Djunaidi menjalankan grosir kerudung

Februari 28, 2008 at 1:26 am 13 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 20, Tahun X, 20 Februari 2006

Kian Ayu Bermodal Kerudung
Djunaidi menjalankan grosir kerudung

Toko Dewi Ayu, di Tanahabang, adalah sumber banyak kerudung yang dijual di berbagai pelosok Indonesia. H. Dja’far, pendiri Dewi Ayu, sudah tiada. Tapi, Djunaidi mewarisi keuletan bisnis sang ayah. Inilah kisah keluarga pedagang asal Pariaman yang mencari peruntungan di Jakarta.

Pasar Tanahabang sudah kondang sebagai pusat perdagangan garmen terbesar di Asia Tenggara. Di sinilah sumber beragam jenis pakaian, baik untuk anak-anak sampai kakek nenek. Tentu saja, termasuk berbagai kerudung atau jilbab yang dikenakan wanita muslimah. Nah, gudangnya kerudung di Tanah Abang adalah Toko Dewi Ayu yang berlokasi di Blok F.

Memang, Toko Dewi Ayu terbilang pemain besar kerudung dan jilbab. Riwayat toko yang berdiri sejak tahun 1971, ketika dinding di Pasar Tanahabang masih terbuat dari papan, ini tidak bisa dipisahkan dari H. Dja’far, pendirinya.

Sebelum ke Jakarta, Dja’far yang berasal dari Pariaman ikut merantau bersama pamannya, berdagang pakaian di Medan. Tahun 1970 Dja’far diutus untuk pergi ke Pasar Tanahabang, Jakarta. Di sini ia menjadi orang kepercayaan sang paman untuk memastikan kualitas barang pesanan dari Medan. Selain itu, Dja’far menyambi berdagang pakaian sendiri. Ia menamai tokonya persis seperti nama anak pertamanya: Dewi Ayu.

Dja’far memilih berdagang kerudung karena waktu itu pedagang jilbab masih sangat sedikit. Ketika memulai usaha sendiri, tahun 1971, Dja’far bermodalkan uang Rp 1 juta. Ia menempati salah satu kios di Blok A. Kala itu satu kodi kerudung harganya Rp 3.000. Dalam sehari Dja’far bisa menjual sekitar 20 kodi kerudung.

Di bisnis inilah rupanya Dja’far mendapatkan hoki. Bahkan, Pak Haji ini sempat mengembangkan bisnis baru, berupa bisnis bordir. Ia mengandalkan modal empat mesin bordir. Sayang, karena kalah saingan, bisnis ini terpaksa ditutup pada tahun 1990.

Saat pindah ke Blok F, tahun 1989, Dja’far juga mencoba peruntungan lain. Ia menjajal berdagang karpet dan sajadah di Dewi Ayu. Kebetulan, menurut Djunaidi – anaknya yang meneruskan usaha Dewi Ayu-waktu itu Dja’far-lah satu-satunya pedagang karpet dan sajadah di Tanahabang. “Karpet lagi laku-lakunya, sedangkan di Tanahabang cuma kami sendiri yang jualan,” tuturnya. Sementara itu, Dja’far sudah mendirikan toko lain yang bernama Putri Ayu, yang juga menjual kerudung.

Sayang, lama-kelamaan pedagang karpet dan sajadah bertambah. Akibatnya, kata Djunaidi, laba pun terpaksa dipotong karena persaingan sengit. “Kadang satu karpet cuma untung Rp 5.000. Cuma nyape-nyapein aja,” kenang Djunaidi. Maklum, berdagang karpet yang ukurannya satu-dua meter persegi ini cukup ribet. “Orang yang mau beli kan mesti buka karpetnya dulu, lihat motif,” sambungnya.

Lantaran laba dipangkas, fulus yang mengalir ke dompet Dewi Ayu pun berkurang. Alhasil, Dja’far kembali ke komoditas awalnya dulu, yakni menjual kerudung lagi.

Saat anaknya yang bernama Dewi Ayu menikah, Dja’far mendirikan lagi toko Ayu’s Craft. Semua tokonya itu berdagang kerudung. Kerajaan kerudung Dja’far bertambah lagi setelah menantunya mendirikan jaringan toko Sultan yang memiliki tujuh kios.

Warisan utang yang harus dibayar

Namun, Dja’far tidak lama menikmati keuntungan dari toko-toko kerudungnya ini. Ia meninggal tahun 2003. Meski demikian, semua toko tersebut masih berjalan dan memiliki omzet miliaran. Mereka sama-sama menjual kerudung, tapi tidak saling bersaing. “Sebab, ilmunya sama. Semua berasal dari sini, dari Dewi Ayu,” tutur Djunaidi. Mereka tidak saling bersaing karena menjual kerudung dengan motif dan bahan yang berbeda.

Seperti juga ayahnya, Djunaidi membeli beberapa jenis kerudung. Ada yang masih meteran, ada pula yang sudah berbentuk kerudung. Maka, Djunaidi harus menjahit bahan meteran itu supaya membentuk kerudung. Di rumahnya, Djunaidi mempekerjakan empat penjahit yang mampu menjahit 200 kodi kerudung saban hari.

Sejak mengambil alih kendali Dewi Ayu, Djunaidi memiliki belasan pelanggan setia dari berbagai provinsi di Indonesia. “Paling besar masih dari Makassar, Banjarmasin, dan Padang,” kata Djunaidi. Selain itu, tentu saja, kota-kota di Jawa. Pelanggan Dewi Ayu kebanyakan adalah pedagang grosir di daerah tersebut. Kebanyakan dari mereka itu adalah pelanggan semenjak zaman ayahnya berjaya. Kendati begitu, “Banyak juga, kok, yang baru,” kata Djunaidi.

Bulan puasa merupakan bulan penuh berkah bagi Djunaidi dan Dewi Ayu. Pelanggan grosirnya, yang jumlahnya sekitar 17 orang itu, memborong tak kurang dari 68.000 kodi kerudung dari Dewi Ayu. Dari para pelanggan itu saja omzet Dewi Ayu mencapai Rp 7 miliar selama Ramadhan. “Jadi, memang bulan puasa itu waktu-waktu mencari duit yang bagus,” kata Djunaidi sembari tersenyum.

Tapi, namanya orang dagang, ada juga hari sepinya, yakni lima bulan setelah Idul Adha. Saat sedang sepi, omzet Djunaidi bisa-bisa cuma ratusan juta rupiah dalam sebulan. “Kalau bulan sepi seperti sekarang, itung-itung cari uang untuk sewa tempatlah,” ujar Djunaidi, yang sudah sepenuhnya memiliki kavling Dewi Ayu.

Selain mewariskan usaha Dewi Ayu, Dja’far juga meninggalkan utang sebesar Rp 11 miliar kepada Djunaidi. “Ada yang berprinsip, utang harus dibayar biarpun sudah meninggal,” kata Djunaidi yang bertekad melunasi utang ayahnya. Seluruh utang Dja’far adalah utang kepada pemasok.

Awalnya, Djunaidi mengaku sempat bingung bagaimana merampungkan utang tersebut, karena sebelum ayahnya meninggal ia cuma berdagang setengah hati saja. Untung saja, hubungan Dja’far dengan sang pemasok sangat baik. Jadi, Djunaidi bisa mengangsur utangnya secara bertahap. “Lunasnya, ya, lunas berputar,” tuturnya. Alhasil, utang tersebut bisa diselesaikan dalam waktu setahun.

+++++

Enggan Kuliah

Sebelum menggantikan ayahnya berdagang, Djunaidi tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan Trisakti angkatan 1994. Ketika memasuki semester enam, ia pindah dari kampus Rawasari ke Grogol. Tak lama kemudian, pecahlah Peristiwa Trisakti yang kemudian menyulut para mahasiswa berdemonstrasi. “Sejak Peristiwa Trisakti saya malas kuliah karena Fakultas Ekonomi jadi sering tawuran,” tutur Djunaidi.

Djunaidi memilih untuk berhenti kuliah dan membantu bapaknya berdagang. “Setelah bapak meninggal, barulah saya full terjun seratus persen,” katanya.

Dja’far sendiri mewariskan banyak prinsip untuk Djunaidi. Prinsip itulah yang dipegang oleh Djunaidi dalam menjalankan Dewi Ayu. “Di Tanahabang ini soal laku atau tidaknya itu masalah kehati-hatian,” kata Djunaidi, “Masalah maju atau tidak itu soal kepercayaan dan kejujuran.”

Djunaidi sangat terkesan dengan ayahnya yang tanpa modal apa pun bisa mengembangkan bisnis kerudung di Tanahabang. “Bapak saya masuk Jakarta modal baju dan celana doang,” ucapnya. Karena, menurut Djunaidi, kejujuran Dja’farlah yang mengundang banyak pihak untuk memberi pinjaman barang sehingga ayahnya itu tidak perlu keluar modal besar.

Umar Idris

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , , .

ANGKRINGAN SARI DELE MANGUT LELE MBAH DARTO NGGENENG

13 Komentar Add your own

  • 1. eka  |  April 17, 2008 pukul 8:29 am

    Saya berminat untuk usaha pasang payet di jilbab/bergo/kerudung, apakah Bapak bisa bantu saya ? Saya akan dibantu oleh ibu-ibu di lingkungan RT saya. Saya siap ambil kerudung dan payet (yg belum dipasang) kemudian saya antar kembali ke toko Bapak. Tapi sebelumnya saya bisa tau berapa harga pasang payet per kerudungnya ?

    Terima kasih
    Salam

    Balas
  • 2. blogkage  |  April 17, 2008 pukul 9:38 am

    @eka
    maaf pak, untuk sementara ini sy belon bisa bantu dan sy belon menemukan contact person dari pak junaidi, mgkin anda bisa maen ke blog temen2 TDA, di antaranya http://hadikuntoro.blogspot.com/ , thx

    Balas
  • 3. nuraini  |  April 30, 2008 pukul 2:55 am

    pak, saya sedang mencari kerudung warna merah cabe mungkin sebanyak 10 kodi yang harganya per buah Rp. 5.000,- . apakah bapak bisa membantu saya, atau saya datang langsung ke toko bapak ? terimakasih

    Balas
  • 4. ghaisajilbab  |  Mei 7, 2008 pukul 5:34 am

    assalamualaikum…
    saya dari jawa timur, apakah saya bisa dikirimi katalog produk kerudung DEWI AYU, karena saya ingin sekali menjadi reseller DEWI AYU, namun karena keterbatasan jarak dan waktu sy tidak bisa berkunjung langsung kesana. email saya firmala22@yahoo.com minta tolong dibalas yah, tks. wassalam…

    Balas
  • 5. dede supriati  |  Mei 9, 2008 pukul 1:05 am

    Assalamualaikum wr wbr
    saya dede dari karawang kebetulan bulan lalu saya ke tanah abang saya cari2 toko dewi ayu tapi ga ketemu,kalau boleh tahu blok F nya sebelah mana dan bisa ga kita pesan kerudung via telepon, dan kalau ada katalognya saya minta dikirimi.
    tolong di balas ya…
    Wassalam

    Balas
  • 6. blogkage  |  Mei 9, 2008 pukul 11:29 am

    @dede,.ghaisajilbab

    Wa alaikum salam wr wb
    untuk alamat pak djunaidi sy lom tahu persis, karena ini merupakan artikel copy paste dari web tabloid KONTAN

    anda bisa langsung menanyakan ke : red@kontan-online.com

    thanks

    Balas
  • 7. bundayumna  |  Juni 19, 2008 pukul 9:57 pm

    bundayumna menawarkan bross buat kerudung silakan mampir di bundayumna.blogspot.com

    Balas
  • 8. pratisena  |  Oktober 27, 2008 pukul 10:20 am

    bos, punya contoh2 kerudung terbaru kah ? siapa tahu di tempat saya byk peminatnya. Thank’s.

    Balas
  • 9. pratisena  |  Oktober 27, 2008 pukul 10:32 am

    ini mail sy boss…

    Balas
  • 10. pratisena  |  Oktober 27, 2008 pukul 10:34 am

    pratisena@gmail.com

    Balas
  • 11. pratisena  |  Oktober 27, 2008 pukul 10:48 am

    boss, kalau ada contoh2 kerudung terbaru tlng kirim ke saya boss….
    pratisenazk@gmail.com
    thank’s.

    Balas
  • 12. Aris  |  November 25, 2008 pukul 3:46 pm

    Saya produsen kerudung dari Cianjur ingin menawarkan produk kerudung langsung pakai, berbagai macam motif, bahan dari kaos yg tidak panas jika di pakai, mulai dari motif, polos, kombinasi.
    Kerudung Batik Full : 280rb/kodi
    Kerudung Batik Kombinasi : 250rb/kodi
    Kerudung Motif dan Polos : 160rb/kodi
    Pembelian Minimal 3 Kodi, Untuk Pembelian diatas 5 kodi discount 5%. Berminat hub Rizz Collection di 081805737356

    Balas
    • 13. Hardi Kurniawati  |  Maret 18, 2012 pukul 10:43 am

      buat produsen kerudg siap pakai dr cianjur,sy tertarik sekali dg penawaran ini..bs lht pt2 coth jilbab nya gak ya?ada laman web yg bs saya kunjungi gak?makash sblm n sesudahnya..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Kategori

Add to Technorati Favorites