Menimbang tawaran waralaba Kedai Tiga Nyonya

Februari 16, 2008 at 11:50 am Tinggalkan komentar

WARALABA
No. 49, Tahun X, 11 September 2006

Dapur Ngebul dari Masakan China Peranakan
Menimbang tawaran waralaba Kedai Tiga Nyonya

Meski pemainnya sudah banyak, bisnis gerai makanan bisa terus ngebul. Syaratnya: harus punya konsep kuat, lokasi bagus, dan makanannya harus enak. Bagaimana dengan tawaran waralaba masakan china peranakan dari Kedai Tiga Nyonya?

Bicara soal makanan, chinese food termasuk salah satu jenis masakan yang paling terkenal dan banyak penggemarnya di dunia. Tak aneh bila bisnis makanan Negeri Kuil Shaolin ini pun terus ngebul dari zaman ke zaman. Tentu saja, kebulan asap rezeki dari dapur kedai atau restoran chinese food itu sebagian besar dihirup oleh orang-orang China peranakan yang memang terkenal jago masak; entah itu masakan berdasarkan resep nenek moyang maupun hasil racikan dari kreasi berdasarkan sumber bahan makanan dan selera lidah masyarakat lokal.

Di jazirah Melayu, hasil kreasi koki-koki keturunan China itu telah menghasilkan makanan hasil percampuran resep China, Melayu, dan Belanda yang lumayan terkenal. Sayang, tidak seperti di Malaysia atau Singapura, di Indonesia baru sedikit orang yang mengangkat makanan-makanan tersebut menjadi makanan kelas restoran.

Salah satunya adalah Kedai Tiga Nyonya. Restoran ini mencoba mengangkat makanan peranakan China yang berasal dari Semarang dan Timur Indonesia. Saat ini, gerai Kedai Tiga Nyonya bisa kita temui di kawasan Tebet dan Menteng, Jakarta.

Ya, pendiri jaringan restoran Tiga Nyonya, Paul B. Nio dan istrinya, memang peranakan China. Kalau Paul adalah peranakan China-Semarang, istrinya peranakanChina-Papua. “Jadi, kami mengumpulkan resep masakan dari keluarga kami sendiri. Saat ini kami sudah memiliki lebih dari 100 menu yang kami sajikan di Kedai Tiga Nyonya,” beber Paul. Sebut saja lumpia semarang, brenebon, atau menu jagoan mereka, yaitu ikan bakar spesial Kedai Tiga Nyonya. “Kami buat dari ikan pecah kulit yang terkenal di Indonesia bagian timur. Cuma, di sini kami harus mencarinya di Muara Angke,” ujar Paul.

Kuncinya, lagi-lagi, lokasi yang pas

Paul mengaku sudah membuat standardisasi pembuatan semua menu makanan peranakan yang dibuatnya tanpa vetsin dan halal. “Saya sengaja membuat menu yang halal supaya makanan kami bisa dinikmati oleh orang muslim juga,” tandasPaul.

Menu makanan rumahan dari Kedai Tiga Nyonya ini rupanya menarik selera cukup banyak orang, termasuk orang-orang penting. Mantan presiden B.J. Habibie dan beberapa menteri dalam kabinet sekarang ini pernah mampir di kedainya. Bahkan, menurut Paul, beberapa pejabat di Bank Indonesia menjadi pelanggan yang kerap memesan ke kedainya. “Saya rasa orang-orang yang bekerja di kantoran lebih suka dengan makanan rumahan,” simpul Paul.

Melihat pasar yang cukup menjanjikan plus telah adanya standardisasi pengolahan makanan ala Kedai Tiga Nyonya, Paul pun kemudian menawarkan sistem waralaba. Tak hanya kepada masyarakat keturunan Tionghoa, tapi juga seluruh masyarakat. Baik yang sudah jago masak, maupun yang tidak. Maklum, laiknya sistem waralaba makanan, pihak Kedai Tiga Nyonya bukan hanya akan berbagi resep, melainkan juga akan melatih para juru masak dari gerai terwaralaba, hingga mereka mampu menyajikan makanan sesuai standar yang sudah ditentukan.

Hasilnya, kata Paul, peminatnya cukup banyak. Namun sayang, hingga kini Paul belum menemukan terwaralaba yang pas. Umumnya karena terwaralaba tak memenuhi persyaratan lokasi dan tempat usaha.

Paul memang menjadikan tempat usaha sebagai persyaratan utama buat calon terwaralabanya. Paul mensyaratkan, kedai Tiga Nyonya itu berbentuk rumah dengan luas 150 m2-250 m2 yang bisa menyediakan tempat duduk minimal 90 buah. Ini, ujar Paul, untuk mencegah melubernya tamu-tamu sehingga kabur ke rumah makan sebelah. Tak sembarang rumah, untuk menjadi gerai rumah itu harus pula mempunyai cukup jendela, sehingga pencahayaannya bisa alami. “Kalau terlalu banyak lampu, biayanya mahal dan nanti suasananya menjadi tidak homey,” paparPaul.

Nah, mencari rumah yang memenuhi syarat sebagai gerai Kedai Nyonya di kota besar macam Jakarta tentu bukan perkara mudah. Padahal, pangsa pasar utamanya memang masyarakat kelas atas di perkotaan. Maklum, harga makanannya lumayan mahal, yakni rata-rata Rp 70.000 sampai Rp 80.000 perporsi.

“Makanya ada calon terwaralaba kami yang mau membuka kedai di Surabaya minta saya kami mempertimbangkan lagi harga jualnya di sana,” kata Paul yang tengah bersiap menawarkan waralabanya di luar negeri. Menanggapi permintaan itu, Paul mengaku tak mau ngotot. Dia setuju harga makanan di gerai-gerai waralabanya berbeda dari harga gerai di Jakarta, asalkan gerai terwaralaba itu memang berada di luar kota Jakarta.

Persyaratan kedua, setelah tempat usaha, tentu saja adalah modal. Jumlahnya lumayan besar, yakni sekitar Rp 1,25 miliar. Ini sudah termasuk franchise fee untuk lima tahun pertama, seluruh perlengkapan masak, dan persiapan gerai (lihat tabel:Menakar Kepulan Rezeki Dapur Tiga Nyonya). Namun, modal segitu belum termasuk sewa tempat dan modal kerja awal.

Meskipun butuh modal lumayan besar, Paul yakin waralaba yang dia tawarkan ini tetap menarik. Dengan margin laba bersih sekitar 30%, Paul memperkirakan, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 2 tahun. Tentu, dengan syarat: terwaralaba bisa menemukan lokasi yang tepat, yaitu dekat perkantoran dan perumahan.

+++++
Empat Petunjuk dari Pietra Sarosa

Selagi manusia hidup dan butuh makan, bisnis makanan memang akan terus hidup.Makanya, bisnis makanan memang layak menjadi salah satu incaran mereka yanghendak memulai usaha sendiri.

Bagi orang-orang yang kepingin masuk dalam bisnis makanan tapi tidak jago masak, waralaba memang bisa menjadi jawaban. “Cuma, kalaupun tidak lihai masak, sebaiknya Anda suka makan. Jadi, sense of entrepreneurship-nya akan muncul, “ungkap Pietra Sarosa, konsultan waralaba dari Sarosa Consulting.

Nah, sebelum memutuskan waralaba makanan mana yang akan Anda ambil, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut saran Pietra:

Jangan membeli waralaba jika Anda tak mau terjun mengurusnya sendiri. Anda memang tidak harus ada setiap hari di gerai, tapi minimal Anda harus berada di gerai 2-3 hari dalam seminggu, minimal selama 2-3 jam;

Sistem waralaba umumnya memang dirancang bisa berjalan tanpa harus diawasi sepenuhnya oleh pemilik. Namun, kehadiran Anda di gerai akan membuat Anda mengerti benar berbagai macam komplain dari konsumen, sehingga bisa langsung melakukan langkah-langkah perbaikan;

Adakan investigasi kecil-kecilan untuk bisa memperkirakan track record return on investment pada gerai-gerai yang sudah ada. Jangan mau menerima begitu saja asumsi-asumsi yang dilemparkan pewaralaba;

Bandingkan harga jual dan rasa menu dari beberapa waralaba yang Anda incar. Dari situ Anda akan mengetahui ada tidaknya menu andalan mereka, serta apakah harga yang mereka tawarkan wajar atau tidak. Ini bisa Anda gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih serta bernegosiasi dengan pewaralaba.

Djumyati Partawidjaja

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , .

Kumpulan soal UAN tingkat SMP Bubur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Kategori

Add to Technorati Favorites