Kisah Komalasari berbisnis belut

Februari 26, 2008 at 3:10 pm 29 komentar

PROFIL
Tabloid Kontan No. 49, Tahun X, 11 September 2006

Mengurut-urut Laba sang Belut
Kisah Komalasari berbisnis belut

Dari sekadar meneruskan bisnis kecil-kecilan di keluarganya, Komalasari menjadi juragan produk olahan dari belut. Sekarang ia melibatkan sekitar 200 pencari belut untuk memenuhi kebutuhan produksinya sebanyak satu kuintal belut sehari.

Kendati kalau digigit hanya menghasilkan bunyi kriuk… kriuk…, dan segera hilang ditelan perut, janganlah meremehkan sebatang belut goreng. Perjalanan belut mentah sampai ke tangan konsumen dalam kondisi siap makan tidaklah singkat. Pengolahan belut juga bisa menjadi sumber asap dapur plus sandaran hidup ratusan orang, seperti yang dilakukan Komalasari.

Komalasari, wanita setengah baya dari Sukabumi, memang identik dengan belut. Cobalah menelusuri Cianjur sampai Sukabumi. Di sana niscaya dengan mudah kita temukan olahan belut dalam plastik dengan beragam merek berbau Komalasari. Ada yang menaruh nama Komalasari, Komalasari Asli, dan semacamnya. Namun, Komalasari yang serius menggarap bisnis belut sejak 1990 justru menempelkan label Flamboyan pada produk belut bikinannya.

Komalasari memproduksi sekitar 12 jenis olahan belut; mulai dari keripik, balado, abon, sampai jamu dari belut. Untuk memasok pasar yang sudah dikuasainya, Komalasari mengolah sekitar 1 kuintal belut segar setiap hari. Hasil olahan belut itu lantas dijual dengan harga beragam.

Komalasari tidak hanya menitipkan olahannya di warung-warung kecil seputar rumah, namun juga gerai ritel lain. Maka, Komalasari membikin banyak versi kemasan belut. Misalnya, untuk warung kecil ia menaruh belut kemasan kecil yang harganya Rp 2.000. “Kalau untuk pameran kita perbesar kemasan, harganya Rp 10.000,” tuturnya.

Seperti lazimnya pengusaha makanan lain, Komalasari juga mengirimkan produk belutnya ke mancanegara, sebut saja ke Dubai. Menurut dia, pesanan tersebut berasal dari permintaan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bermukim di sana. “Biasanya saya mengirim sekitar 100 kg, lewat kargo saja,” kata ibu tiga anak ini. Selain ke Dubai, Komalasari juga baru saja mendapatkan pesanan belut segar sebanyak 2 ton per bulan dari Korea Selatan. “Sedang saya usahakan untuk dikirim, “sambungnya.

Awalnya geli menyantap belut

Tentu saja, kebutuhan belut Komalasari tidak dipenuhinya sendiri. Ia mengerahkan sekitar 200 petani penggarap di Sukabumi untuk mengumpulkan belut di sawah. Kendati sebenarnya bisa diternakkan, Komalasari tidak tertarik membudidayakan belut. Ia lebih suka membeli belut segar seharga Rp 15.000 dari petani. Menurutnya, belut yang dibudidayakan di tambak biasanya sudah diberi pakan tambahan. Itu berbeda dengan belut di sawah yang memakan bahan-bahan alami. “Ya, kalau ayam seperti ayam kampunglah,” cetusnya.

Komalasari percaya, petani penggarap bisa terbantu kalau ikut memasok belut kepadanya. Maklumlah, “Menangkap belut kan bisa dilakukan sambil tidur,” seloroh Komalasari. Ia bilang, kalau malamnya si petani menebar bubuk pakan, paginya ia tinggal memungut belut yang kekenyangan sebanyak 2 kg. “Kalau dia niat mencari dan mengajak keluarga, bisa dapat empat sampai 5 kg, lo!” katanya.

Berapa pun setoran para petani, Komalasari tidak menolak. Toh, menurutnya, masa panen belut seperti diatur bergantian tiap wilayah. Ia juga bisa dengan tenang mengolah dan memasok belut ke para pengecernya.

Kala melongok ke belakang, Komalasari ingat betul bagaimana sulitnya memasarkan olahan belut. “Awalnya kan orang geli makan belut. Tapi, akhirnya orang sadar kalau kandungan proteinnya tinggi,” ujar Komalasari.

Jaringan pertama yang digarap Komalasari adalah kumpulan ibu-ibu PKK. Ia pun bergabung di dalamnya. Waktu itu, sekitar tahun 1985, Komalasari sudah memiliki usaha pembuatan dendeng belut, yang merupakan bisnis keluarganya. “Dari situ saja saya tenteng dan tawarkan setiap ada pertemuan dan pengajian,” ucapnya.

Lima tahun kemudian usaha pengolahan belutnya semakin berkembang. Pasokan belut dari kolam keluarga plus beli sana-sini dari tengkulak kian dirasa kurang untuk memenuhi permintaan. Maka, Komalasari lantas mengajak petani penggarap untuk membantunya mencari binatang yang susah dipegang itu. Agar si petani menepati janji, Komalasari memberi mereka uang pembelian di muka.

Awalnya, hanya 10 petani yang mau bekerja sama dengan Komalasari. Jumlah tersebut meningkat menjadi dua kali lipat dalam waktu singkat. Lantas Komalasari pun mendirikan kelompok usaha pengolahan belut yang dia namai Flamboyan pada tahun 1990. Anggotanya ada sekitar 20 orang petani penggarap.

Lantaran berhasil mengembangkan pasar, kebutuhan belut Komalasari terus meningkat. Maka, ia pun harus menambah tenaga pencari belut. Alhasil, sekarang Flamboyan memiliki sekitar 190 anggota petani pencari belut yang terbagi menjadi enam kelompok. Dari merekalah Komalasari mendapatkan pasokan belut segar. “Sebelum diolah, belut memang harus segar supaya olahannya awet,” kata Komalasari, yang kerap mengadakan pelatihan cara menangkap belut.

Selain menitipkan produknya ke toko makanan, Komalasari juga membikin gerai sendiri di Sukabumi. Beberapa waktu lalu ia mendirikan warung dengan menu utama belut di dekat gerai tersebut. Ada pilihan belut santan sampai pepes belut di situ. “Lumayan, sehari bisa habis 30 kg,” ujarnya.

Ternyata, penggemar setia warung Flamboyan yang menyajikan belut ini adalah kaum pria. “Bapak-bapak suka minta belut digoreng setengah matang. Katanya bisa menambah kejantanan,” kata Komalasari sambil tergelak. Duh, bapak-bapak ini.

+++++

Bukan hanya Mimpi

Kebanyakan orang pastilah geli memegang belut, sebangsa ikan yang tubuhnya panjang dan licin seperti ular. Namun, belut sudah menjadi bagian hidup Komalasari semenjak kecil. Maklumlah, keluarga Komalasari merupakan pengusaha dendeng belut.

Kendati demikian, awalnya Komalasari tidak berniat terjun dalam bisnis belut ini. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri, Komalasari bekerja sebagai tenaga pembukuan di sebuah perusahaan. “Waktu itu jarang sekali ada anak bisa sekolah sampai SMA,” cetusnya. Namun, panggilan si belut nan licin membuat Komalasari tak bisa berpaling. Ia rela meninggalkan pekerjaannya dan kembali meneruskan usaha dendeng belut keluarganya tersebut.

Ternyata Komalasari tidak sekadar meneruskan usaha dendeng belut, melainkan mengembangkannya sehingga mencapai kapasitas produksi 100 kg belut segar dalam sehari. Bukan itu saja, Komalasari juga dianggap menjadi tokoh masyarakat setempat, lantaran usahanya melibatkan sekitar 190 petani penggarap di sekitarnya.

Selain itu, “Dari bisnis ini saya juga bisa bertemu artis-artis,” ujar Komalasari polos. Sekitar tahun 2002, menurut Komalasari, dirinya ikut terlibat dalam pembuatan sinetron Bukan Hanya Mimpi. Tentu saja, bukan hanya mimpi pula kalau sekarang Komalasari bisa menangkap laba dari licinnya si belut.

Hendrika Y., Yuwono Triatmodjo

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , .

CCPM : Cara Cepat Perhitungan Matematika WARUNG MAKAN CAK KOTHING

29 Komentar Add your own

  • 1. Ide Bisnis Usaha  |  April 7, 2008 pukul 3:52 pm

    salut buat Komalasari, ketekunan dan kejelian menangkap peluang usaha harus ditiru

    salam idebisnisusaha.com

    Balas
  • 2. fendi  |  April 20, 2008 pukul 7:02 pm

    Salut untuk ibu Komalasari, jika masih terima pasokan belut aku bergerak dalam pengumpulan belut nih.

    Balas
  • 3. fendi  |  April 20, 2008 pukul 7:05 pm

    Salut untuk ibu Komalasari, jika masih terima pasokan belut aku bergerak dalam pengumpulan belut nih.

    Salam
    http://www.belajarsukses.com

    Balas
  • 4. Fahmi  |  April 21, 2008 pukul 7:03 am

    Bu Komalasari,
    Saya berminat untuk membuat produk olahan dari Belut. Bisa ibu berikan salah satu resep untuk membuat produk olahan tsb ?

    Balas
  • 5. andy  |  September 4, 2008 pukul 6:57 am

    bu bisa tahu info tentang belut? produknya apa aja?
    kalau bisa dilihatkan siapa tahu dijakarta banyak yang mau.
    mkasih

    Balas
  • 6. kaka  |  September 29, 2008 pukul 12:31 pm

    saya orang sukabumi asli,tapi tidak tau tentang propil ibu komala sari bisa minta alamatmya?terima kasih

    Balas
  • 7. Teguh Setiawan, SE., MM.  |  Oktober 10, 2008 pukul 6:54 am

    Bu Komalasari,
    Saya tertarik dengan usaha yang ibu lakukan, saya ingin melakukan usaha tersebut, tapi pegang belut saja saya nggak pernah apa lagi memakannya, tolong apakah ibu bisa membimbing saya, makasih….. banget

    Balas
  • 8. inne  |  November 30, 2008 pukul 2:49 am

    ibu komalasari, saya tertarik dengan abon belut, bagaimana saya bs menghubungi ibu, mohon info alamat serta nomor telp yg bs saya hub. atau ibu bs kontak saya di 0274 9181170. makasih
    saya tunggu secepatnya.

    Balas
  • 9. yud  |  Januari 15, 2009 pukul 3:47 am

    bisa gk cara pengolahan belut menjadi keripik abon dan yang lainnya di bagi bwt kita2 yg ada disini.tks komalasari

    Balas
  • 10. AGUS  |  Februari 5, 2009 pukul 3:11 pm

    Malam ibu Komalasari, saya interest pada bisnis ibu tapi bisakah ibu membimbing saya,kalo saya ingin berbisnis belut dan produk olahannya? Saya tunggu jawabannya dan sebelumnya saya haturkan terimakasih.

    Balas
  • 11. mas digs  |  Februari 13, 2009 pukul 12:40 pm

    Bu Komalasari,saya ingin banget mencoba membuat keripik belut yg renyah dan gurih. jika ibu berkenan,alangkah terbantunya saya seandainya ibu sudi membagi resep dan cara pengolahannya.sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak.

    Balas
  • 12. Alfan  |  Februari 19, 2009 pukul 8:58 am

    Ass..wr.wb bu Komalasari Saya Alfan, orang tuanya orang asli sukabumi. Saya sangat tertarik dan bersemangat dengan usaha belut yang ibu jalankan. sudikah ibu berbagi pengalaman dan ilmunya..serta kerjasamanya kepada kami… mohon alamat/CP/email ibu mungkin bisa saya dapatkan. Saya bisa dihub di nomer 02130151966 terima kasih banyak.
    Wassalam
    Alfan–jakarta

    Balas
  • 13. Hery  |  Februari 27, 2009 pukul 12:36 pm

    mantep juga bisnis belut ya, itung2 tambah penghsln..la yaw…hmm

    Balas
  • 14. jhon kincay  |  Maret 11, 2009 pukul 4:30 am

    dimana gue bisa dapat bibit belut

    Balas
  • 15. Pahdizul  |  April 6, 2009 pukul 8:25 pm

    ass…bagaimana cara kita berternak dan membibit belut…berapa lama belut dapat dipanen?umur berapa??

    Sang Mujaddid

    Balas
  • 16. Pahdizul Mujaddid  |  April 6, 2009 pukul 8:34 pm

    SUKSES SLALU yACH…..semoga usahanya bermanfaat buat keluarga dan semua…….

    Sang Mujaddid

    Balas
  • 17. Abdul hadi  |  April 24, 2009 pukul 7:14 am

    saya mencari penerima ikan belut lokal/export !
    By Hadi ( 05119035142 )

    Balas
  • 18. ajang  |  Mei 13, 2009 pukul 1:47 pm

    kalo saya ingin membeli produk olahan belut ibu Komalasari, saya harus kemana, alamat nya dimana?or no tlpnya berapa.saya orang cianjur

    Balas
  • 19. ajang  |  Mei 13, 2009 pukul 1:48 pm

    o. iya ini no tlp saya 081573071723. nuhun

    Balas
  • 20. burham suciyanto  |  Juni 4, 2009 pukul 1:35 pm

    Saya saat ini sedang merintis ternak belut, mohon info & saran apa saja yang sekiranya berhubungan dengan belut.
    Terima kasih…

    Balas
  • 21. Sri tuti harmiati  |  Juni 19, 2009 pukul 6:56 am

    Selamat siang ibu komalarasi.
    Saat ini saya memang sedang mencari bagaimana cara membuat keripik belut-tolong saya dibantu .
    Dari Tuti

    Balas
  • 22. Aris  |  Juli 8, 2009 pukul 12:34 am

    Salam kenal ,
    Saya sangat tertarik dengan Budidaya Belut dan Olahannya,
    Saya ingin bertanya tentang harga :

    1. Belut Kripik / kg brp rupiah ?
    2. Belut Dendeng / kg brp rupiah ?

    Saya ingin menjadi agen penjualan Olahan tersebut, mohon diberikan harga agen dan eceran bu, Terima Kasih.

    Wassalam.

    Hormat Kami,

    Aris Eko Sudarmono
    Serang Banten (0857 8275 6092)

    Balas
  • 23. ObatAntiRokok  |  Juli 21, 2011 pukul 7:18 am

    sangat menginspirasi dan menambah semangat! ACTion!!!
    salam sehat..

    Balas
  • 24. nata  |  Agustus 4, 2011 pukul 4:15 am

    Ass..
    Salam kenal, saya seorang mahasiswa dari kal-sel.. Saya sangat tertarik dgn bisnis hasil olahan belut.
    Saya mau jadi agen penjual produk olahan belut ini..
    Bagaimana caranya?

    Cp. 08971400964
    E-mail : natakusuma1440@gmail.com

    Terima kasih. Wss

    Balas
  • 25. hanafi afie  |  Oktober 19, 2011 pukul 3:28 am

    sukses ya buk….

    Balas
  • 26. T. erwin heriandus  |  November 9, 2011 pukul 3:32 pm

    sip… top banget, saya dari sukabumi, nyoba ternak unt konsumsi sendiri ok juga, namun sekarang keteter pesanan.
    saya perlu bibitnya. kalo boleh saya tau alamat / telpnya ?
    atau hub saya 0266 9200913, terima kasih……. belut biar licin tpi mantap…..top …margotop
    erwinheriandus@rocketmail.com

    Balas
  • 27. Iwan  |  Februari 13, 2012 pukul 9:00 am

    Saya sedang mencari bibit belut. Dimana ya … tolong infonya … Soalnya udah kesana kemari ga dapet-dapet …

    Balas
  • 28. Muhamad Ikbal Salmin  |  November 7, 2012 pukul 8:49 am

    Ass”
    semoga usahannya berpuncak dan membawa kesejahteraan kedalam rumah bunda”

    harmat saya : ikbal
    mahasiswa ekonomi/akuntansi’

    Balas
  • 29. berbagi info  |  November 12, 2012 pukul 7:05 pm

    info bagus kang, belut memang komoditi yang sangat dibutuhkan konsumen

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Kategori

Add to Technorati Favorites