Kisah Sonson mengembangkan mesin pembuat kompos

Februari 15, 2008 at 9:21 am 17 komentar

PROFIL
No. 48, Tahun X, 4 September 2006

Memupuk Uang dari Sampah
Kisah Sonson mengembangkan mesin pembuat kompos

Bermula dari usaha produksi pupuk dan alat pertanian, Sonson Garsoni terjun ke bisnis pembuatan mesin dan bahan pengolah sampah. Alat buatannya sudah ekspor ke Malaysia dan Brunei.

Siapa, sih, yang mau dekat-dekat dengan pembuangan sampah akhir kota besar seperti pembuangan Jakarta dan Bandung? Di sana cuma ada lautan lalat serta bau yang menyengat. Namun, Sonson Garsoni memiliki pemikiran lain. Ia justru mencium aroma laba dari tengah kerumunan sampah. Sonson mulai menggarap potensi sampah di lingkup keluarga dan lingkungan kecil.

Sonson sebelumnya berbisnis di bidang produksi dan penjualan pupuk tablet. Gagasan untuk banting setir ke sampah muncul dari ledakan TPA Leuwigajah. Sejak itu, dia mencetuskan ide menangani sampah dari skala kecil. Caranya dengan mengajak warga membuat kompos. Program yang dinamai gerakan darurat penanganan sampah kota (GDPSK) ini dilakukan dengan menyebarkan alat dan teknologi sederhana pengolah sampah menjadi kompos. “Untuk sampah diperkotaan, perlu teknologi yang sederhana dan tak merepotkan,” ujar bapak tiga anak ini.

Untuk itu, Sonson dan timnya mendesain wahana pengolah sampah. Dengan alat ini, orang tak perlu lagi menyiapkan lahan luas untuk membuat lubang galian secara tradisional. Alat untuk skala rumahan berupa tong hasil daur ulang berkapasitas sampai 1 m3. Namanya komposter. Untuk skala yang lebih besar seperti lingkup kelurahan atau kecamatan, dibuat alat lebih besar yang dinamakan rotary klin yang punya kapasitas 3 m3. “Harga alatnya dari Rp 200.000 sampai Rp 15 juta per unit,”katanya.

Biar proses pengomposan tak mengganggu lingkungan, Sonson juga meramu bahan campuran untuk pengolahan. Dia membiakkan mikroorganisme yang mampu membuat sampah tak bau dan membuat mineral penggembur (bulking agent) untuk mempercepat proses perubahan sampah menjadi kompos. “Alat komposter bisa saja orang meniru, tapi bahan campuran pembuat kompos ini hanya kita yang bisa bikin,”ujarnya. Maka, Sonson tak khawatir kendati banyak orang memproduksi alat komposter. Soalnya, ia tetap bisa jualan bahan pencampurnya.

Untuk memperluas penggunaan komposter, Sonson menggandeng banyak lembaga untuk membiayai dan memodali penyebaran pengolahan sampah ini. Ada puluhan ribu orang dan usaha kecil yang telah memakai alat bikinan Sonson. “Gerakan membikin kompos ini masih terbilang dari bawah. Saya lihat pemerintah daerah tak banyak berperan,” tuturnya.

Upaya penyebarluasan teknologi pengolahan sampah perkotaan rupanya menarik minat banyak pihak. Termasuk perusahaan swasta di Malaysia dan Brunei. Mereka minta dikirim komposter dan bahan pembuat kompos. “Di negara tetangga, urusan pengelolaan sampah itu diserahkan ke swasta, beda dengan di sini,” ungkapnya.Lantaran urusannya B to B (swasta dengan swasta), kesepakatan bisnis dengan pengusaha negeri tetangga terbilang mulus.

Bisnis kompos yang menguntungkan

Juli lalu, misalnya, CV Sinar Kencana-perusahaan milik Sonson-sepakat dengan perusahaan Malaysia dan Brunei untuk memasok bahan kompos sebanyak 260 ton per bulan ke Kuala Lumpur dan 50 ton ke Brunei. Selain itu, mereka juga mendapat order untuk membuat mesin komposter sebanyak 1.000 unit, masing-masing senilai Rp 15 juta ke Malaysia dan 50 unit ke Brunei. “Dari hitungan mereka, bisnis ini sangat menguntungkan. Kalau harga kompos di sini Rp 1.500 per kg, di sana harganya bisa mencapai Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per kg,” ujarnya.

Belakangan, lantaran permintaan cukup besar, perusahaan di Malaysia malah meminta Sonson untuk membangun pabrik pembuat bahan kompos di sana. Melihat peluang yang terbuka lebar, Sonson bakal mengambil kesempatan itu. “Saya akan tetap menggandeng mitra lokal. Soalnya, di sana bisa dapat pinjaman bank dengan bunga rendah,” tuturnya. Kalau tak ada aral melintang, akhir tahun ini pabrik itu sudah bisa berdiri.

Sukses sebagai juragan mesin pembuat kompos, pundi-pundi yang dihasilkan dari bisnis ini semakin menumpuk. Pendapatan dari bisnis sampah malah melampaui bisnis utama yang selama sepuluh tahun terakhir digeluti Sonson. Yakni: pupuk tablet dengan merek Gramalet. Dengan latar belakang pendidikan industri pertanian dari Institut Pertanian Bogor, dari awal Sonson lebih banyak terjun ke bisnis pertanian.

Di luar itu, Sonson juga mengembangkan bisnis penjualan berbagai produk dengan merek sendiri. Sebagian besar merupakan hasil produksi usaha kecil dan menengah.”Saya merangkul mereka untuk membuat produk yang bisa diterima pasar,” katanya. Jaringan penjualannya tak cuma lewat distributor. Sonson juga gencar menawarkan produknya lewat internet. Sonson mengakui, penjualan produk lebih banyak lewat pemesanan langsung. “Tapi penawaran lewat internet tetap diperlukan supaya orang mengenal produk kita,” tambahnya. Beberapa produk yang dijual lewat internet antara lain AkuOke (camilan), Prima (herbal), BerSeka (beras dan produk kesehatan), NikNak (bumbu), Green Phoskko (pupuk kompos dan bahan pengolahnya), dan Kencana (kerajinan tangan).

Sonson mengaku bahwa laba bukanlah satu-satunya tujuan. Lewat bisnisnya, ia ingin mengangkat produk usaha kecil menengah yang sering susah untuk memasarkan produk mereka. “Sebenarnya, kalau diberi standar produk dan kualitas diawasi, produk mereka bisa diterima pasar,” katanya.

Kini, dengan seabrek bisnis yang digeluti sejak dua puluh tahun terakhir, omzet bisnis Sonson sekitar Rp 10 miliar per tahun. Ia berharap bisnis mesin pembuat kompos yang baru belakangan dilakoni bisa berkembang cepat. “Saya yakin, banyak orang yang butuh alat-alat seperti ini, khususnya di kota-kota besar,” katanya. Itu sebabnya, ia berencana mempromosikan komposter ke banyak kota lain.

+++++

Biasa Berbisnis sejak Kuliah

Tanggung jawab sebagai anak tertua dari enam bersaudara secara tak langsung membentuk mental bisnis Sonson Garsoni. Lahir sebagai anak seorang guru di Ciamis, sejak kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Sonson sudah banyak menyambi. Mulai dari usaha fotokopi, jualan buku kuliah, sampai bisnis kaus oblong. Salah satu pemicunya adalah kebutuhan untuk membiayai kuliah secara mandiri.”Adik saya masih banyak. Jadi, saya harus bisa membantu orang tua,” kenangnya.

Selulus kuliah, tahun 1984, bersama seniornya seperti Soleh Solahudin, Hidayat Syarif, dan M. Lutfi, Sonson mendirikan Yayasan Agro Saintiani yang bergerak di bidang konsultan pertanian. Namun, usaha nirlaba itu bubar. Awal 1990, Sonson memulai bisnis dari awal dengan proyek pengadaan 10 juta bibit teh atas biaya Bank Pembangunan Asia (ADB). Untuk pengembangan bisnis, akhirnya dia memutuskan memindahkan usahanya dari Bogor ke Bandung.

Mulai 1994, Sonson terjun ke bisnis pupuk dan alat pertanian. Selain kebutuhan besar, Sonson juga menjajaki untuk mengembangkan pupuk tablet. Inovasi produk ini, pada 1995-2000 malah jadi program nasional. Tahun 2001, Sonson mendirikan CV Braga Niaga yang mempelopori kafe tenda di Bandung dan banyak kegiatan pameran.

Bagus Marsudi

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , , .

Menjajal tawaran waralaba bengkel HMTC Kumpulan soal UAN tingkat SMP

17 Komentar Add your own

  • 1. charlie  |  Maret 13, 2008 pukul 4:37 am

    saya bertempat tinggal di medan, saya ingin melirik untuk melihat prospek ke depan yaitu pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk kompas. dan ada keinginan untuk membuat industri kecil pengolahan sampah menjadi pupuk.
    Yang ingin saya tanyakan adalah kira kira berapa modal yang harus saya keluarkan, luas tanah yang dikehendaki dan alat alat yang diperlukan itu.
    Thanks

    Balas
  • 2. blogkage  |  Maret 13, 2008 pukul 5:27 am

    @charlie
    utk detailnya silakan tanya langsung ke pak sonson, dengan alamat :

    CV Sinar Kencana (kontak: Sonson Garsoni)

    Jl. Ringkur No. 115C Bandung
    Telepon: (022) 4262235, 4262253
    Faksimili: (022) 4214084
    Situs: hxxp://www.kencanaonline.com

    sumber: KONTAN No.49/X 2006

    Balas
  • 3. A. Zaenuddin  |  Maret 19, 2008 pukul 10:21 am

    Saya di Makassar tertarik dengan usaha kompos, jika saja ada info bagaimana memasarkannya. Saya pernah dengar ada komposter Rotary yang bisa muat 2 Ton dan pakai engine. Dimana bisa dapatkan informasinya. Alangkah baiknya juga alat ini digunakan perusahaan dalam melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) dan kami sangat siap menjalankannya.

    Balas
  • 4. blogkage  |  Maret 19, 2008 pukul 11:51 am

    @A.Zaenuddin
    coba anda hubungi kontak pak sonson yg sudah ada diatas, tq

    Balas
  • 5. sabri  |  September 21, 2008 pukul 1:07 pm

    saya telah memproduksi kompos 10 ton/hari, saat ini kami sedang kebingungan menjual, kiranya ada informasi tentang itu please contac us….

    Balas
  • 6. yunesman  |  Desember 26, 2008 pukul 4:42 pm

    adakan alat pebuat (mesin ) pupuk kompos

    Balas
  • 7. dhimas  |  Januari 13, 2009 pukul 1:40 pm

    berapa harga mesin pengolah sampah untuk kapasitas sedang? dan bagaimana proses pembelian alat itu?,apakah bahan dasar pupuk ini bisa kita gunakan dari sampah daun atau rumput laut?tlg balas email saya ya pak terima kasih,wassalam

    Balas
  • 8. Bayu Imbawan  |  Februari 21, 2009 pukul 5:13 pm

    saat ini kompos banyak diperlukan dalam jumlah besar bagi bahan baku industri pupuk organik granul- proyek kemitraan BUMN ( Pusri, Pertani, dll). Namun diketahui ternyata jumlah kompos sangat kurang, karenanya bagi penghasil kompos skala besar silahkan kontak ratusan industri granul di berbagai Propinsi.

    Balas
  • 9. bisnis pertanian  |  Maret 20, 2009 pukul 2:13 am

    sip… bagus banget artikelnya

    bagi yg ingin memulai bisnis pertanian dan dapat diakses http://www.situsmesin.com/berita
    silahkan dikunjungi

    Balas
  • 10. ketut sujana  |  Maret 20, 2009 pukul 5:51 am

    berapa harga paket mesin kompos dengan kapasitas produksi kompos 5 (lima) ton per hari berikut ini ? :
    • Mesin pencacah sampah
    • Mesin Konveyor pemilah / feeder
    • Mesin pengayak
    • Mesin mixer (pengaduk/pencampur)
    terima kasih atas informasinya

    Balas
  • 11. Utomo  |  April 24, 2009 pukul 9:14 am

    Mohon kirimkan informasi tentang mesin pengolah sampah ke Email. Kami sebuah lembaga sosial ingin mengembangkannya di Kalimantan Selatan. Terima kasih.

    Balas
  • 12. EDDY S  |  Juni 25, 2009 pukul 4:58 am

    Apakah bisa saya melihat desainnya. Kalau bisa bagaimana caranya. Tambahan lagi alamat tidak ditemukan.

    Balas
  • 13. roosliana APP  |  Juli 5, 2009 pukul 9:41 am

    saya mahasiswi jurusan kesehatan lingkungan poltekkes depkes jogja…baru semester 3
    untuk mendukung kuliah saya,
    saya sangat tertarik juga untuk melirik bisnis ini,,,
    bisa digambarkan awal mula anda memulainya,,,
    saya ingin sekali mempunyai jiwa enterpreneur seperti anda…
    tlg balas di email saya,,,

    Balas
  • 14. nurohman kamil  |  Juni 13, 2011 pukul 8:13 am

    saya perlu mesin kompos yang kapasitas minimal 1 ton/hari… mohon informasi: spect, cara kerja dan price nya. makasih sblm nya.

    Balas
  • 15. datoxgawang_macho  |  Juli 2, 2011 pukul 7:31 am

    saya nuri dari blitar jawa timur ,saya sangat salut dengan bpk.sonson ini karena bisa menciptakan alat yang yang angat berguna sekali bagi kesetabilan lingkungan di masa mendatang serta dengan kejeliannya berhasil memanfaatkan limbah sampah menjadi mesin uang yang sangat menjanjikan.
    mungkin klo ada ide2 lain tentang pemanfaatan sampah mohon bpak sonson mau menghubungi saya lewat email saya nurisetiyonuri@yahoo.com

    Balas
  • 16. abi  |  September 22, 2011 pukul 11:36 pm

    Mohon untuk dapat dikirim brosur mesin pembuat kompos detil dengan spesifikasi, kemampuan, life time, afer sales servise, harga serta agen penjual mesin di indonesia. Biaskah konsultasi gratis

    Balas
  • 17. eko  |  November 15, 2011 pukul 12:28 pm

    sepertinya sangat menarik,,,tolong info ttg mesin harga dll,,bhan pmbuat kmpos dan bahan pencampurnya.serta kmpsisi untuk tanaman

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Kategori

Add to Technorati Favorites