Bisnis batik tematik ala Daud

Maret 26, 2008 at 1:37 am 4 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 50, Tahun IX, 19 September 2005

Kisah dalam Secarik Batik
Bisnis batik tematik ala Daud

Pertama kali berbisnis batik, Daud memilih aliran batik tematik yang tergolong langka. Alhasil, batik bikinannya mampir di tubuh para pesohor, seperti Mandela, Khadafi, Bush, dan Mahathir. Ia juga mempunyai galeri di Milan dan Singapura.

Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga. Hal itulah yang dialami K.R.T. Daud Wiryo Hadinagoro yang dibesarkan dalam keluarga batik. Ayah Daud adalah seorang pembatik, sedangkan ibunya berdagang batik. Alhasil, bisnis Daud sekarang tak jauh-jauh dari batik.

Nama Daud sendiri mungkin memang tidak akrab di telinga. Namun, batik hasil coretannya sudah mendunia. Beberapa kepala negara pernah menyandang batik bikinan Daud, sebutlah Nelson Mandela, George Bush, dan Mahathir. Maklum, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, Daud ditunjuk menjadi gift provider Istana Negara. Jika ada kunjungan kenegaraan, presiden akan membawa salah satu karya Daud sebagai buah tangan untuk tuan rumah yang disambangi. “Saya buatkan batik yang sesuai dengan corak dan filosofi negaranya,” ujar Daud.

Tentu saja, sukses Daud menembus istana tidak semudah menuangkan lilin panas dari canting. Ia sempat jatuh bangun menjual batik goresan orang lain. Bahkan, ketika mencoba membuat batik sendiri, karya Daud tidak langsung dikenal secara luas.

Ide membuat batik sendiri muncul ketika Daud mendirikan museum batik di Yogyakarta milik keluarganya, tahun 1997. Kebetulan, ayahnya memiliki koleksi batik keraton Yogyakarta dan Surakarta. “Orang datang dan bilang, wah… batiknya bagus, ya. Kok sekarang enggak bisa buat yang kayak begini lagi?” tiru Daud. Komentar-komentar itulah yang mendorongnya membikin merek batik sendiri.

Meski dibesarkan dalam keluarga batik, Daud merasa gundah lantaran pada saat itu ia harus bersaing dengan lebih dari 6.000 pengusaha batik. Daud pun mencari celah untuk mencuri pasar. Sayangnya, “Modal enggak ada, mau pinjam bank takut,” kata pria berusia 44 tahun ini. Tapi, Daud tak kurang akal. Ia menggandeng Dinas Pariwisata Bantul untuk menggaet turis melihat batik buatan tangannya. Si turis tertarik lantas memesan 2.000 kain. Daud langsung menentukan harga antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per potong yang segera disetujui oleh pembelinya. Deal awal mereka adalah sebanyak 20 potong kain batik. “Itulah modal pertama dan pembeli saya,” kenang Daud.

Daud tetap merasa harus memiliki corak batik yang lain dari batik di pasaran. Ia pun lantas mengambil konsep batik kompeni, yakni batik yang motifnya bisa bercerita tentang peristiwa tertentu. Karya pertama Daud dengan konsep tersebut adalah memindahkan peristiwa bom Bali ke selembar kain batik. Karya Daud ini langsung terkenal lantaran dipajang dalam sebuah pameran. Pilihannya mendokumentasikan tragedi bom dalam sepotong batik sempat menimbulkan pertanyaan. “Saya bilang, saya seniman, saya membuatnya untuk dokumentasi, bukan untuk dipakai,” jelas Daud. Tapi, sejak itu, Daud lekat dengan batik tematik.

Lima kuintal pewarna, dua meter kain

Batik tematik Daud mengambil banyak kejadian. Ia membuat batik dengan tema HIV dan AIDS, lantas membawanya pameran di California. “Mereka terkenal sebagai kota gay, tapi untuk seni dan budaya lebih bisa menerima,” ujarnya. Ada pula batik bertema narkoba dan kebakaran hutan. Daud juga membuat batik bertema perang Irak. “Saya berangkat ke Irak dengan wartawan World Press Foto lalu saya tuangkan ke kain,” kata Daud.

Karena sifatnya lebih pada dokumentasi, harga batik tematik Daud tidak murah. Sekitar Rp 40 juta sepotong. Namun, ia mengaku tidak mendapat banyak laba lantaran batik tematik lazimnya merupakan kerja sama dengan LSM atau lembaga tertentu. “Kita cari dana, lalu uangnya digunakan untuk kampanye,” jelas Daud.

Sebagai pengusaha, tentu saja, Daud tak bisa hidup dari batik tematik yang tidak dijual kepada masyarakat umum. “Harus ada sisi idealis dan sisi komersial. Idealisnya untuk promosi, komersialnya untuk cari duit,” katanya. Demi menjalankan sisi komersial, Daud membuat batik sogan yang diberi nama Sogan Daud. Ciri khasnya adalah paduan warna abu-abu, biru, cokelat, hitam, dan putih. Daud juga tak ragu memasukkan warna lain, seperti warna hijau botol. “Orang bilang, itu warna kompromi,” ujar Daud.

Setelah mempopulerkan Sogan Daud, kini ia membuat batik multidimensi. Batik ini merupakan penyatuan beberapa corak dan warna. Tidak seperti kain biasa, menyatukan warna dan corak dalam batik tulis relatif sulit lantaran kain yang digunakan bisa sobek. “Tapi, kami punya resep bagaimana motif dan warna ini disatukan,” jelas Daud. Hal tersebut membuat batik Daud tampak khas.

Kain bikinan Daud ini cepat sekali dikenal para penggemar batik. Terlebih, karena penyuka batik bisa memesan motif atau warna tertentu. Ia kerap menerima pesanan batik dari empat warna benang yang hasil jadinya harus sama persis. “Tapi, sempat juga ada pemesan yang protes, kok di batik lain ada motif Semar-nya, padahal ia merasa pesan duluan,” kisah Daud sambil tertawa.

Pemesan batik Daud harus rela merogoh kocek antara Rp 3 juta sampai Rp 17 juta untuk sepotong kain. Pasalnya, “Batik ini bukan suvenir, tapi handicraft!” tegas Daud yang ingin memberikan motif khusus pada setiap batik produknya sendiri. Menurutnya, orang tidak mau memakai batik yang motifnya sama persis dengan corak taplak meja atau sarung bantal.

Selain itu, Daud bisa menyatukan puluhan warna pada sepotong batik tanpa merobek kainnya. “Saya memakai lima kuintal pewarna untuk dua meter kain batik,” ucap Daud yang belajar komposisi warna dari Affandi dan Widayat. Itu sebabnya, warna-warna batik Daud begitu jelas mencorong. Tapi, karena menghasilkan limbah cair yang luar biasa, Daud pun harus membangun pengolahan limbah sendiri. Ia menginvestasikan Rp 4 miliar untuk pengolahan tersebut. Tak heran, jika harga batik Daud tidak murah.

Penggemar batik Daud bukan cuma datang dari dalam negeri. Sekarang, Daud sudah memiliki gerai di Milan dan Singapura. Ia mempekerjakan 207 orang, termasuk 194 pembatik yang menangani desain darinya. Ia mengelola lima rumah produksi, dan membuka dua di antaranya untuk dikunjungi para turis yang tertarik pada kegiatan rumah tangga ibu-ibu tersebut.

+++++

Tak Perlu Pakai Gerai

Meskipun dibesarkan dalam keluarga pembatik, awalnya K.R.T. Daud Wiryo Hadinagoro tidak tertarik untuk berbisnis batik. Ia malah menjadi penari jawa di Keraton Yogyakarta. Baru pada umur 15 tahun Daud belajar membatik pada orang tuanya sendiri. Selama tujuh tahun berikutnya, Daud berkutat pada batik. “Saya mondar-mandir ke si A, B, C, sampai semua filosofi batik akhirnya saya ketahui semua,” ujarnya.

Tahun 1998 Daud mencoba berjualan batik. Bersama temannya, Daud membuka gerai batiknya di Mal Pondok Indah. Sebagai pemikat, Daud menjual long torso yang banyak dikenakan nyonya-nyonya indo zaman dulu. Itu sebabnya, batik dagangan Daud lebih dikenal sebagai Batik Nyonya Indo. Sayangnya, setahun kemudian gerai itu tutup karena sewanya terlalu mahal. Daud lantas pindah jualan di lobi Hotel Hyatt Yogyakarta. “Sewanya gratis,” katanya terbahak. Tapi, umurnya juga cuma dua tahun.

Untungnya, Daud telah mengumpulkan cukup modal dan sudah terkenal. Ia menjajal lagi berjualan di Novotel dan Sogo. Namun, gerainya di Sogo justru mengundang protes para pelanggan. “Mereka komplain karena bisa ketahuan kalau beli batik saya,” jelasnya. Maklum, para pelanggan batik Daud ingin tetap memiliki hak eksklusif atas batik mereka. Itu sebabnya, Daud memilih tak punya gerai di pusat perbelanjaan tapi bisa merangkul banyak pelanggan.

Johana Ani Kristanti, Rika Theo

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , .

Mengikuti perjalanan Kahn berbisnis penyelenggara acara Photo-Photo masa lalu Hanung Bramantyo

4 Komentar Add your own

  • 1. rahmat  |  April 3, 2008 pukul 8:05 am

    wah salut atas perjuangannya pak daud, apa lagi dapat membawa nama indonesia ke tingkat yg lebih tinggi dalam seni budaya internasional di tengah2 keterpurukan bangsa…

    Balas
  • 2. donna saragi  |  Agustus 28, 2008 pukul 3:59 pm

    oke dech babe….terus semangat ya be….babe emang top bgt….anak-anak slalu doain babe supaya karya babe ga sampai disitu aja…tapi semakin luas membawa budaya Indonesia hingga ujung dunia….caiyo babe…we luv u always…!!!! GBU

    Balas
  • 3. ardhi  |  September 10, 2008 pukul 8:36 am

    hallo, ini saya mau buat karya tulis mengenai batik kraton. apa bapak bisa membantu saya untuk memberikan informasi tentang batik kraton. Sebenarnya, tema khusus saya mengenai pengklasifikasian,fungsi dan peranannya batik di kalangan kraton yogyakarta.

    Balas
  • 4. Imron  |  April 21, 2011 pukul 4:18 pm

    Saya sbg mantan karyawannya,mrasa sgt bangga dgn pak daud..
    Pak daud hebat!!
    Pak daud memberi inspirasi ke semua orang..
    Sukses buat pak daud.!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

Add to Technorati Favorites