Kisah Ade Tarya berbisnis tensimeter

Februari 24, 2008 at 6:36 am 3 komentar

PROFIL
Tabloid Kontan No. 26, Tahun X, 3 April 2006

Mengukur Tensi Sedunia
Kisah Ade Tarya berbisnis tensimeter

Mimpi kecil itu lahir dari Bandung. Seorang remaja punya cita-cita yang sangat sederhana, yaitu menjejak tanah negeri orang. Kini ia tak hanya menjejak negeri orang, tapi sudah menggengamnya erat-erat !

Namanya Ade Tarya Hidayat. Perawakannya kecil, namun ide dan impiannya sangat besar, yaitu ingin bekerja di perusahaan asing agar bisa melanglang ke berbagai negeri.

Mimpi ini terwujud di tahun 1975. Anak keempat dari 12 bersaudara ini sudah mencicipi belahan bumi yang lain, yaitu beberapa negara di Eropa seperti Swiss, Jerman dan Belanda. Ia diterbangkan oleh PT Ahrend Indonesia, perusahaan tempat ia bekerja yang merupakan distributor alat laboratorium dan rumah sakit yang berpusat di Belanda.

Malang tak dapat ditampik. Ahrend menutup operasinya pada tahun 1980 setelah menancapkan kukunya di Indonesia selama 20 tahun. Sebagai perusahaan asing, pergerakan Ahrend sangat terbatas di Indonesia. Ia hanya bisa melakukan aktivitas promosi dan layanan purnajual atas barang yang di distribusikannya. Menjamurnya produsen lokal tak urung menendang perusahaan asing ini untuk pulang kandang.

Lantas, apa yang terjadi dengan Ade? Lelaki lulusan Akademi Instrumentasi Nasional LIPI tahun 1974 ini sudah mengantongi posisi sales manager saat Ahrend Indonesia gulung tikar. Tak urung, pendapatan bulanan sebesar Rp 150.000 lenyap tak berbekas. Ia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Saat itu pilihannya adalah pindah kerja atau berwirausaha. Sebenarnya Ade mengaku tak cukup punya keberanian untuk berwirausaha. Maklum, keluarganya tak memiliki jiwa dagang. Orang tua dan saudara-saudaranya adalah pegawai negeri sipil (PNS) dan anggota militer. Tapi, “Saya memberanikan diri untuk membuka usaha,” papar ayah dua anak ini.

Di titik inilah semuanya berawal. Bermodal pelanggan Ahrend yang selama ini loyal, Ade bertekad menggantikan peran Ahrend di Indonesia. Tabungan senilai Rp 22 juta yang terkumpul selama 5 tahun bekerja di Ahrend dia gunakan sebagai modal usaha. Ia membangun perusahaan CV Abadi Scientific pada tahun 1981. Karyawannya tak banyak, hanya 4 orang, termasuk ia dan istrinya, Adjeng Sugiharti.

Tak jauh berbeda dengan Ahrend, perusahaan yang dibangunnya ini mendistribusikan alat laboratorium dan kesehatan. Ia nekat bertandang ke Swiss dan menyambangi sejumlah distributor yang sebelumnya diageni Ahrend. Distributor itu antara lain Camag dan Buechi yang memproduksi alat laboratorium analirikal, serta AVL dan Contravest yang memproduksi alat-alat laboratorium medikal. Tak gentar, Ade mengutarakan niatnya untuk melanjutkan kiprah Ahrend di Indonesia. Padahal, sejatinya Ade tak punya modal banyak untuk mengangkut barang-barang dari Eropa.

Rayuan Ade ternyata meluluhkan para produsen alat kesehatan. Perusahaan kecil-kecilan miliknya beroperasi di secuil ruangan gedung Sangga Buana di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat. “Kecil, hanya 38 m2!” kenang Ade. Untuk mengambil barang dari Eropa, Ade mengandalkan uang muka dari pembeli yang notabene adalah pelanggan Ahrend sebelumnya. Uang muka yang dibayarkan Ade pada produsen sebesar 50% dari pembelian, dan ia mencomot 30% keuntungannya. Nah, keuntungan itu diputar untuk membiayai operasional perusahaan, dari sewa gudang hingga membayar gaji karyawan.

Mengekspor karena dihantam devaluasi

Dua tahun perusahaan ini berjalan, Ade memutuskan untuk mengevaluasi kinerjanya. Di tahun yang sama, Ade kebanjiran pesanan dari Rumah Sakit Krakatau Steel di Cilegon dan PT Djarum yang nilainya mencapai jutaan rupiah. Order alat laboratorium susulan juga datang dari Departemen Pertanian untuk peternakannya di Bali. “Saya kewalahanlah!” ujar Ade. Terang saja, pendapatan yang lumayan ini bisa digunakan agar hidup tak lagi tambal sulam. Selain itu, Ade membeli satu unit mobil dan memindahkan kantornya ke tempat yang lebih luas di bilangan Paseban, Kramat, Jakarta Pusat.

Toh, Ade tak boleh cepat berpuas diri. Devaluasi demi devaluasi menghantamnya di tahun 1983 dan 1986. Nilai tukar US$ 1, yang tadinya Rp 650, melonjak menjadi Rp 950, dan melonjak lagi menjadi Rp 1.650. “Saya putuskan untuk mengekspor!” ujarnya tegas.

Sembari mengimpor alat laboratorium dan kesehatan, Ade mencoba mengekspor mi instan, kecap, centong nasi, sarung tangan, bahkan alat kosmetik. Sayang, ekspor ini gagal total karena beragam alasan. Ada yang dikibulin, ada yang meminta ongkos atas sampel yang diminta Ade, ada yang ongkos produksinya meningkat setiap Ade mengorder barang, ada pula yang masa produksinya terlalu lama. Tak urung, Ade memilih untuk menjadi produsen dan mengekspor produksinya ke mancanegara. “Soalnya, susah jadi makelar!” paparnya sambil terkekeh.

Kegagalannya mengekspor barang memberi Ade dua pelajaran penting. Pertama, barang harus bisa dikendalikan, mulai dari ketersediaan hingga harga barang. Kedua, pasar yang akan menyerap barang harus dipastikan sejak awal.

Setelah bertanya kanan kiri, Ade menemukan ceruk yang empuk yang bisa diembat, yaitu produk yang berbahan baku karet. Produk ini dibutuhkan pabrikan kesehatan besar di Jerman, yaitu Riester, yang membutuhkan bladder cukup banyak. Bladder adalah bagian dari tensimeter yang dilingkarkan di lengan sewaktu mengukur tekanan darah. Kebetulan, Riester mengambil bladder dari Jepang yang notabene karetnya diangkut dari Malaysia maupun Indonesia.

Tahun 1990, Ade bertolak ke Atlanta, Amerika Serikat, untuk menggali ceruk yang lebih dalam. Ade menantang sejumlah produsen tensimeter. Ia tak hanya menawarkan untuk membuat bladder, tapi juga bulb atau pompa tensimeter. Ia meminta contoh bladder maupun bulb dari perusahaan tensimeter yang besar di Amerika, yaitu Graham Field dan ADC. Contoh itu buru-buru dia usung ke Balai Penelitian Teknologi Karet di Bogor. Dari sana Ade mencari tahu bagaimana bladder dan bulb ini dibuat.

Belum cukup, Ade terbang ke Jepang untuk mencuri tahu proses pembuatan instrumen tensimeter ini. Alasan yang diutarakan Ade pada pihak Jepang ialah ingin membeli bladder dan bulb dari Jepang untuk diekspor ke Amerika Serikat. “Sepulang dari Jepang, saya mendirikan pabrik senilai Rp 800 juta, di Padalarang, Bandung, tahun 1990-1991,” ungkapnya bangga.

Bikin tensimeter yang funky

Satu demi satu kunjungan datang silih berganti. Salah satunya, bos dari Graham Field datang untuk melihat pabrik yang dibangun Ade. Sejak kedatangannya pertama di tahun 1991 hingga1995, tak henti-hentinya pabrik Ade ditawar untuk dibeli perusahaan asal Amerika ini. “Saya bilang, pabrik ini tidak saya jual. Kalau mau, ya beli produk saya,” katanya menirukan jawaban yang pernah dilontarkan 10 tahun silam.

Sayang, perjalanan ini tak selalu mulus. Kocek Ade terkuras untuk mendirikan pabrik. Kas kosong. Kendati sempat ditinggalkan karyawan, ia tetap memilih mempertahankan perusahaannya. Lantaran reputasinya selama ini cukup bagus, ia mendapat kucuran pinjaman dari bank swasta senilai Rp 600 juta. Alhasil, bladder buatan Jepang yang dibanderol US$ 1,3 per unit bisa dia pangkas hingga menjadi US$ 92 sen saja dari pabrik Padalarang. “Ini sesuai permintaan Riester, agar bikinan saya lebih murah dari Jepang!” ujar Ade.

Ekspansi Ade di tahun 1992 adalah membuat cuff atau manset dan medical bag sebagai aksesori. Pesanan ini datang dari Riester yang sangat puas dengan buatan Ade selama ini. Keluar masuk perusahaan garmen untuk memproduksi manset dan tas, tak ada satu pun yang membuat Ade puas. Ia menggandeng adiknya yang ke-8 untuk mendirikan anak perusahaan yang memproduksi dua komponen penting ini.

Di tahun 1994, Ade berhasil merangkai tensimeter dari Padalarang. Tentu saja tensimeter ini tak dibuatnya dalam sekedipan mata. Selama empat tahun Ade merangkai satu demi satu komponen tensimeter. Ia membuat tensi meterwarna-warni, ada hijau, pink, juga ungu. Tentu saja mahasiswa kedokteran banyak yang melirik tensimeter buatannya karena warnanya yang funky.

Inilah titik awal Ade mendorong ekspor tensimeternya ke Eropa, Amerika, Australia, Malaysia, Thailand, Emirat Arab, Yaman, Afrika Selatan, dan Meksiko. Tak kurang 30.000 unit tensimeter dibuat di Padalarang setiap bulan. “Dulu karyawan saya hanya 4, sekarang 495. Dulu saya harus senam jantung karena takut kontrak order dengan Riester tidak diperpanjang, sekarang kertas kontrak itu pun tak pernah dilirik lagi oleh Riester,” ucap Ade bangga.

+++++

Pohon Uang Ade

Ade membangun pohon uang bagi keluarganya tak hanya dalam satu jentikan jari. Dua puluh lima tahun Ade menanam bibit hingga membuahkannya. Hasilnya? Lihat saja buah yang ditanamnya sejak 1980, tensimeter bermerek dagang ABN.

CV Abadi Scientific sudah berubah nama menjadi PT Abadinusa Distribution yang mengurusi ekspor dengan omzet mencapai US$ 3 juta per tahun. Ini setengah dari kinerja PT Sugih Instrumendo Abadi yang nilainya US$ 5,5 juta. Perusahaan ini berdiri tahun 1990 untuk menaungi produk bladder dan bulb. Lain halnya dengan PT Renaltech Mitra Abadi yang dibangun untuk membantu penderita penyakit ginjal. Untuk menekan ongkos cuci darah, Ade membuat selang dan filter pada tahun 1998. Perusahaan ini dikenal sebagai pemasok hemodyalisis yang omzetnya mencapai US$ 0,5 juta. Satu lagi, PT Abadinusa Healthcare yang memproduksi tensimeter, stetoskop, dan thermometer yang total omzetnya mencapai US$ 1,5 juta per tahun.

Di era millenium, Ade membangun PT Sutek Mitra Utama yang menangkap ceruk bisnis rubber resin. Omzetnya tak tanggung-tanggung, mencapai US$ 1,5 juta per tahun. Sedangkan PT Technomed Asia yang memproduksi dan mengekspor medical bag mengantongi omzet sebesar US$ 1 juta per tahun.

Total jenderal, nilai uang dalam pohon Ade mencapai US$ 13 juta. “Biar begitu, saya agak ketat kalau untuk urusan uang dengan anak-anak, lo!” ujar istri Ade, Adjeng Sugiharti, sambil tersipu.

Femi Adi Soempeno (Bandung)

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , .

Kisah sukses dedengkot pemegang waralaba kelas dunia Kisah Hartomo berbisnis sekolah montir

3 Komentar Add your own

  • 1. nadjib UBAYID  |  Mei 24, 2008 pukul 9:33 am

    waduh udah hebat yeh bisnisna kang Ade, selamat ya.

    Balas
  • 2. Tensimeter ABN  |  Mei 28, 2009 pukul 2:01 pm

    Muantabb… postingnya bagus… bikin semangat berkobar2 lagi… tks. 🙂

    Balas
  • 3. widyo  |  Agustus 22, 2011 pukul 8:38 am

    semoga terus berkarya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Kategori

Add to Technorati Favorites