Sukses Endang dan Suparti berdagang kue kering

Mei 5, 2008 at 12:47 am 10 komentar

PROFIL
No. 22, Tahun X, 6 Maret 2006

Kreesss! Renyah Laba Kue Kering
Sukses Endang dan Suparti berdagang kue kering

Lebih dari dua puluh tahun lalu, Hajah Suparti dan Haji Endang mulai berdagang kue kering yang dititipkan di warung seputar Depok. Kini, kue keringnya gampang sekali ditemui di seluruh Jabotabek.

Kue kering adalah salah satu penganan yang banyak dibeli orang. Jenisnya bisa sampai ratusan macam. Kualitas dan harga jualnya juga beragam. Di toko kue, di pasar, juga pasar swalayan, lazimnya kue kering ini dikemas dalam stoples plastic bulat dan dijual berdasarkan bobot kue itu. Nah, ternyata kebanyakan kue kering yang ada di Jakarta dan sekitarnya berasal dari pabrik kue milik Suparti di Depok.

Kue bikinan Suparti kebanyakan tidak bermerek. Pedagang grosir yang memborong kue di pabriknya bakal menempelkan merek mereka sendiri. Namun, Suparti juga membuat merek sendiri, yakni Selera. Boleh dibilang, kue Suparti lah yang menjadi selera pasar kue kering kelas warung atau toko di wilayah Jabotabek.

Ada sembilan macam kue kering yang diproduksi Suparti. Yakni, kue keju (kaastangel), nastar, lidah kucing, semprit, putri salju, kacang mede, kue kacang, dan kue chip cokelat. Kue yang paling laris adalah nastar dan kue keju. Tak heran, orang-orang di sekitar Sukmajaya mengenal rumah Suparti sebagai pabrik nastar. “Cari saja Haji Endang, pabrik nastar,” celoteh seorang tukang ojek di Depok. Nah, Haji Endang ini nama suami Suparti yang berperan sebagai pemasar kue sehingga kondang di mana-mana.

Menjelang Lebaran adalah masa-masa panen raya bagi Suparti dan Haji Endang. Paling sedikit mereka menghabiskan 5 ton tepung terigu atau sebanyak 200 bal dalam sebulan. Bahan baku segitu menghasilkan 2.000 lusin kue kering berbagai jenis. Sebagai perbandingan, sehari-hari Suparti membutuhkan 1,5 ton terigu sebulan atau 50 kilogram dalam sehari.

Suparti menjual kuenya dalam dua macam wadah. Kue dalam stoples plastic dibanderol Rp 17.000, sedangkan kue dalam kemasan plastik biasa dijual dengan harga Rp 6.000 per wadah.

Suparti lebih banyak bekerja di pabrik untuk membuat kue-kue tersebut. Soal pemasaran, Endang yang menanganinya. Dua puluh tiga tahun yang lalu, Endanglah yang pertama kali menitipkan kue bikinan Suparti ke toko-toko di sekitar rumah mereka. “Usaha ini memang atas nama saya. Tapi, yang membuat kuenya adalah nyonya saya, Hajah Suparti,” tutur Endang yang sekarang berumur 63 tahun.

Dimulai dengan sebuah blender

Usaha kue kering ini berawal ketika Suparti tidak ingin menggantungkan diri pada penghasilan Endang semata. Maklum, Suparti ini istri kedua Endang. “Bapak sudah berkeluarga, jadi saya harus berjuang juga buat anak-anak,” tutur Suparti mengenang masa-masa lalu.

Membikin kue bukan hal baru bagi Suparti. Dari sebelum menikah, Suparti sering membuat kue tersebut di kampung asalnya, Pacitan, Jawa Timur. “Waktu di kampung, saya kerap bikin kue kering,” tuturnya.

Karena tekad itulah, tahun 1983, Suparti lantas belanja bahan kue dan membikin kue dengan sebuah blender miliknya. Kue pertama dibikin di kontrakan Suparti di Margonda Raya, bermodal dua kilogram tepung terigu. Lantas ia jual ke pasar dekat situ. Tak tahunya, kue bikinan Suparti langsung ludes. Hari berikutnya, Suparti kembali membuat kue, tapi jumlah bahan bakunya ditambah. Kue Suparti selalu habis terjual.

Endang rupanya tanggap juga dengan usaha istrinya. Melihat respon pasar yang bagus, ia segera turun tangan. “Bapak mulai membantu, dagangannya di pasar ditinggal,” kata Suparti. Sebelumnya, Endang adalah pedagang emping, krupuk, dan ikan asin di pasar.

Setelah usaha ini berjalan dua bulan, Suparti mulai mencari karyawan. Ia merekrut keponakan dan tetangga di seputar kontrakannya. Usai merekrut karyawan, Suparti membeli tanah untuk menambah kapasitas produksi. Maklum, ruangan di rumah kontrakannya sudah tidak memadai lagi sebagai pabrik kue. “Saya maksain beli tanah 100 meter di Sukmajaya,” kata Suparti.

Adapun Endang menawarkan kue bikinan Suparti ke toko dan pasar lain yang jauh dari kediaman mereka dengan naik sepeda motor. Sekitar lima tahun, Endang harus berusaha meyakinkan para pemilik toko dan warung yang disambangi sembari menenteng stoples isi kue kering.

Dasar bintang peruntungan Suparti dan Endang sedang bersinar, kue mereka sampai juga ke sebuah agen yang besar. Agen ini memiliki jaringan pemasaran di Ramayana, Goro, Hero, dan Gelael. Daerah pemasarannya pun meluas sampai ke Tangerang dan Bogor. Itulah masa-masa kegemilangan kue kering mereka. Berturut-turut, Suparti dan Endang membeli rumah sendiri, menunaikan ibadah haji, dan membeli beberapa mobil untuk usaha. “Alhamdulillah, tadinya mengontrak, terus beli rumah sendiri, pendidikan anak-anak juga lancar,” kata Suparti polos.

Namun, kegemilangan itu tidak lama. Usaha kue kering ini terkena hantaman krisis moneter tahun 1998. Produksinya merosot tajam.

Untungnya, pelan-pelan usaha mulai membaik dan kembali seperti semula. Meski begitu, Suparti harus rela memangkas margin labanya. “Untungnya makin sedikit, “tutur Endang. Jika sebelumnya margin keuntungan mereka mencapai 40%, sekarang paling banter hanya 10%. “Bersyukur kami bisa bertahan, yang lain sudah pada gulung tikar,” tutur Endang yang mempunyai enam belas orang anak ini.

+++++

Bebas Pengawet

Kue kering sangat laris di pasar, antara lain, karena penganan ini relatif lebih awet ketimbang jajan pasar, cake, atau kue basah lain. Namun, Endang memiliki prinsip sendiri dalam berbisnis kue. Biarpun kuenya bisa tahan selama dua bulan, Endang memilih untuk menarik kue yang sudah seminggu menongkrong di etalase toko. Pasalnya, ia khawatir dengan kualitas kue kering yang kelamaan menganggur. Selain itu, Endang enggan menambahkan pengawet di kuenya. “Saya jaga betul kue saya ini bebas dari bahan pengawet,” kata Endang.

Nah, selain bebas pengawet, Endang juga enggan berutang. Saban menerima uang pembelian kue dari pelanggan, Endang memilih untuk terlebih dulu belanja bahan baku dan menutup biaya operasional. Uang sisa dari belanja itulah yang dipakai untuk membangun rumah dan menambah kekayaan. “Dengan begitu, saya bebas dari utang,” tuturnya.

+++++

Meninggalkan Pasar Modern

Setelah krisis moneter selesai, ternyata Endang harus berganti strategi jualan. Sebelum krismon, Endang banyak menitipkan kuenya di gerai pasar modern atau pasar swalayan. Tapi, sejak krisis, pasar swalayan atawa supermarket banyak yang membuat kue sendiri. Bukan itu saja, pengelola pasar modern juga mengeluarkan aturan biaya bagi pemasok mereka. “Biayanya kadang tidak terjangkau,” jelas Endang.

Masalahnya, pembayaran dari gerai pasar modern tidaklah selancar pembayaran di toko biasa, warung, atau kios di pasar. “Kayaknya, lakunya lebih cepet di took daripada supermarket,” tukas Endang. Itu sebabnya, Endang lantas memilih untuk menitipkan kue bikinan Suparti di gerai tradisional saja.

Lagi pula, siapa bilang jualan di gerai tradisional tidak menguntungkan? Buktinya, penggemar kue Suparti juga tidak berkurang.

Omar Idris

About these ads

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , .

Om Farhan Is Back Melongok tawaran kerja sama SPBU Pertamina

10 Komentar Add your own

  • 1. Mya  |  Juli 24, 2008 pukul 11:58 am

    Saya terharu dengan perjuangan Ibu Hajah Suparti untuk menghidupi anak-anaknya. Karena saya juga sedang berusaha untuk itu juga namun masih tahap awal, belum banyak pengetahuan. Boleh saya berkenalan dengan Ibu Hajah Suparti lebih lanjut?

    Balas
  • 2. hadi  |  Agustus 9, 2008 pukul 2:38 am

    selsmat bu kesuksesan anda bisa jadi inspirasi kami

    Balas
  • 3. Zoel  |  September 25, 2008 pukul 12:19 pm

    Selamat malam, Saya Zoel dari 88DB.com Ind.
    Kalau Kami mau kirim proposal penawaran sewa space iklan / cyber banner / microsite via email, Kami bisa dapat alamat emailnya?
    Trima Kasih

    Salam,

    Zoel

    Balas
  • 4. linda  |  September 26, 2008 pukul 7:54 am

    Tolong diinfo no contact nya bu endang dan bu sparti…

    saya tertarik jadi distributornya

    thanks

    linda

    Balas
  • 5. yongky  |  Oktober 8, 2008 pukul 1:50 am

    Kepada Yth,
    Dengan surat ini, kami ingin memperkenalkan diri sebagai PT. Sinar Prima Harapan, perusahaan yang spesialis di bidang stoples plastic merk APPLE untuk semua macam kue kering, jajanan, dll. Isi per stoples bisa s/d 500 gram. Kualitas plastic tebal, tidak mudah pecah/retak, bersih, dan dengan desain modern. Harga per lusin: rp 21,000. Terima kasih
    Alamat kami di JL raya serang , Tangerang.

    Hormat kami,
    Jongky Leo
    Marketing Manager
    HP. 08161966879

    Balas
  • 6. rina  |  Oktober 13, 2008 pukul 2:48 pm

    wah… saya salut sekali dengan perjuangan Bapak dan Ibu. Semoga pengalaman itu dapat memberikan inspirasi dan semangat bagi saya yang lebih muda, yang ingin juga sukses dalam berwiraswasta seperti Bapak dan Ibu.

    terima kasih..

    Balas
  • 7. rifa  |  Oktober 18, 2008 pukul 3:01 am

    aku enpri rifa azima pelajar smpn2 cimahi kagum atas kesuksesan ibu (azima.site40.net)

    Balas
  • 8. yoko  |  April 21, 2009 pukul 10:50 am

    piye bu memulai awal,sedangkan kita modal pas-pasan’

    Balas
  • 9. refnisia  |  Mei 28, 2011 pukul 10:08 am

    Salut dengan perjuangan dan keberhasilannya, sayatertarik untuk memasarkan produk kuenya di sumatera, bisa minta alamat lengkap n nomor telpon Pabrik kue selera. thanks

    Balas
  • 10. erni  |  Februari 25, 2012 pukul 2:22 pm

    yth ibu /bpk

    mohon tanya apakah bapak dan ibu masih berusaha di bidang
    kue kering …apa kah di jual dlm KG bolehkah saya tau tlp ibu dan
    alamat ibu .

    saya ingin berjualan

    terima kassih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.