2, di kawasan Parangtritis. Kini pabrik ini luasnya sudah menjadi 1 ha. Delia pun mengibarkan bendera bisnis dengan nama PT Rumindo Pratama.

Menjadi sasaran pembajakan

Tak puas dengan menembus pasar Eropa, Delia terus merangsek ke pasar Amerika. Berikutnya, ia malah mandek mengirimkan tas untuk pasar Eropa yang bermerek Gellarouse, Russel and Brownly, Missoni, dan Massini. Ia ingin berkonsentrasi penuh membangun pasar Amerika. Maka, Delia menggandeng seorang rekan bisnis di Amerika untuk mematenkan tas buatannya di Negeri Paman Sam dengan merek The Sak.

Idealnya, merek ini milik Delia. Namun, ia memilih untuk memberikan hak paten itu pada rekan bisnisnya.

Baginya, memasarkan tas buatannya ke seluruh dunia membutuhkan sumber daya manusia yang hebat dan didukung dengan biaya yang tidak rendah. “Saya enggak merasa rugi, dalam hidup ini ada pilihan yang harus kita ambil,” katanya.

Tahun 1998 ia mendirikan pabrik di atas lahan seluas 6.000 m2 di Sleman. Ia juga meladeni kembali pasar Eropa yang sempat ia hentikan. Karyawannya bertambah hingga 600 orang dengan kapasitas produksi tak kurang dari 100.000 unit tas per bulan. Jika sedang peak season, antara Agustus-September, produksinya mencapai 150.000 unit per bulan. Di tahun yang sama, ia mematenkan merek Read’s yang kualitas dan desainnya mirip dengan tas-tas yang ia produksi sebelumnya. Merek ini ada di pasar Indonesia, Australia dan Swis.

Kini Delia sudah menjadi pemain besar. Salah satu indikasinya, produk-produknya sudah menjadi sasaran pembajak, terutama dari China. The Sak dijiplak dengan menggunakan bahan baku yang berkualitas lebih rendah. “Kalau punya saya harganya US$ 10, mereka jual jiplakannya US$ 3,” keluh Delia.

Ah, ternyata orang Indonesia tak cuma bisa jadi pembajak.

+++++

Selalu Pakai Sample

Sayang seribu sayang, tas buatan Delia tak tersedia di pasar lokal. Ia memang sudah menjual paten berbagai desain dan mereknya, seperti The Sak, Gellarouse, Russel, Brownly, Missoni, dan Massini. Jadi, “Enggak etis untuk menjual barangnya di sini, “kata Delia.

Sebagai pembuat, Delia tentu bisa memakai tas bikinannya untuk keperluan pribadi. Selain bisa mejeng dengan tas yang tak ada duanya di sini, Delia sekaligus menguji tasnya sebelum berproduksi secara besar-besaran. “Saya gonta-ganti tas setiap hari, tapi lihat nih ada tulisan sample di dalamnya ,” pamernya sambil terkekeh.

Femi Adi Soempeno (Yogyakarta)

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , .

[review] Dollar Ngeped 2008 Photo Wedding Sandra Dewi

8 Komentar Add your own

  • 1. tuti prihantini  |  Mei 22, 2008 pukul 2:45 am

    dimana saya bisa menghubungi karena saya ada permintaan dari pembeii di bangkok

    Balas
  • 2. wening ria triantini  |  Juli 27, 2008 pukul 7:19 am

    setahun sekali saya pulang ke yogya,dan setiap pulang saya selalu menyempatkan diri ke galeri reads di godean. tapi sekarang saya sudah tidak bisa lg ke galeri tsb krn sudah tutup. boleh saya tau alamat galeri reads yang baru…..?

    Balas
  • 3. elok  |  Agustus 3, 2008 pukul 7:38 am

    saya salah satu buyer produk ibu delia untuk ekspor, dan saya harus akui produknya laku keras di negara2 buyer saya..keep fighting!

    Balas
  • 4. tsya aladar  |  Agustus 24, 2008 pukul 1:48 pm

    dmn saya bisa menghubungi ibu delia?

    Balas
  • 5. sisyani  |  November 28, 2008 pukul 12:06 pm

    dimana saya bisa contact langsung, saya ada pembeli dari beberapa negara.

    Balas
  • 6. john  |  Januari 27, 2009 pukul 4:27 am

    dimana sy bisa contact ibu delia?? Alamat email dan no hp. kirim ke email sy ya. Trims

    Balas
  • 7. sari  |  Juni 23, 2009 pukul 8:18 am

    saya doakan smoga ibu bisa sukses seperti dulu, dan karyawanpun jd senang & sejahtera. Amiin…!

    Balas
  • 8. Diwi Diu (@diwidayani)  |  Februari 16, 2012 pukul 7:22 am

    Great experince !

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites