Deden Arfianto berbisnis tepung bumbu

April 1, 2008 at 4:23 am 8 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 25 Tahun X, 27 Maret 2006

Memburu Laba Tepung Bumbu
Deden Arfianto berbisnis tepung bumbu

Bermodal alat pinjaman, Deden Arfianto menekuni bisnis tepung bumbu. Belakangan, mantan karyawan bank ini malah mendulang sukses dari tepungnya.

Di zaman yang makin praktis ini, tepung bumbu sangat akrab dengan dapur Indonesia. Maklum saja, tepung berbumbu untuk membalut ayam, seafood, maupun tempe tersebut terkenal praktis. Alhasil, tepung berbumbu siap pakai sangat dicintai oleh orang-orang yang kerap memasak.

Tak aneh juga kalau pemain tepung bumbu semakin banyak. Diawali munculnya tepung Kobe puluhan tahun lalu, beragam merek tepung ada di rak-rak supermarket sekarang. Kebanyakan merupakan produk dari pabrikan bahan makanan. Namun, ada satu merek kelas UKM yang ikut dipajang di pasar modern, yakni tepung bumbu Mitra Qu, milik Deden Arfianto.

Mitra Qu, singkatan dari Mitra Quality, bisa dijumpai di Carrefour, Makro, Superindo, Indomaret, dan Hero. Selain memasok ke pasar modern, Deden juga mengirimkan tepungnya ke perusahaan pembuat nugget dan restoran cepat saji (fast food).

Untuk memasok permintaan pasar ritel dan industri, Deden menghabiskan 50-60 ton tepung sebagai bahan baku setiap bulan. Saat musim liburan sekolah dan Lebaran kebutuhan tepung itu naik dua kali lipat. Jika satu kilogram tepung bumbu dijual dengan harga eceran Rp 12.000, bisa dihitung berapa omzet Deden dalam sebulan.

Seluruh bahan baku itu lantas dipakai untuk membuat enam jenis tepung bumbu, yakni tepung bumbu biasa, marinasi untuk membuat rasa gurih merasuk sampai ke daging, tepung tempura, tepung tabur, dan seasoning. Semuanya bermerek Mitra Qu. “Yang dijual di supermarket hanya tepung bumbu,” kata Deden. Jenis marinasi dijual kepada pedagang ayam potong, dan seasoning dijual kepada pengusaha makanan.

Salah satu restoran yang mendapatkan pasokan dari Deden adalah McDonalds. Menurut Deden, lumayan sulit menembus tembok restoran fast food asal Amerika itu. Maklum saja, biasanya jaringan restoran begini sudah memiliki pemasok tepung sendiri dari negara asal demi menjaga kualitas menu. Tapi, “Mereka juga membutuhkan ingredient mixed, yang kalau diimpor harganya terlalu mahal,” tutur Deden. Di celah inilah Deden berhasil menyusup.

Melongok bisnis Deden sekarang, barangkali tidak ada yang menyangka kalau tujuh tahun lalu ia adalah seorang pegawai bank. Deden bekerja di bagian kredit. Dari situlah, kata Deden, ia mendapatkan banyak ide untuk mulai berbisnis. Pasalnya, ia jadi tahu bahwa orang tidak bisa begitu saja membangun usaha. “Mereka harus menjajaki siapa saja konsumennya. Mulai dari teman-teman sendiri sampai orang lain,” kata lulusan D3 Akuntansi Perbanas angkatan 1986 ini.

Mendatangi arisan pemilik catering

Tahun 1999 Deden memulai usaha tepung bumbunya ini. “Modal saya enggak lebih dari Rp 50 juta,” tuturnya. Uang itu tidak cukup untuk membeli mixer pencampur tepung berukuran besar, yang sangat diperlukan untuk bisnisnya tersebut. Apa boleh buat, terpaksa Deden menumpang mixer milik orang lain. “Saya menumpang giling di tempat orang,” kenangnya.

Sebelum menggiling tepung dalam jumlah besar, Deden berusaha merintis pasar ke katering dan restoran. “Saya mendapat sekitar 10 pelanggan,” katanya. Pelanggan itu didapat dengan cara menunjukkan contoh produk.

Produksi pertama Deden cuma 1 ton sebulan. Tepung bumbu ini dikemas dalam bentuk curah dan dibungkus plastik dari 1 kg sampai 12,5 kg. “Saat itu saya masih belum memakai merek,” kata Deden. Kemasan plastik itu hanya ditempeli stiker bertuliskan “Diva”, singkatan dari Diva Mitra Bogatama, perusahaan yang dibikin oleh Deden.

Sukses melayani 10 pelanggan tetap itu, Deden lantas memperluas pasar. Ia kerap datang ke acara arisan atau pengajian para pemilik katering. “Ternyata ada banyak sekali perkumpulan pemilik katering dan restoran. Ada kumpulan orang padang, orang solo,” tuturnya. Tanpa segan, Deden mempromosikan tepung bumbunya.

Perkembangan usahanya jadi terasa setelah Deden berhasil memasok ke kalangan industri, seperti pembuat nugget dan sosis. Deden jadi berani merekrut orang untuk membantunya di bidang keuangan dan marketing. “Saya sendiri di bagian produksi untuk mengawasi peracikan,” katanya. Tentu saja, selain itu Deden juga harus mengembangkan jaringan pelanggan.

Permintaan dari industri menyebabkan Deden berani membeli dua mesin giling dengan kapasitas 200 ton sebulan. Dengan mesin baru ini Deden pernah membuat sekaligus 30 jenis tepung bumbu. Hal itu dilakukan semata karena permintaan pelanggan baru. “Ternyata saya salah langkah, karena banyak jenis tepung yang tidak ada lagi permintaannya,” ujar Deden. Itulah sebabnya, belakangan Deden memilih berkonsentrasi pada enam jenis tepung bumbu saja.

Selain ke industri, Deden juga berhasil memasok restoran besar dan hypermarket. Mitra Qu mulai dia jual pula di luar negeri. “Sekarang ke New Zealand,” kata Deden yang masih bernafsu menjajaki pasar ekspor lainnya.

Perkembangan bisnis tepung bumbu juga membuat Deden berpikir untuk meluaskan bisnisnya. Ia sudah berancang-ancang mendirikan pabrik teh dalam kemasan sachet serta minuman berenergi. “Persaingan di tepung bumbu sangat ketat. Saya harus mengembangkan bisnis lain, tapi yang ada sekarang tetap dipertahankan,” katanya.

+++++

Sudah Mendarah Daging

Berbisnis seperti sudah mendarah daging pada diri Deden Arfianto. Sewaktu kuliah di Perbanas, Deden juga punya sambilan seperti jualan motor, jualan mobil, dan calo tanah. “Double job-lah,” cetusnya. Namun, menurut Deden, usaha broker seperti itu kurang punya prospek yang bagus. Ia berpikir, sebagai pedagang harus punya tempat jualan. “Maka, saya lalu membikin minimarket,” katanya. Minimarket itu bernama Mitra Kencana dan terletak di kawasan Kelapa gading.

Sementara berbisnis minimarket, Deden mencari kerja sesuai dengan pendidikannya, yakni sebagai karyawan bank. Meski demikian, Deden tetap ingin memenuhi panggilan jiwanya sebagai pengusaha. Karena berbisnis minimarket, Deden jadi tahu mana bisnis yang menurutnya menguntungkan, butuh modal tidak terlalu besar, dan risikonya kecil. Ia percaya bahwa bisnis yang menyangkut makanan-minuman, kesehatan, hiburan, dan pendidikan masuk dalam kategori tersebut. “Itu enggak ada matinya,” ujar lelaki berusia 38 tahun ini.

Belakangan Deden memang memilih berbisnis tepung berbumbu. “Itu yang paling mungkin saya kerjakan,” katanya. Menurutnya, ia tidak akan bisa membikin pabrik susu yang butuh modal gede. Cukuplah ia membuat tepung bumbu dengan modal tidak lebih dari Rp 50 juta.

Umar Idris

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , .

i’m back FITNA dan LOA

8 Komentar Add your own

  • 1. reza pahlefi  |  April 4, 2008 pukul 11:01 am

    halo bang,mba,tante,om,mama,papa,kakek,nenek…
    ada gak sih isi profil dari pengusaha yang sukses…
    pengusaha apa ajalah yang penting sukses

    Balas
  • 2. reza pahlefi  |  April 4, 2008 pukul 11:02 am

    halo bang,mba,tante,om,mama,papa,kakek,nenek…
    ada gak sih isi profil dari pengusaha yang sukses…
    pengusaha apa ajalah yang penting sukses
    kalo ada tolong dong kasih tau aye…
    pleas….
    aye butuh itu semua ..
    makasih ye…..
    moga tetep berjaya

    Balas
  • 3. blogkage  |  April 4, 2008 pukul 2:27 pm

    @reza
    bagaimana definisi sukses menurut ukuran anda ?

    yg sy akan post di sini merupakan artikel dari tabloid kontan di bagian rubrik PROFIL, thx

    Balas
  • 4. LEWAT  |  April 8, 2008 pukul 2:17 am

    ok banget perlu dicontoh!

    Balas
  • 5. na2  |  Mei 8, 2008 pukul 4:02 pm

    help me please……………………….. saya butuh profile dari intraprenur……………..

    Balas
  • 6. Heru Tri Yunarto  |  Juli 25, 2009 pukul 1:23 pm

    Salam sejahtera, bang bagaimana asal muasal abang ini bikin campuran bumbu tepung ini apakah ini merupakan warisan keluarga ato langsung bikin dengan coba2, saya ini mau coba bikin usaha ini, trims semoga sukses selalu

    Balas
  • 7. mustaqimah  |  Juli 20, 2011 pukul 1:28 pm

    mas minta nomor telponya ,cara ordernya gimana?
    minimal order berapa?

    Balas
  • 8. yonijayaabadi  |  Agustus 11, 2011 pukul 3:32 pm

    boss deden kalo mau pesen gmna caranya..sbb ni kami buka restoran fried chicken nugget burge di jogja bisa hub saya…?081357389354/085878987758/02748552102
    trimaksiih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites