Kisah Anthonius Thedy perintis wholesaler pemesanan kamar hotel di Singapura

Maret 13, 2008 at 1:30 am 2 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 30, Tahun IX, 2 Mei 2005

Si Unyil Raja Kamar Hotel
Kisah Anthonius Thedy perintis wholesaler pemesanan kamar hotel di Singapura

Setelah 11 tahun malang melintang di bisnis agen perjalanan, Anthonius Tedy akhirnya berani mendirikan Jakarta Express, wholesaler pemesanan kamar hotel. Kini cabangnya ada di delapan kota besar di Indonesia dan di Singapura.

Liburan dan perjalanan ke luar negeri akan terasa menyenangkan bila kita sudah menyiapkan segala urusan akomodasi dan transportasi jauh-jauh hari sebelum berangkat. Selain bisa menikmati liburan, harga yang kita dapat pun bisa lebih murah daripada beli mendadak.

Khusus untuk kamar hotel, harga murah ini didapatkan oleh agen perjalanan dari wholesaler yang berhubungan langsung dengan hotel-hotel di luar negeri. Wholesaler ini semacam distributor atau pembeli borongan kamar hotel di luar negeri, lalu menjajakan secara ritel pada agen-agen perjalanan di dalam negeri. Konsumen nyaris tak ada yang tahu, siapa wholesaler yang menjadi dalang dan bandar kamar hotel murah ini.

Perintis wholesaler di Indonesia adalah Anthonius Thedy. Pria mungil ini melalui perusahaannya Jakarta Express. menguasai 80% pasar Singapura, “Malah banyak yang ngeledek saya dengan sebutan si Unyil,” ujar Anthon.

Anthon tidak pernah menyangka ia akan menjadi wholesaler kelas kakap di Indonesia. Dulu, waktu kecil, ayahnya sangat ingin ia menjadi dokter. Atau minimal ia me-warisi usaha ayahnya berdagang alat elektronik di Sukabumi, Jawa Barat.

Sayang, ia keburu kepincut dengan travelling sejak ayahnya mengajaknya bertandang ke Jakarta Fair saat ia masih duduk di kelas 4 SD. Ketika itu, setelah kembali dari Jakarta, ia mengusulkan pada kepala sekolah agar teman-temannya mengunjungi Jakarta Fair. Buntutnya, ia malah diminta untuk mengurusi piknik sekolahnya ke Jakarta Fair. “Dari situ keinginan saya untuk mengurusi orang tour muncul,” kenangnya.

Lulus SMP, Anthon berkeras agar bisa masuk sekolah pari-wisata di Jakarta. Akhirnya ia menemukan Sekolah Pariwisata Menengah Atas Santa Theresia, di belakang pertokoan Sarinah, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. “Saya mendaftar, tapi enggak lulus tes,” ujar Anthon. Tak putus asa, ia mengajak sang ayah menemui kepala sekolah, dan ia diperbo-lehkan masuk dalam daftar tunggu. Hoki agaknya memang berpihak pada Anthon. Ada murid yang membatalkan masuk di sekolah itu sehingga akhirnya ia diterima untuk menggantikannya.

Kutu loncat di bisnis agen perjalanan

Lulus dari sekolah pariwisata tahun 1980, Anthon menjadi rebutan beberapa agen perjalanan dan perusahaan penerbangan. Maklum, ia berhasil menyabet gelar juara II di sekolahnya. Dasar si Unyil sudah kebelet bekerja, ia tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi memilih bekerja di Vaya Tour yang memiliki reputasi paling baik pada masa itu. “Saya sangat senang bekerja di sana walau saat itu saya mendapatkan upah paling rendah,” katanya.

Selama enam tahun bekerja di Vaya Tour, karier Anthon boleh dibilang cerah. Ia sempat menjadi supervisor atau tour manager. Tahun 1986 ia mundur dari Vaya Tour dan mencari tantangan baru di agen perjalanan lain. Bak kutu loncat, setiap tahun ia lantas berpindah dari agen perjalanan satu ke agen lain. Semula ia pindah ke Bayu Buana, lalu ke Rama Shinta, terus ke Dwidaya, dan terakhir ke Continental. Di agen-agen perjalanan tersebut ia memiliki posisi lumayan dan gaji yang lebih dari cukup. “Tapi saya ingin keluar dan keinginan ini enggak bisa ditahan,” katanya bersemangat.

Keinginan untuk berhenti sebagai kutu loncat di agen perjalanan itu terwujud tahun 1991. Impiannya sederhana, ingin punya perusahaan kecil yang membeli voucher kamar hotel di luar negeri dan menjualnya pada agen perjalanan di Indonesia. Pekerjaan ini namanya wholesaler. Ladang ini biasanya digarap agen perjalanan kelas kakap yang menjual voucher pemesanan kamar hotel ke agen perjalanan kelas teri, tapi atas nama agen perjalanan kelas kakap.

Anthon lantas mengubah model bisnis di bidang ini. “Saya merangkul agen perjalanan kecil,” tuturnya. Dengan bekerja sama dengan Anthon, biro-biro kecil itu lantas bisa menggunakan voucher dengan nama mereka sendiri. Tentu ini menaikkan gengsi biro perjalanan di mata kliennya. Dan ini berpengaruh penting bagi kredibilitas dan promosi.

Atas izin sang istri, Anthon mendirikan perusahaan “kecil-kecilan” dengan label Jakarta Express dengan menyekat ruang depan rumahnya di bilangan Krekot, Pasar Baru. Ia mengajak istri dan adiknya untuk bekerja sama membangun usaha wholesaler pemesanan kamar hotel di Singapura.

Saat itu modal Anthon adalah jaringan hasil 11 tahun malang-melintang di bidang travel. “Modal lainnya, modal dengkul, yaitu berlutut dan berdoa,” ujarnya lirih. Karena belum ada agen serupa di Indonesia, Anthon pun tak ingin mempertaruhkan semua simpanannya untuk bisnis baru yang belum ketahuan untung-ruginya. Bahkan, saking minimnya modal, mobil yang ia pergunakan pun merupakan mobil pinjaman dari orang tuanya di Sukabumi.

Setelah tiga bulan menggunakan bagian depan rumahnya, ternyata bisnis berkembang. Ia mulai berani menyewa kios di Glodok Plaza. Ukurannya terbilang kecil, hanya 12 meter persegi. “Itu milik teman, tapi dia enggak pakai, saya bayarnya nyicil,” kata Anthon. Setahun, ia sudah bisa mengusung semua asetnya ke ruko sewaan di bilangan Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat.

Tahun 1993 ia membuka kelas training bagi para karyawan agen perjalanan dan mulai meracik paket wisata. Karena penetrasinya cukup luas, tahun 1994 tabungannya cukup untuk membeli satu ruko tiga lantai di Harmoni Plasa, senilai Rp 100 juta. Tahun itu ia mencicipi kue wholesaler pemesanan tiket kapal pesiar Star Cruise yang berlabuh di Singapura. Ia juga ditunjuk Pemerintah Australia menjadi perwakilan pariwisata Australia di Indonesia selama 10 tahun. Kemudian, pada 1995, ia menjadi General Sales Agent (GSA) tiket penerbangan.

Tantangan datang silih berganti

Jalan yang dilalui Anthon di Jakarta Express tak selalu mulus. Anthon selalu punya dua pilihan untuk memperlakukan rupiah demi rupiah yang berhasil diraupnya: dibiakkan ke bisnis lain atau dipindah dalam nilai dolar AS. Pilihannya jatuh pada pilihan kedua, yaitu mengubah rupiah menjadi dolar. “Saat itu saya enggak dapat benefit tambahan,” kenangnya. Tapi begitu krisis moneter menghantam negeri ini tahun 1997, di saat sebagian besar perusahaan kolaps, perusahaan milik Anthon malah makin mencorong.

Bayangkan, di saat tak ada bank yang berani memberi garansi pada agen-agen perjalanan Indonesia, Anthon berani mendepositokan Sin$ 5.000- Sin$ 10.000 di setiap hotel di Singapura. Dengan demikian, semua agen perjalanan di Indonesia bisa menembus pasar pariwisata Singapura melalui tangan Anthon.

Kini Anthon menempati ruko 4 lantai di kompleks Ruko Atap Merah di bilangan Pecenongan Jakarta pusat. Ruko senilai Rp 2 miliar itu ia tempati sejak tahun 2002. Dari balik mejanya, ia melayani tak kurang dari 3.000 agen perjalanan di Indonesia. Selain di Jakarta, Anthon membuka gerai Jakarta Express di Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Batam, Bali, Balikpapan dan Singapura.

+++++

Jagoan di Tanah Seberang

Para pelancong dari Indonesia memang tak mengenal nama Anthonius Thedy, wholesaler pemesanan kamar hotel di Singapura. Tapi bagi agen perjalanan di Indonesia maupun mancanegara, nama ini terbilang disegani karena inovasi produknya yang tak pernah berhenti.

Dalam mempromosikan produknya, pemilik Jakarta Express ini punya prinsip: apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapat. Aturan ini ia pegang sungguh-sungguh. Tengok saja paket promosi yang ia bikin bersama dengan pemilik kawasan perbelanjaan Mustafa Centre yang buka 24 jam di Singapura namun jarang dilirik lantaran kalah beken dengan Orchard. Saat itu ia membuat voucher senilai Sin$ 20 untuk shopping di Mustafa Centre. “Itu diberikan tanpa neko-neko, tanpa embel-embel,” ujar Anthon. Syaratnya hanya satu, yaitu belanjanya harus dari pukul 22.00-07.00 waktu setempat.

Paket ini mestinya dipromosikan selama satu bulan, tapi dalam dua minggu paket ini ludes terjual. Inilah yang menyeret Anthon meraih penghargaan The Most Innovative Marketing Effort by A Foreign Tour Operator pada acara The 18th Tourism Awards Singapore 2004. Awalnya, Anthon ogah ikutan mendaftar untuk kompetisi ini. Namun karena dipaksa oleh beberapa rekan bisnisnya, ia akhirnya mengirimkan aplikasi di minggu terakhir sebelum pendaftaran ditutup. Hasilnya, Anthon berhasil menyabet juara pertama dan menyisihkan 366.000 formulir aplikasi dari seluruh dunia. Kata dewan juri, terobosan Anthon tidak hanya menjual destination saja, tapi tiket pesawat, hotel, plus tour, plus voucher. “Judulnya, Night Shopping at Mustafa,” ujar Anthon bangga. Padahal, paket ini sempat ditertawai rekan-rekannya karena diramalkan tak akan laku.

Selain penghargaan atas terobosannya di Mustafa Centre itu, ia juga sempat mengantongi Tourism Award dengan kategori Sales Agent No. 1 dari Hotel Royal Plaza di Singapura. Lalu, Top Supporter dari Grand Plaza Hotel Singapura. Yang paling membanggakan Anthon adalah TTG Travel Award untuk kategori The Best Agent in Indonesia dari para pelaku bisnis pariwisata se-Asia Pasifik yang diberikan pada 12 Oktober 2004.

Walau pariwisata dalam negeri tak secerah negara tetangga, toh ada juga jawara dari dalam negeri yang meraih penghargaan pariwisata di tingkat regional. Lumayanlah.

Femi Adi Soempeno

Iklan

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , .

Kisah Antarina membesarkan High/Scope Indonesia Kisah Danny, si tukang sayur Amazing Farm

2 Komentar Add your own

  • 1. erwin  |  Juli 26, 2008 pukul 2:40 am

    bravo anthoonius thedy, hope get success always.

    Balas
  • 2. Haris Margatour  |  Februari 17, 2009 pukul 12:14 am

    Great Businessman!!! salut..gw baru baca profile ini, n comment gw ttg ” Si Unyil” Great…!!! gw sbg pemaen baru di bidang Tour & Travel sgt termotivasi oleh kisah di atas! best regard -Haris Margatour Bdg-

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

Add to Technorati Favorites