Mengikuti perjalanan Kahn berbisnis penyelenggara acara

Maret 25, 2008 at 12:18 am 3 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 50, Tahun X, 18 September 2006

Banting Setir Membidik Anak-Anak
Mengikuti perjalanan Kahn berbisnis penyelenggara acara

Proyek pertamanya dulu adalah mendatangkan rombongan biksu Shaolin dari China. Meski proyek itu membuatnya rugi, Kahn Warsah tidak putus asa. Rumah dan mobil direlakan untuk modal tambahan. Belakangan, ia beralih membidik pasar anak-anak.

Penduduk Indonesia yang belum pernah melihat Disneyland di Kalifornia atau Hongkong bisa memuaskan rasa suka pada karakter Disney di Senayan, Jakarta. Paling tidak, itulah yang ditawarkan Kahn Warsah ketika hari-hari ini ia menyelenggarakan Disney Lantern Fun-tasy selama sebulan penuh. “Paling tidak, masyarakat kita bisa menikmati karakter Disney, seperti Mickey, Minnie, dan sebagainya,” tutur Kahn. Ia menetapkan harga tiket antara Rp 20.000 sampai Rp 40.000 per orang untuk masuk arena lampion Disney.

Untuk acara terakhirnya ini Kahn menargetkan bisa mengundang 5.000 pengunjung saban hari. Ia sendiri mengaku sudah mengeluarkan kocek Rp 7 miliar. “Itu sudah termasuk royalti ke Disney dan pembuatan lampion,” kata Kahn. Selain di Jakarta, Kahn akan mengusung rombongan Disneynya ini ke Bandung, Surabaya, dan Medan.

Kalau diamati, suasana festival lampion ini tampaknya tidak terlalu ramai. Lahan yang disesaki 20 grup karakter Disney, dari Mickey sampai Nemo, tak penuh sesak oleh pengunjung. Namun, Kahn tetap optimistis bisa memenuhi target yang sudah ditetapkan. “Awalnya memang agak sepi, tapi akhir-akhir ini lumayanlah…,” ujarnya. Lagi pula, Kahn masih punya banyak waktu di kota lain. Kahn memang khusus menggarap acara-acara yang berlangsung lama, yang digelar selama lebih dari dua minggu. “Tidak banyak event organizer yang bisa, lo,” ucapnya.

Harus menanggung kerugian adalah hal yang biasa dalam berbisnis. Kahn juga pernah mengalami kerugian besar, ketika pertama kali ia terjun dalam bisnis penyelenggara acara di tahun 1998. Waktu itu ia mendatangkan 36 biksu Shaolin untuk pentas di Indonesia. Dengan modal Rp 7 miliar, ia merampungkan rangkaian pertunjukan silat itu di beberapa kota. “Tapi, pengeluaran saya lebih dari Rp 8 miliar, “katanya sambil tertawa.

Kahn sangat terkesan dengan proyek pertama itu, terutama lantaran kerugian yang besar sempat membuatnya ribut dengan sang istri. “Ya, saya menghabiskan rumah dan mobil,” kenangnya, masih sembari tergelak.

Rugi sampai ratusan juta tidak membuat Kahn kapok berbisnis event organizer. Soalnya, menurut Kahn, ia punya idealisme yang memang harus dibayar dengan harga mahal. Tahun 1979, ketika masih kuliah di Indonesia, kata Kahn, ia mengalami pelecehan etnis. “Itu membuat saya pergi ke Amerika,” kenangnya. Sampai tahun 1991 Kahn tinggal di sana dan baru kembali untuk bekerja di bidang elektronik. Kahn pernah bekerja di Grundig dan Philips.

Nah, kerusuhan Mei 1998 rupanya membawa kesan yang mendalam untuk Kahn. “Saya berpikir, mungkin kerusuhan segala macam itu adalah karena ada ketidakpahaman budaya China,” ujarnya. Maklumlah, selama Orde Baru pemerintah melarang pentas barongsai dan ritual lainnya. “Jadi, saya punya idealisme ingin memperkenalkan kebudayaan China ke sini,” sambung Kahn.

Disatukan oleh bahasa isyarat

Tanpa buang waktu, Kahn segera mengumpulkan tabungannya untuk modal. Ia mendapatkan Rp 2,3 miliar plus mencari ke kanan kiri, sehingga bisa mengundang rombongan biksu Shaolin dari China.

Ternyata, menurut Kahn, mendatangkan rombongan dari China ini tidaklah semudah menulis surat kepada manajer mereka untuk pentas di Indonesia. Jika para pejabat dan otoritas di Indonesia oke-oke saja, tidak begitu halnya dengan pihak China. “Kesulitan justru terjadi di sana, karena waktu itu jarang ada yang mendatangkan budaya China ke Indonesia,” kata Kahn. Ia pun menurut saja pada prosedur yang sudah ditetapkan. “Bahkan, saya sempat diaudit oleh Departemen Kebudayaan China,” ujar Kahn yang rela kekayaannya diobok-obok oleh auditor tersebut.

Untung saja kerumitan tersebut tidak selalu dialami Kahn. Setelah acara pertama pentas biksu Shaolin sukses, berikutnya Kahn tidak mengalami kesulitan serupa dengan Pemerintah China. Kendati merugi, pergelaran Kahn yang pertama segera diikuti oleh acara berikutnya. Misalnya saja, ia mendatangkan akrobat dari China.

Habis itu, ia banting setir. “Setelah banyak orang bergelut di bidang ini, saya jadi berpikir untuk mengalihkan event ke keluarga dan anak-anak,” ujarnya. Maka, setelah menggarap Disney Lantern, selanjutnya Kahn berencana mengundang The Royal London Circus. Dalam perkiraan Kahn, ada 100 kontainer plus 700 pekerja sirkus yang akan datang. “Itu juga besar,” katanya.

Untuk membantunya bekerja, Kahn merekrut sekitar 17 orang karyawan tetap. Ketika menyelenggarakan acara tertentu, Kahn menambah tenaga menjadi ratusan orang. Sebutlah Disney Lantern ini. “Untuk acara ini saya tahu persis ada 2.000 orang yang terlibat, karena saya mengeluarkan 2.000 ID card,” ujarnya.

Ketika mengundang biksu Shaolin dulu, Kahn menambah 200 orang pekerja. Tidak seorang pun dari karyawan yang direkrutnya berasal dari etnis Tionghoa. Namun, Kahn sangat terkesan, lantaran para karyawan itu bisa berkomunikasi dengan para biksu menggunakan bahasa isyarat. Saat acara sudah selesai, mereka saling mengucapkan salam perpisahan. “Biksu dan pekerja saya itu saling bertangisan, padahal mereka masing-masing pakai bahasa isyarat, lo!” kata Kahn terkagum-kagum.

+++++

Batal Menjadi Dokter Gigi

Hidup Kahn Warsah sebenarnya jauh dari gemerlap dunia hiburan yang sekarang digelutinya. “Ayah saya dokter gigi. Saya juga sempat kuliah di Kedokteran Gigi, “ucap lelaki kelahiran Bandung, 48 tahun lalu ini. Lantaran mengalami hal buruk ketika kuliah, Kahn hijrah ke Amerika pada tahun 1979. Ia belajar teknik industri di Universitas South Florida. Ayah tiga anak ini kembali ke Indonesia pada tahun 1991 dan merintis karier di perusahaan elektronik.

Seperti juga banyak orang lain, kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei 1998 membawa pengaruh yang mendalam bagi Kahn. Ia mengungsikan keluarganya ke Singapura. Namun, Kahn juga memiliki niat lain. Dari saat pindah ke Amerika dulu, sebenarnya ia memendam satu obsesi. “Saya ingin ada perubahan,” kata anak keempat dari sepuluh bersaudara ini. Kahn merasakan banyak ketimpangan ketika sederet ritual etnis Tionghoa dipendam dalam-dalam oleh Pemerintah Orde Baru. “Sehingga ada kesenjangan,” sambung Kahn. Kesenjangan informasi inilah yang dipercaya Kahn menjadi salah satu pemicu kerusuhan.

Pucuk dicita ulam tiba. Pemerintahan masa reformasi memberikan kebebasan yang didambakan Kahn. Tanpa buang waktu, ia segera mengumpulkan modal dan melaksanakan obsesinya. “Momentum itu saya hajar dan berlanjut sampai sekarang, “tuturnya.

Hendrika Y., Aprillia Ika

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , .

Mencicip tawaran waralaba Bakmi Tebet dan Langgara Bisnis batik tematik ala Daud

3 Komentar Add your own

  • 1. sugih  |  April 16, 2008 pukul 4:13 pm

    saya sangat terinspirasi dengan kahn enterprise, bisa minta tolong mint alamt dan no telponnya?? terima kasih

    Balas
  • 2. blogkage  |  April 17, 2008 pukul 12:16 am

    @sugih
    maaf sy lom ada contact person-nya,tq

    Balas
  • 3. aco  |  Maret 4, 2009 pukul 7:59 am

    haloo. . .apa kabar, pa…
    saya coba buka you punya data, trus kpn ada rencana di jkrta
    dan katanya pa clint jg lg mau ada sharing buat di snayan,,
    betul kah?

    Wassalam ,
    ACO

    hp.0812 8822 7984

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

Add to Technorati Favorites