Seluk-beluk waralaba dan tip menjadi anggota jaringan

Februari 23, 2008 at 12:18 am 2 komentar

WARALABA
Tabloid Kontan No.6, Tahun X, 7 November 2005

Awas, Kucing dalam Karung!
Seluk-beluk waralaba dan tip menjadi anggota jaringan

Sukses berbisnis dalam jaringan waralaba tak sesederhana perkiraan kebanyakan orang. Bagi calon investor, ketelitian menelisik kinerja bisnis calon pewaralaba merupakan langkah wajib. Kalau ceroboh dan terburu-buru, waralaba bisa seperti kucing dalam karung.

Konon, di Amerika Serikat, sebuah usaha waralaba baru lahir setiap 17 menit. Di Indonesia pertumbuhan bisnis sistem waralaba jelas belum sepesat itu, meski tak bisa kita pungkiri bahwa pertumbuhannya juga sangat bongsor. Tabloid yang Anda baca ini saja hampir-hampir saban pekan menyajikan tulisan tentang profil waralaba tertentu. Topik itu tak habis-habis. Jadi, bisa kita bayangkan seberapa sering gerai waralaba, apa saja bidang usahanya, dibuka.

Minat para pemilik modal untuk membuka waralaba memang luar biasa. Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), punya cerita menarik soal ini.

Pernah suatu saat dia menghadiri peluncuran waralaba sebuah lembaga pendidikan. “Bayangkan, hanya dalam tempo dua jam ada sebelas calon investor yang mendaftar bergabung. Waktu itu modalnya memang kecil, hanya Rp 135 juta,” ujarnya.

Pada kesempatan lain dia menghadiri peluncuran sebuah waralaba restoran. “Yang itu lebih luar biasa. Dalam tempo enam jam ada empat investor bergabung dan langsung membayar DP saat itu juga. Padahal, modalnya sampai semiliar lebih,” tuturnya.

Gairah orang untuk berbisnis dengan sistem waralaba merupakan salah satu hikmah krisis ekonomi 1997-2000. Sejak krisis banyak orang menjadi bersemangat untuk berwirausaha. Pesangon besar telah memotivasi para pekerja yang terkena PHK untuk membuka usaha sendiri. Bunga deposito bank yang begitu gede selama masa krisis juga menjadi bekal para pemilik modal untuk mengembangbiakkan uangnya di luar bank. Tanpa keahlian dan pengalaman menyebabkan mereka memilih untuk bergabung dalam jaringan waralaba.

Sistem waralaba yang ideal memang seharusnya memudahkan seorang pemodal untuk terjun dalam usaha riil. Anang bahkan berani berujar bahwa pengusaha yang menjadi peserta jaringan waralaba tertentu tidak harus memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). “Dia hanya perlu menjalankan usaha sesuai dengan aturan serta sistem yang diberikan kepadanya,” katanya. “Kalau dia memiliki entrepreneurship sendiri malah tidak jalan. Dia akan cenderung menjalankan usaha tanpa mengindahkan aturan dan sistem yang sudah dibakukan,” sambung Anang yakin.

Sistem waralaba memang unik. Pada satu sisi investor harus mandiri terutama dalam menyediakan modal. Di sisi lain dia terikat beberapa aturan yang ditetapkan oleh perusahaan yang menawarkan kerja sama waralaba.

Memandang dari dua sudut kepentingan

Sebelum lebih lanjut membicarakan waralaba, baiklah kita sepakati dulu beberapa istilah di bidang ini. Perusahaan “induk” yang menyelenggarakan waralaba disebut franchisor. Adapun investor yang menggabungkan diri dengan jaringan waralaba disebut franchisee. Dalam khazanah waralaba di Indonesia, sebutan franchisor diganti pewaralaba, sedangkan franchisee disalin menjadi terwaralaba. Enggak enak terdengar di telinga, ya? Memang. Tapi apa boleh buat, kedua istilah itu telanjur menjadi istilah yang lazim, sih.

Mari kita selidiki sistem kerja sama waralaba ini dari sudut pandang kedua belah pihak. Pertanyaan pertama: mengapa sebuah perusahaan rela memberi kesempatan kepada pihak lain untuk ikut mencicipi untung dari bisnis yang mereka rintis dan kembangkan? Ada beberapa alasan. Menurut Utomo Njoto, Konsultan Senior FT Consultant Singapura, pemilik bisnis bersangkutan ingin melakukan ekspansi berkecepatan tinggi. Ekspansi usaha identik dengan penambahan modal. Benar,modal bisa diperoleh dari pinjaman bank atau lembaga keuangan lain, tapi tetap saja terbatas. Nah, cara yang paling praktis adalah melibatkan investor untuk menanam modal.

Sama-sama mencari modal dari pihak lain, perusahaan yang membuka waralaba berbeda dengan perusahaan yang menjual saham ke bursa. Dengan go public, perusahaan hanya mendapat tambahan uang. Operasional perusahaan tetap mereka tangani sendiri. Waralaba tidak begitu. Modal perusahaan tidak bertambah – tetap menjadi milik terwaralaba sepenuhnya – tapi ekspansi bisnis bisa berlangsung. Terwaralaba akan menggunakan modalnya untuk “membantu” melakukan ekspansi dengan cara membuka cabang, gerai, workshop, atau pabrik dengan menggunakan brand pewaralaba.

Sudah numpang modal, franchisor masih bisa mengalihkan risiko usaha serta sebagian kerepotan bisnis kepada terwaralaba. Enaknya lagi, dia masih memungut franchise fee dan royalti. Anda masih bingung dengan kedua istilah tersebut? Franchise fee adalah biaya yang dipungut franchisor dari franchisee atas penggunaan brand dan sistem. Akan halnya royalti (royalty fee), mirip dengan royalty di dunia rekaman musik, adalah sebagian pendapatan “yang ditarik franchisor dari franchisee.

Kalau usaha terwaralaba maju, pewaralaba ikut menikmatinya dalam bentuk royalty yang lebih besar. Demikian pula sebaliknya, ketika usaha sedang lesu royalti yang ditariknya juga akan menyusut. Meskipun begitu, pewaralaba nyaris tidak menanggung risiko kerugian. Kalau sampai terwaralaba bangkrut, kerugian keuangan sepenuhnya ada di tangan franchisee yang telah menanam modal sepenuhnya.Keuntungan lain? “Pemodal yang terlibat menjadi operator biasanya punya rasa memiliki yang lebih besar ketimbang manajer yang direkrut perusahaan,” kata Utomo.

Biarpun banyak manfaat, tak semua pengusaha mau mewaralabakan bisnis mereka. Biasanya pengusaha seperti itu tipe orang yang punya modal cukup, berani menanggung risiko investasi, serta mau pusing mengelola karyawan.

Mungkin Anda berpikir: enak benar menjadi pewaralaba. Lantas, muncul pertanyaan tambahan: mengapa ada pemodal yang mau memberikan kenikmatan seperti itu kepada pewaralaba dengan menjadi terwaralaba? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita pakai kacamata para franchisee.

Banyak orang yang punya modal. Banyak sekali dari mereka yang selalu bergumam ingin menjalankan usaha sendiri. Tapi apa daya, sebagian besar gumaman itu tetap berstatus sebagai khayalan. Tak adanya pengalaman dan keterampilan membuat sebagian besar pengusaha mimpi itu tak berani mewujudkan keinginan mereka.

Nah, waralaba menjadi salah satu cara paling praktis untuk merealisasikan mimpi menjadi pengusaha. Dengan mengikuti waralaba tertentu, seseorang bisa menjadi pengusaha dalam sekejap. Latar belakang pendidikan bisnis, pengalaman, dan bakat tak lagi menjadi syarat mutlak. Semua itu bisa dia peroleh dari franchisor.

Kalau beruntung menjadi anggota jaringan waralaba yang kondang, pemodal tak perlu merangkak dari bawah untuk membangun brand yang kuat. Dia langsung bisa memanfaatkan brand milik franchisor yang mestinya sudah kuat. Bukan hanya itu, franchisor juga bisa menjiplak resep, kiat manajemen, sistem, serta prosedur kerja yang telah dikembangkan pewaralaba dan -seharusnya- sudah terbukti berhasil. Itu semua aset berharga bagi seorang pengusaha. Dengan menjadi terwaralaba, investor tak perlu membangun itu semua dari nol dengan trial and error. Semua sudah tersedia secara instan.

Dus, berbagai fee yang harus mereka bayarkan merupakan kewajaran. Kalau semua warisan itu benar-benar menjadi kail yang bisa mengait untung, boleh jadi franchise fee serta royalti itu masih lebih kecil nilainya ketimbang kalau seorang pengusaha harus mengalami berbagai kejatuhan saat mengawali usaha sebelum akhirnya berhasil.

Belum semuanya layak diwaralabakan

Dari gambaran ideal itu, akhirnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada syarat-syarat tertentu agar sebuah perusahaan layak menyelenggarakan waralaba dengan baik. Berhubung investor butuh brand yang sudah matang, resep dan kiat usaha yang jitu, serta konsep usaha yang benar-benar unggul, maka penyelenggara waralaba seharusnya perusahaan yang sudah terbukti sukses. Kesuksesan itu mestinya juga sudah teruji selama bertahun-tahun. “Saya biasa melihat perusahaan minimum sudah beroperasi 3 tahun dan telah memiliki lebih dari satu outlet,” kataUtomo.

Batasan yang masuk akal. Waktu tiga tahun agaknya cukup untuk membuktikan perusahaan dan konsep usahanya sudah menghadapi berbagai siklus ekonomi.Tentu saja masih ada persyaratan lain. Menyelenggarakan waralaba bukan Cuma menyedot untung dari terwaralaba, tapi berbagi untung. Itu sebabnya, Utomo mewajibkan calon pewaralaba mengevaluasi kelayakan bisnisnya dalam menghasilkan keuntungan. “Apakah margin profit yang dihasilkan bisa dibagi sedemikian rupa sehingga franchisee bisa berlanjut usahanya dan franchisor-nya pun masih bisa tetap hidup,” ungkapnya.

Ceroboh menghitung angka-angka bisnis itu justru bisa menjadi bumerang di belakang hari. Bagaimanapun suatu saat dengan ekspansi secara besar-besaran lewat waralaba, pasar akan jenuh. Pada saat itu perusahaan tak akan bisa terlalu berharap mendapatkan franchise fee lantaran tak ada lagi peminat baru. Sumber pendapatannya hanya akan berasal dari royalti. “Nah, pada saat itu apakah perusahaan bisa tetap untung dengan hanya mengandalkan setoran royalti?” tanya Utomo.

Syarat lain, menurut Anang Sukandar, perusahaan yang hendak menyelenggarakan waralaba juga mesti unik. Terserah keunikan itu ada di mana. Bisa pada produk, resep, sistem, atau konsep. Konon banyak orang bisa membuat burger yang rasanya jauh lebih lezat ketimbang burger buatan McDonald’s. Tapi, sejauh ini tak ada diantara mereka bisa menjual burgernya selaris McDonald’s. Di sini tampak bahwa keunikan McDonald’s sebetulnya bukan terletak pada rasa burger, tapi system bisnisnya. “Keunikan itu mutlak harus ada,” kata Anang.

Dia bercerita pernah didatangi pengusaha bengkel yang ingin konsultasi untuk mewaralabakan usahanya. “Saat saya tanya apa keunikan bengkelnya, dia bingung sendiri tak bisa menjawab. Artinya, bengkelnya yang biasa-biasa saja sama dengan bengkel kebanyakan,” katanya. “Kalau seperti itu, buat apa terwaralaba mesti membayar franchise fee dan royalti? Toh, orang lain bisa membangun bengkel seperti itu sendiri,” lanjutnya.

Anang memasang syarat tambahan bahwa pembelajaran dan pelatihan keunggulan waralaba tersebut kepada para calon franchisee tak lebih dari 30 hari. “Kalau sampai lama baru bisa mengadopsi, ya percuma dia ikut waralaba. Pewaralaba harus merumuskan keunggulan dan keunikan mereka agar mudah ditularkan,” tukasnya.

Tak bisa dipungkiri, cukup banyak tawaran waralaba yang sebetulnya belum patut ditawarkan. Itu sebabnya pada pameran waralaba pertengahan November nanti Konsultan Waralaba Amir Karamoy dan banyak pewaralaba serta terwaralaba bakal meluncurkan kode etik berbisnis waralaba. Di antara mereka terselip nama-nama Bambang Rachmadi, Helmi Yahya, dan beberapa pengusaha pewaralaba kondang lain. “Kita mau mengembangkan waralaba dengan dua prinsip, yaitu good corporate governance dan fair business practices,” kata Amir.

Kalau para pewaralaba di Indonesia benar-benar seperti itu, tentu pertumbuhan waralaba baru dalam hitungan menit bukan cuma milik Amerika.

+++++

Tip bagi Investor: Memilih Waralaba

Gurihnya franchise fee dan royalti memancing banyak perusahaan dan pengusaha untuk mewaralabakan bisnis mereka. Tawaran waralaba pun menyebar bagai virus. Tentu tak semuanya layak dan patut menyelenggarakan waralaba. Ini bukan soal mereka menipu atau tidak. Banyak pemilik usaha waralaba terpaksa tutup buku lantaran salah pilih waralaba atau tak cermat mempersiapkannya. Nah, berikut ini ada beberapa penuntun sebelum memilih dan mengambil keputusan untuk bergabung dengan waralaba tertentu.

~ Jangan minder saat berhadapan dengan franchisor. Biarpun mereka berhak menyeleksi Anda, sesungguhnya mereka juga membutuhkan Anda. Karena itu manfaatkan sesi-sesi wawancara dengan mereka untuk menggali habis kondisi pewaralaba. Mereka boleh menggali informasi seputar kepribadian dan kondisi keuangan investor. Anda pun seharusnya bisa menggali berbagai informasi mendalam tentang perusahaan penyelenggara waralaba.

~ Coba kenali latar belakang perusahaan atau sang pengusaha, bonafiditas, pengalaman, potensi pasar, peta persaingan, serta keunggulan dan keunikan produk atau sistem mereka. Dari serangan balik wawancara itu Anda bisa meraba sikap mereka. Cara dan sikap ketika menjawab pertanyaan bisa Anda jadikan tolok ukur kultur usaha mereka. Semakin mereka terbuka, semakin baik. Semakin mereka misterius dan tertutup, ya semakin buruk. Ingat, kelak Anda mesti saling bertukar informasi dengan mereka. Bayangkan dan perkirakan apakah Anda bisa berkomunikasi secara nyaman dengan mereka kelak?

~ Jangan segan menyelidiki kondisi keuangan pewaralaba. Kinerja mereka di masa lalu bisa menjadi pantulan prospek usaha Anda di masa depan. Pewaralaba yang baik tak akan segan membagi informasi penting ini. Waralaba yang layak pilih adalah perusahaan yang telah menghasilkan untung selama bertahun-tahun, setidaknya lebih dari 3 tahun. Tanyakan pula kinerja cabang atau gerai milik terwaralaba lama. Apakah mereka untung atau malah gulung tikar. Kalau tutup sebabnya apa, begitu pula kalau sukses resepnya apa. Tak ada salahnya kalau Anda mencoba menggali informasi langsung dari terwaralaba lama yang lebih dulu beroperasi.

~ Pilihlah brand waralaba yang sudah dikenal masyarakat. Sebagian brand waralaba luar negeri tak dikenal di sini. Tapi, kalau nama mereka cukup moncer secara internasional, ya layak dipertimbangkan. Jadi jangan segan menyelidiki reputasi mereka lewat internet atau kenalan di luar negeri.

~ Bisnis waralaba bukanlah deposito atau obligasi pemerintah yang berbunga tetap. Karena itu, jangan pertaruhkan seluruh kekayaan Anda pada bisnis yang ingin Anda masuki. Sehebat apa pun waralaba yang hendak Anda ikuti, risiko bisnis tetap ada. Soalnya, ada banyak faktor ekonomi yang tidak berada dalam kendali perusahaan atau pelaku ekonomi mana pun, sehebat apa pun sistem dan keunggulan mereka.

~ Pelajari dan cermati draf kontrak sebaik-baiknya. Jangan terburu-buru menganggukkan kepala dan berjabat tangan tanda sepakat. Ingat, semua kewajiban dan hak Anda tercatat dalam dokumen kontrak. Jadi, jangan sampai kontrak itu hanya merugikan Anda.

Hasbi Maulana, Marga Raharja, Rika Theo, Umar Idris

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , .

SIOMAY JAKARTA KANG UJANG Mencari modal untuk usaha waralaba

2 Komentar Add your own

  • 1. eddycs  |  Agustus 17, 2011 pukul 5:12 am

    bermanfaat infonya

    Balas
  • 2. awani  |  Agustus 17, 2011 pukul 8:55 am

    bagus

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Kategori

Add to Technorati Favorites