Kisah Edi Nursasongko berbisnis pendidikan

Mei 2, 2008 at 12:40 am 15 komentar

PROFIL
Tabloid KONTAN No. 16, Tahun X, 23 Januari 2006

Jurus Mulus ala Udinus
Kisah Edi Nursasongko berbisnis pendidikan

Gara-gara merasa kariernya sudah mentok sebagai direktur lembaga pendidikan, Edi Nursasongko memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya. Bermodal utang dan nekat, ia mendirikan bisnisnya sendiri.

Nama Universitas Dian Nuswantoro atau Udinus barangkali kurang terkenal di pusat pemerintahan. Mungkin cuma segelintir orang yang pernah mendengarnya. Jangan-jangan pikiran malah melayang ke Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta.

Namun, coba sebutkan Udinus di Jawa Tengah. Niscaya banyak orang tahu lokasinya yang berada di Semarang. Pamor Udinus cepat menanjak karena kampus ini menjadi salah satu sasaran lulusan SMA di Jawa Tengah. Saat ini tercatat ada 9.000 mahasiswa yang terdaftar di Udinus.

Nama Udinus juga lekas terkenal lantaran universitas yang didirikan oleh Edi Nursasongko ini menggaet pelawak Basuki sebagai bintang iklan. Celetukannya yang berbunyi, “Ini, to, kampus Manajuminem Dian Nuswantoro?” serasa akrab di telinga masyarakat Jawa Tengah. Belum lagi ada televisi milik Kampus Udinus berlabel TVKu, yang gelombang siarannya tertangkap dengan baik di Semarang.

Jika melihat kemegahan gedung Udinus dan riuh rendahnya mahasiswa di situ, siapa mengira jika Edi membangun kampus ini dari nol. Bahkan, saat awal memulai bisnis pendidikan, Edi bukannya mendirikan sebuah kampus. Ia mengawalinya dengan kursus komputer. Saat ini Udinus memiliki lima fakultas serta satu program pascasarjana. Andalan Udinus adalah Fakultas Ilmu Komputer.

Ketertarikan Edi pada dunia komputer terjadi saat ia mulai kuliah. Ceritanya, pada akhir tahun 1970-an Edi kuliah D3 di Akademi Informatika dan Komputer Jakarta di Radio Dalam. Ketika lulus kebetulan kampusnya itu menjadi sekolah tinggi. “Saya bisa langsung masuk sarjana tanpa harus tes lagi, karena kan saya lulus SMA sudah lama,” tutur lelaki kelahiran Semarang ini. Alhasil, tahun 1983 ia lulus dan menyandang gelar sarjana.

Mengangkut keluarga ke kampung halaman

Waktu itu, sarjana ilmu komputer di Indonesia masih sangat jarang. “UI dan ITB saja belum mewisuda sarjana ilmu komputer mereka,” kata Edi yang punya hobi membaca. Tak usah heran jika tawaran pekerjaan membanjirinya. Edi lantas memilih bekerja di Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Amerika di Jalan Wijaya. Ia ditawari menjadi direktur dengan gaji Rp 1 juta. “Tawaran itulah yang gajinya paling tinggi,” kenang Edi.

Tapi, setelah duduk di kursi empuk direktur, Edi malah punya pemikiran lain. Ia merasa bahwa kariernya sudah mentok sampai di sini saja. “Ya, di atas saya kan tinggal pemiliknya,” seloroh Edi. Saat itu ia bertekad membuat lembaga pendidikan komputer sendiri. Selama tiga tahun di perusahaan tersebut, Edi menyerap ilmu sebanyak mungkin.

Merasa sudah cukup, tahun 1986 Edi memutuskan keluar dari tempatnya bekerja. Ia lantas membawa istri dan anaknya kembali ke Semarang naik mobil. Edi pulang ke rumah orang tuanya. Tapi, karena tidak bilang bahwa ia ingin punya usaha sendiri di kota kelahiran itu, orang tuanya menyangka Edi cuma mampir sebentar. Tak aneh kalau mereka sempat naik darah begitu tahu Edi mau berbisnis sendiri. Bagaimana tidak, Edi telah meninggalkan kehidupan yang mapan dan gaji besar di ibu kota.

Tambah lagi, demi mewujudkan cita-citanya, Edi meminjam uang Rp 65 juta dari seorang teman dengan bunga 2%. Komplet sudah kemarahan orang tua Edi. “Balik lagi ke Semarang, menganggur, cari utangan lagi!” kenang Edi.

Bermodal Rp 65 juta plus tabungannya selama bekerja, Edi mendirikan LPK Imka di Semarang. Ia menyewa sebuah rumah di Singosari dan mulai mempromosikan kursus komputernya. Sebagai pengajar, Edi memanggil kawan-kawannya yang masih menganggur. Ia memberi mereka pelatihan dan yang mampu langsung didaulat menjadi pengajar.

Tapi, berbisnis pendidikan begini tidaklah seenak kelihatannya. Edi harus bersusah payah mengumpulkan murid. Baru tiga bulan kemudian dia mencatat ada 186 murid untuk delapan kelas.

Karena sifat kursusnya cuma tiga bulanan, Edi pun harus puyeng setiap saat demi kelangsungan kelasnya. Itu sebabnya, ia lantas menyusun kurikulum untuk kursus setahun plus iming-iming beasiswa ke Singapura. “Waktu itu masih jarang sekali yang menawari hadiah beasiswa ke luar negeri,” ujarnya. Tak dinyana, peminatnya lantas membeludak.

Setelah itu Edi bak kejatuhan rezeki. Ia bisa mengembangkan bisnis dengan mendirikan kursus sejenis di Solo, Yogya, Surabaya, dan Bandung. Karena promosi beasiswa itu, masing-masing lokasi bisa memiliki 1.000 orang murid. “Duit saya waktu itu banyak sekali,” tutur Edi sembari tersenyum. Alhasil, mengirim lima murid ke Singapura tiap tahun dengan biaya masing-masing Rp 10 juta adalah hal kecil baginya.

Tapi, senyum Edi tidak bertahan lama. Setelah diperhatikan, lulusan LPK Imka berpendidikan minimal SMA. Pasar tenaga kerja tidak banyak menyerap lulusan SMA. “Mereka paling cuma bisa bekerja di ruko-ruko,” kata Edi. Maka, Edi bertekad meningkatkan status kursusnya menjadi akademi.

Lulusannya cuma laku di toko saja

Impiannya segera terwujud. Tahun 1990 ia mendirikan Akademi Dian Nuswantoro. Nama tersebut punya arti mendalam. Dian merupakan singkatan dari dumununging insun angrokso negoro nuswantoro. Edi menjelaskan bahwa artinya adalah keberadaannya di sini untuk merawat Nusantara. “Saya memakai bahasa Jawa, karena saya orang Jawa,” dalihnya. Karena harus berkonsentrasi pada sekolah ini, Edi menutup semua cabang LPK Imka, kecuali cabang Solo dan Semarang.

Tidak cukup dengan akademi, tahun 1994 Edi mengembangkannya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Dian Nuswantoro. Sebentar kemudian ia mendirikan sekolah tinggi lain untuk bidang kesehatan, ekonomi, dan bahasa.

Memiliki banyak sayap dalam satu bidang begitu ternyata tidak gampang. Edi memang menyerahkan pengelolaan masing-masing sekolah tinggi dalam manajemen sendiri. Tapi, tidak ada sinergi dari pemisahan tersebut. Misalnya, laboratorium komputer cenderung cuma dipakai oleh sekolah tinggi komputer. Agar sekolah itu lebih terintegrasi, Edi mengajukan izin untuk universitas.

Begitu izin keluar, ia segera bertindak. Alhasil, tahun 2001 Universitas Dian Nuswantoro pun berdiri. Universitas ini merangkum empat sekolah tinggi yang sebelumnya didirikan Edi dan satu fakultas baru, yakni Fakultas Teknik. Edi, yang sekarang menjabat Rektor Udinus, juga menambahkan program Pascasarjana.

+++++

Kelebihan di Layar Kaca

Kalau kampus lain harus berbisnis karena harus mencukupi kebutuhan sendiri, maka Edi Nursasongko membikin stasiun televisi untuk mendongkrak pamornya. Menurut Edi, saingan terberat bagi kampusnya adalah universitas negeri. Itu sebabnya, ia harus memikirkan cara untuk memberi sesuatu yang lain bagi Udinus.

Jalan keluarnya ternyata justru muncul dari dalam kampus, yakni membuat stasiun televisi sendiri. Ceritanya, Fakultas Bahasa punya program merekam pidato bahasa Inggris saat kuliah broadcast. Rekaman itu kerap disiarkan sebatas kalangan fakultas saja. Lama-lama fakultas lain pun ingin melakukan hal serupa. Namun, gelombang siaran sulit untuk dibatasi. Itu sebabnya, Edi lantas mengurus izin siaran.

Izin televisi diperoleh dalam waktu satu setengah tahun. Tahun 2004 TVKu mulai mengudara. Siarannya dapat diterima dengan bersih di Semarang. Edi pun mulai menerima iklan. “Lumayan, bisa buat menutup ongkos operasional,” katanya.

+++++

Gagal Menjadi Penerbang

Edi Nursasongko lahir di Semarang, pada 16 Juni 1955. Anak kelima dari enam bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga sederhana seorang pegawai negeri sipil. Saat lulus SMA sebenarnya Edi sudah diterima di Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro. “Tapi, ketika itu pas bapak saya pensiun dari Dinas Kesehatan,” tutur ayah empat anak ini. Niat kuliah pun terpaksa urung karena tidak ada biaya.

Edi lantas memutuskan pergi ke Jakarta. Ia mencari sekolah yang tidak perlu ongkos, sekaligus bisa langsung bekerja. Pilihannya jatuh pada sekolah penerbangan di Curug Tangerang. Ia memang bisa mengemudikan pesawat, namun tidak lolos seleksi untuk pendidikan berikutnya. Terpaksa Edi keluar dan mendaftar di Deraya yang juga punya sekolah penerbangan. Namun, lagi-lagi ia gagal.

Setelah gagal duduk di bangku sekolah, Edi pun membantu kakaknya berjualan batik. Sedikit demi sedikit ia bisa mengumpulkan uang. Dengan modal sendiri itu Edi memilih sekolah komputer. Ia tidak salah langkah. Suami dari Tri Rustanti ini mendulang rezeki dari pendidikan komputer.

Hendrika Y., Johana Ani Kristanti (Semarang)

About these ads

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , , , .

Google menolak menemukan Roy Suryo Peluang usaha bioskop mini

15 Komentar Add your own

  • 1. winsolu  |  Mei 2, 2008 pukul 3:51 am

    salam blogger…
    maju terus pendidikan indonesia:D…
    kenalan donk?

    Balas
  • 2. tvku  |  Mei 13, 2008 pukul 2:51 am

    bravo pak Edi Nur bravo UDINUS…………….

    Balas
  • 3. blogblajar  |  Mei 13, 2008 pukul 3:05 am

    Tulisannya inspiratif.

    Balas
  • 4. marumpa  |  Mei 13, 2008 pukul 4:24 am

    Dengan kreatifitas , segalanya jadi lancar. Maju terus. Kata orang, Mr. Bill gates jadi orang terkaya di dunia karena riset dan ilmu pengetahuan bukan karena menjual hasil bumi.

    Balas
  • 5. dobelden  |  Mei 13, 2008 pukul 4:44 am

    kisah perjuangan yang mantepp :)

    Balas
  • 6. hary08  |  Mei 13, 2008 pukul 5:02 am

    sepenggal kisah yang patut di teladani.pantang menyerah maju terus. UDINUS memang POLKE kata alm H Basuki

    Balas
  • 7. ompiq  |  Mei 13, 2008 pukul 5:39 am

    From Zero to Hero

    Balas
  • 8. bhayu satria  |  Mei 22, 2008 pukul 5:55 am

    salam kenal pak Edi. Saya juga ingin bisa seperti pak Edi. Mohon petunjuknya. Terima kasih sebelumnya!

    Balas
  • 9. lucy coca-cola  |  Juni 11, 2008 pukul 6:21 am

    Pak Edi… saluut saya jadi termotivasi, pingin mencerdaskan bangsa…and berbisnis di dunia pendiikan seperti Bapak..Boleh sharing ilmunya kan pak..? Aplagi saya denger langsung waktu seminar di Coca-Cola … luar biasa…!!

    Balas
  • 10. siswanto  |  Juni 21, 2008 pukul 4:57 am

    Pak Edy…masih suka nonton wayang ga?

    Balas
  • 11. siswanto  |  Juni 21, 2008 pukul 5:03 am

    Pak Edy…..boleh pinjam uangnya ga? Rp. 65jt jangan pake bunga ya… buat usaha seperti Pak edi. saya alumni IMKA Veterang semarang lho pak, OYP 13!

    Balas
  • 12. MYA  |  Juni 26, 2008 pukul 2:53 pm

    Pak Edi, tolong bantu kami untuk memulai usaha dalam bidang pendidikan.

    Balas
  • 13. Azwar  |  Juli 31, 2008 pukul 12:03 am

    Luar Biasa, Salam Sukses, sy juga sekarang lagi buat LPK namanya LPK ERLANGGA dibontang

    Balas
  • 14. engel boyke  |  September 20, 2008 pukul 9:22 am

    pak edi saya mau buat akademi komputer di kampung saya tual- maluku tenggara..kira2 untuk membuat akademi itu butuh biaya berapa dan apa saya bisa minta contoh proposal trimah kasih
    salam
    techno.house@gmail.com

    Balas
  • 15. suswono  |  Januari 22, 2009 pukul 4:01 am

    refrensikan buku-buku yang pernah dibaca pak edi buat saya baca…
    Bapak selalu jaga kesehatan yah…
    Kurangi asap atau jauhi orang ngrokok dan jauhilah minum kopi ..!!
    doakan saya supaya jadi orang yang bermanfaat seperti bapak

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Kategori

Add to Technorati Favorites

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.