Kisah Danny, si tukang sayur Amazing Farm

Maret 14, 2008 at 12:14 am 7 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 18, Tahun X, 6 Februari 2006

Memetik Laba Aeroponik
Kisah Danny, si tukang sayur Amazing Farm

Mulanya, Amazing Farm hanyalah bisnis sampingan Danny. Tapi, bisnis pertanian aeroponik itu ternyata dengan cepat memiliki pasar sendiri. Profesional di sebuah lembaga keuangan ini pun lantas memilih untuk menjadi petani.

Hujan yang turun berhari-hari belakangan ini menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor di banyak tempat. Danny Kristian Rusli, Presiden Direktur Momenta Agrikultura, ternyata juga prihatin dengan musim hujan berkepanjangan ini. Sebagai pengusaha agribisnis, ia harus segera mencorat-coret, membuat revisi atas pasokan dari sekitar delapan hektare lahan yang dikelola bersama para mitranya. “Kalau hujan terus, kan, enggak ada matahari. Jadi, proses fotosintesis terganggu, sayuran kami bisa enggak panen,” tuturnya lancar.

Biarpun harus membuat revisi pasokan, Danny masih bisa tertawa lebar. “Ya, itu salah satu risiko bisnis ini. Banyak faktor luar yang sangat mempengaruhi, “sambungnya. Sejak 1998, Danny menggeluti agribisnis dengan Momenta. Barangkali, Anda adalah salah satu konsumen sayur keluaran kebun Momenta yang dikemas rapi dalam plastik serta ditempeli merek Amazing Farm.

Sayuran produksi Momenta memang tidak bisa dijumpai di pasar basah dan tradisional. Danny memasok ke hypermarket dan supermarket. “Sayur seperti ini pasarnya terbatas di kalangan tertentu saja,” tutur Danny. Maklum, harganya lumayan mahal. Soalnya, “Ongkos produksi aeroponik tidak murah,” jelas Danny.

Kebanyakan sayur produksi Momenta adalah sayur-sayuran China, seperti pakchoy, kailan, caisim, serta bermacam selada, misalnya lettuce dan butterhead. Namun, Danny juga menanam kangkung dan bayam. Nah, biarpun kangkung dan bayam Amazing ini harganya selangit dibandingkan dengan sayur sejenis di tukang sayur keliling, namun pasokannya nyaris selalu habis.

Kesuksesan Danny ini tentu tidak jatuh begitu saja, seperti hujan dari langit. Ia berkisah bahwa bisnisnya dimulai semata karena kepepet. “Waktu itu 1998 krismon, jadi di kantor juga enggak banyak kerjaan,” kenang Danny yang saat itu bekerja sebagai GM Operasional di sebuah lembaga keuangan bernama Finansia. Karena merasa kurang kerjaan, Danny dan beberapa temannya lantas mencari kesibukan baru. Danny yang lulusan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran lantas berpikir untuk bertani saja.

Kebetulan, Danny dan teman-temannya mendapat pinjaman tanah seluas 2.000 m2 di Lembang. Danny tidak mau bercocok tanam begitu saja di lahan tersebut. Ia berniat untuk mencoba bertanam modern dengan sistem hidroponik. Bibit pertama yang ditanam adalah paprika. Namun, baru panen pertama, Danny sudah merasa gagal. Soalnya, kata Danny, harga paprika naik turun persis cabai. “Ketika menanam, harganya sedang tinggi. Tapi, saat panen, harganya anjlok,” tuturnya. Bibit kedua yang ditanam, yakni golden melon, juga dianggap gagal lantaran perawatannya sangat sulit.

Ide bertani dari negeri tetangga

Beberapa saat kemudian, ketika pergi ke Singapura, Danny diajak seorang rekannya untuk menengok kebun di sana. Betapa kagetnya Danny saat sampai di kebun yang dimaksud. Petani di situ rupanya mengembangkan pertanian aeroponik. “Lahan mereka mahal, jadi menggunakan boks bertingkat-tingkat,” ujarnya. Lagi pula, pertanian aeroponik tidak menggunakan pestisida, makanya bebas hama. Tanaman ini juga lazim dijual bersama akarnya, sehingga usia sayurnya lebih lama, sedangkan masa tanam cenderung singkat.

Danny bak mendapat inspirasi. Ia bertekad mengembangkan pertanian sejenis di Lembang. Tanpa buang waktu, Danny segera membangun greenhouse serta memesan bak untuk menanam bibit. Danny mengaku tidak bisa mencontoh 100% sistem di Singapura itu. Ia melakukan penyesuaian di sana sini. Greenhouse, misalnya, cukup dibuat dengan konstruksi bambu. “Pokoknya tertutup, sehingga hama tidak bisa masuk,” katanya. Danny juga sempat kesulitan saat memesan boks. “Kalau yang di Singapura, mereka bikin dengan tingkat presisi tinggi, jadi kuat dan tidak bocor,” sambung Danny yang membelanjakan uang sekitar Rp 100 juta untuk langkah pertama aeroponik ini.

Tanaman pertama yang dijajal Danny adalah kailan, kangkung, lettuce, serta pakchoy. Panenan tersebut lantas dikemas rapi dengan plastik dan ditawarkan ke Setiabudi Supermarket. Supermarket ini tempat belanja kalangan atas dan orang asing di Bandung. “Sayur dengan kemasan begitu ada added value-nya,” ujar ayah dua anak ini.

Danny juga menawarkan sayurannya ke beberapa pasar modern lain. Maka, ketika permintaan bertambah, Danny pun harus memperluas lahan demi memenuhi permintaan sayur tersebut. Ia lalu menyewa lahan lain seluas 1,5 hektare di Lembang. Di situ, Danny kembali mendirikan greenhouse dan menanam bibit.

Amazing! Permintaan berdatangan, karena Amazing Farm sudah mulai dikenal di hypermarket seperti Carrefour. Alhasil, Danny harus menambah kapasitas produksi. “Soalnya, supermarket dan hypermarket itu ordernya per hari, bukan mingguan atau bulanan,” tuturnya. Maklum, umur sayur hijau begini berbeda dengan komoditas seperti cabai. Dalam waktu sehari dua hari di suhu ruang, warna daun sudah akan berubah. Maka, tahun 2000, Danny mulai membuka kemitraan dengan beberapa orang. Lahannya terdapat di Cipanas, Cimande, dan Tapos. Lama kelamaan, mitra yang dirangkul pun berkembang sampai ke Jawa Timur, Bali, hingga Malino di Sulawesi Selatan.

Atap terbang, modal melayang

Danny punya kiat khusus untuk menjaring mitra bisnis. Menurutnya, sang mitra harus punya komitmen yang besar di bidang pertanian. “Bidang ini enggak gampang, banyak faktor eksternal yang berperan penting,” katanya. Ia tidak mau ambil risiko, jika ada mitra yang putus asa karena panenan gagal, lantas mandek menanam lagi. “Saya yang susah, karena sudah punya pasar yang harus diisi,” lanjutnya.

Agar hasil panenannya standar, Danny memasok sarana produksi seperti bibit dan pupuk kepada para mitranya. Danny pun biasanya sudah punya pasar sendiri, sehingga mitranya tak perlu pusing memikirkan ke mana harus menjual panenan mereka.

Danny punya pengalaman sendiri soal cuaca. Saat tahun 2000, ada angin besar yang bertiup di Lembang. “Karena konstruksinya sederhana, atap greenhouse pada terbang,” kisah Danny. Alhasil, sayuran pun rusak dan panenan gagal. “Kerugian, ya, besar sekali,” tutur Danny tanpa menyebutkan angka. Ya, menurutnya, itulah kemalangan terdahsyat selama menggeluti Momenta.

Selain itu, Danny pernah mengaku membuang sayuran karena harganya sangat rendah. “Itu biasa. Saya yakin, semua petani pernah mengalami,” kata dia.

Panenan gagal adalah bencana besar. Terutama, karena Danny harus memenuhi pasokan ke pasar modern yang berjalan tiap hari. “Kalau dimarahi sama mereka, ya, sering. Didenda juga pernah,” ungkapnya sambil tersenyum. Karena panenan kerap tak bisa diprediksi, biasanya Danny mengonfirmasikan pasokan ketimbang didenda belakangan. “Kalau mereka minta 100 pak dan saya cuma bisa kasih 75%, saya akan beri tahu di depan,” jelasnya.

Saat ini, kapasitas produksi sayur Momenta sekitar 20 ton sebulan. Di luar sayuran aeroponik, belakangan, Danny juga kembali mengembangkan tanaman hidroponik. Ia menjajal peruntungan di tomat buah serta paprika lagi. Meskipun belum banyak, tomat buah Danny bisa kita jumpai di pasar modern dengan merek Fresh.

Danny juga sudah menjajal ekspor sayuran ke Singapura, walaupun belum rutin dan tidak dalam jumlah besar. “Setelah panen di Lembang, sayurnya langsung kami kirim ke Singapura,” ujarnya.

+++++

Bapakku Tukang Sayur

Berpuluh tahun meniti karier di bidang keuangan, Danny Kristian Rusli kembali ke habitatnya. Lelaki 43 tahun ini lulusan Fakultas Pertanian. Namun, ia cuma pernah sekali bekerja di perusahaan agribisnis. Itu pun, “Enggak di kebun, tapi di kantornya,” tutur Danny. Setelah itu, Danny pindah ke Astra Credit Company, lantas hijrah lagi ke Finansia. Di Finansia inilah ia punya sambilan bekerja sebagai petani di Momenta Agrikultura.

Ketika Momenta sudah berjalan selama lima tahun, Danny pun memikirkan hidupnya lagi. Ia berpikir bahwa harus sepenuhnya terjun di agribisnis, jika ingin Momenta menjadi besar. Alhasil, tahun 2003, Danny meninggalkan kursi empuknya sebagai general manager di Finansia dan memilih untuk serius mengerjakan Momenta.

Keputusannya ini, menurut Danny, sama sekali tidak salah. Ia mengaku suka menggeluti agribisnis. Keluarganya pun merestui pilihannya. Anak-anaknya menjawab dengan enteng kalau ada yang bertanya apa pekerjaan sang ayah. “Mereka bilang, bapak saya tukang sayur,” katanya sambil tertawa.

Hendrika Yunapritta.

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , .

Kisah Anthonius Thedy perintis wholesaler pemesanan kamar hotel di Singapura [review kuliner] SOTO SAWAH BU HADI

7 Komentar Add your own

  • 1. Henny Fauziyah  |  Mei 6, 2008 pukul 7:42 am

    Salut untuk Pak Danny!
    Mohon saran dan bantuan mengenai seluk beluk tanaman aeroponi. Saya sangat tertarik untuk uji coba di Kalimantan Tengah. Apabila cocok diterapkan di kalteng, saya ingin serius untuk memulai bidang ini.

    Untuk marketnya, saya sudah ada research kecil-kecilan, dan respon yang saya terima sangat bagus. Di Palangkaraya, harga sayur masih tinggi dan pasokan sayurnya terbatas akibat kendala lahan (mayoritas lahan di Kalteng adalah gambut dan tidak cocok untuk tanaman pangan, jadi sayur-mayur beberapa masih didatangkan dari daerah lain).

    Jadi kalau someday ini bisa terwujud, saya optimis bisa terus berkembang. Saya akan bermitra dengan beberapa orang asing yang kebetulan juga tertarik dengan bidang ini. Saya tidak punya latar belakang pertanian, namun untuk management dan pemasarannya bisa saya handle.

    Mohon bantuan Pak Denny untuk system aeroponic. Buku apa yang bisa saya pelajari? dan apakah Amazing Farm membuka kursus individu?

    With best wishes,
    Henny

    Balas
  • 2. Lya (Nazlya Syahputri)  |  Juni 16, 2008 pukul 12:48 pm

    saya bangga punya senior seperti kang Danny. pertemuan sabtu kemarin di kampus membuat saya semakin bangga saja.

    tidak hanya seorang pengusaha sukses,tapi beliau juga seorang motivator yang luar biasa. kata-kata kang dannya masih saya ingat dan semoga saya juga bisa menyusul beliau dalam deretan nama pengusaha sukses Indonesia..memang benar kang, SEMANGAT ITU MENULAR!!

    ALL THE BEST FOR US

    Lya

    Balas
  • 3. agung nugraha  |  Juni 17, 2008 pukul 12:27 pm

    setelah pak dani memberi kuliah umum pada kami di unpad beberapa saat yang lalu, saya makin terdorong untuk terus berusaha dalam hal berwirausaha….
    ternyata bergelut didunia pertanian sangatlah menguntungkan apabila dilakukan secara sungguh-sungguh dan tak pernah putus asa….
    saya merasa tersentak ketika anda bercerita tentang hasil pertanian yang mencapai 9 ton gagal di ekspor dan dibuang begitu saja…..tidak dapat dibayangkan bagaimana kerugian yang anda dapatkan….tapi semangat pantang menyerah ini yang amat saya kagumi…..
    salut bwt pak dani

    Balas
  • 4. dinny jusuf  |  Agustus 11, 2008 pukul 7:44 am

    dear danny,
    it was really inspiring to talk to both of you and erdhi last saturday.
    it’s clear, that you are really committed to being tukang sayur.
    amazing!

    i hope to see you soon and both (my) danny and i cannot wait to take you to toraja

    salam,

    dj

    Balas
  • 5. syaifullah  |  April 20, 2011 pukul 10:50 am

    salud pak denny, saya seorang karyawan sebuah perusahaan tembakau. saya terinspirasi cerita pak denny. bagaimana caranya dan apakah bisa melakukan kemitraan karena saya di daerah jawa tengah. mohon juga standar teknis secara aeroponik ataupun hydroponik. mohon petunjuknya, karena saya ingin sekali usaha agribisnis tapi belum tahu caranya

    Balas
  • 6. basuki  |  April 25, 2011 pukul 1:52 am

    assalamualaikum wr.wb
    saya adlah salah satu org yg suka dunia agribisnis, dan seluruh produk pertanian,peternakan dan perikanan,sya akan sgt merasa bangga mlihat org yg tdk mmbanggakn mnjadi karyawan/PNS,jd pengusaha trutama petani adlah pkerjaan yg mnjanjikn kbhgiaan dunia akhert,sya jg lg merintis usaha pnjualn sayur mayur dan daging dan telur,guna mmbntu petani dan peternak dalam mmasarkan produknya,mudah2n usaha kita bs mmberikan mnfaat dunia akhert

    Balas
  • 7. engkus - cigedug garut  |  Mei 14, 2011 pukul 7:27 am

    terima kasih kepada amazing farm yang telah banyak melakukan kemitraan dengan petani, pada tahun 2010 kami engkus di garut telah mengadakan demplot tomat beef, dan produknya telah dipasarkan ke amazing farm, rencananya demplot tersebut akan dilanjutkan dengan penanaman secara luas dengan pola tanam yang akan diatur oleh amazing farm. Anggota kelompok tani kami di cigedug merespon rencana tersebut, cuma kemitraan tersebut sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya. Kami sangat mengharap program kemitraan tersebut segera terealisasi. kami sangat menunggu konmfirmasi selanjutnya. terima kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

Add to Technorati Favorites