Mengukur peluang usaha jualan pulsa ponsel

April 4, 2008 at 12:11 am 9 komentar

USAHA
No. 25 Tahun X, 27 Maret 2006

Halo, Halo, Siapa Mau Menjadi Juragan Pulsa?
Mengukur peluang usaha jualan pulsa ponsel

Persaingan usaha pengecer pulsa telepon seluler (ponsel) memang semakin sengit. Tapi, masih banyak peluang untuk pendatang baru. Cuma, karena margin keuntungannya tipis, Anda harus bisa menggenjot omzet setinggi-tingginya.

Sejak krisis ekonomi mendera negeri kita, banyak bidang bisnis yang terpuruk, stagnan, atau bahkan mati atawa bangkrut. Tapi, ternyata tak semua bidang bisnis mengalami nasib yang mengenaskan itu. Ada satu bisnis yang justru berkembang pesat tak ketulungan. Bisnis ini tak lain adalah bisnis pulsa ponsel alias handphone.

Ya, dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan, jumlah kios penjual pulsa ponsel terus nongol bak cendawan di musim hujan. Hampir di setiap kios, ruko, pasar, perumahan, perkantoran, dan pengkolan jalan selalu saja ada orang-orang yang membuka gerai penjualan pulsa ponsel. Bahkan, bukan hal yang aneh jika beberapa teman Anda mungkin juga berjualan pulsa di kantor. “Bayangkan, di Jabotabek saja terdapat sekitar 11.000 outlet. Itu di luar para penjual-penjual perorangan,” kata Djunaedi Hermawanto Vice President Commerce Jabotabek PT Indosat.

Fenomena ini muncul karena industri ponsel di Indonesia memang berkembang sangat pesat. Saban tahun jumlah pemilik ponsel terus bertambah; dan sekarang sudah mencapai puluhan juta orang. Mengingat peluang pasarnya masih terbuka lebar, operator-operator ponsel baru juga terus bermunculan. Sudah begitu, setiap operator biasanya juga memiliki beberapa produk sekaligus. Misalnya, selain IM3, PT Indosat memiliki produk Matrix dan StarOne. Kemudian, PT Telkom memiliki produk Telkomsel (Simpati, Jitu, dan lainnya) dan Telkom Flexi. Selain itu di pasar masih ada Pro XL, Friend (Mobile-8), dan Esia (Bakrie Telecom).

Jika melihat gambaran ini, bukan hal yang aneh jika permintaan pulsa ponsel juga semakin membengkak dari tahun ke tahun. “Peningkatannya bisa mencapai sekitar 30% (berdasarkan nilai transaksi),” kata Djunaedi. Ketika permintaan pulsa terus bertambah, jumlah penjualnya pun juga ikut bertambah. Sayang, dong, kalau peluang nan gurih itu dilewatkan.

Perputaran bisnis pulsa itu menjadi semakin cepat ketika mulai muncul voucher pulsa elektrik di pasar. Pasalnya, teknologi pengisian pulsa secara elektrik ini membuat para pedagang bisa mengecer pulsa dagangannya ke dalam pecahan yang kecil-kecil. Dulu, ketika baru ada voucher fisik doang, pedagang hanya bisa menjual pulsa dalam pecahan Rp 100.000, atau Rp 50.000. Sekarang, mereka bisa menjual pulsa elektrik dengan nominal Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, dan bahkan Rp 5.000 (khusus pulsa SMS). “Pokoknya voucher ini sekarang sudah benar-benar menjadi komoditas,” kata Djunaedi lagi.

Dengan pecahan yang semakin kecil, otomatis perputaran duit pada pemilik gerai pulsa juga semakin cepat. Walhasil, karena jumlah transaksi yang terjadi semakin banyak, mereka juga memiliki peluang semakin banyak untuk mengantongi keuntungan.

Rantai usahanya lumayan panjang

Nah, apakah Anda sudah ikut mencicipi manisnya bisnis pulsa ponsel? Jika belum, tak perlu khawatir. Betul, jumlah gerai penjualan pulsa yang sudah sangat banyak memang membuat tingkat persaingan di bisnis ini sangat tinggi. Tapi, selama jumlah pengguna ponsel masih terus bertambah, rezeki dari pulsa ponsel juga belum habis.

Hanya, sebelum mulai menggelontorkan modal, sebaiknya Anda mengenal seluk-beluk bisnis pulsa tersebut terlebih dahulu. Asal tahu saja, rantai usaha pulsa ternyata tak sesimpel yang Anda bayangkan. Untuk bisa sampai ke konsumen akhir, voucher pulsa- baik fisik maupun elektrik-ternyata harus melalui tiga jenjang distribusi. Yaitu, dealer atau distributor, subdealer atau pedagang partai, dan terakhir pengecer.

Di mana peluang untuk Anda? Sebenarnya, Anda bebas memilih salah satu posisi di dalam rantai distribusi tersebut; bisa menjadi dealer, subdealer, atau pengecer.

Masalahnya, untuk bisa menjadi dealer maupun subdealer, prosesnya tidak mudah. “Kita mengajukan kepada operator, disurvei, dan ada jangka waktu percobaan. Kalau menunjukkan kinerja yang baik atau perkembangan yang bagus, barulah dikasih kesempatan,” kata Januar Hosen, General Manager PT Nusa Pro, salah satu distributor atau dealer Indosat.

Jika sudah lulus, si distributor akan memperoleh jatah pulsa secara rutin dari operator. Sistemnya adalah sistem diskon. Maksudnya, pihak operator akan menjual pulsanya kepada distributor dengan harga yang sedikit lebih rendah dari harga nominalnya. “Diskon yang diberikan Indosat sekitar 5%-7%,” terang Januar.

Selanjutnya, distributor menjual voucher pulsa tersebut dengan memasang margin tertentu. Tapi, marginnya juga tak bisa tinggi-tinggi amat. Menurut Januar, paling banter ia mengambil untung sekitar Rp 500-Rp 1.000 per voucher.

Problem lainnya, karena bermain dalam partai besar, seorang dealer maupun subdealer harus menyediakan modal yang besar. Sayang, baik Djunaedi maupun Januar tak bersedia memerinci berapa modal yang harus dikeluarkan untuk menjadi dealer maupun subdealer. “Pokoknya, hanya yang kemampuan finansialnya terkuatlah yang akan kita pilih. Selain itu, ia juga harus punya jaringan yang cukup luas,” kata Djunaedi memberikan indikasi. Menurut perkiraan KONTAN, modal yang dibutuhkan bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta. Wong, bentuk badan hukumnya saja rata-rata sudah perseroan terbatas atau PT, kok.

Daripada pusing-pusing memikirkan semua tetek-bengek itu, Anda bisa memilih posisi yang ujung. Yakni, menjadi pengecer. Posisi yang satu ini tak membutuhkan modal besar. “Tapi, keuntungan yang bisa diperoleh penjual akhir, yang berhadapan langsung dengan pembeli ini, justru paling besar,” kata Djunaedi lagi. Sudah begitu, caranya juga sangat simpel.

Menjadi pengecer lebih mudah

Tengok saja pengalaman Fendi, seorang pengecer pulsa yang beroperasi di dekat Superindo dan SMA 26, Tebet, Jakarta. Cara Fendi berjualan pulsa cukup unik dan tidak ribet. Lantaran tak punya modal yang cukup untuk menyewa kios, Fendi memilih berjualan pulsa secara asongan. Fendi memodifikasi sepeda ontel miliknya dengan menambahkan semacam etalase dari kaca di belakang sadel. Di situ, dia menaruh voucher-voucher (fisik) HP yang dia jual. Besarnya bervariasi; mulai dari yang nominalnya Rp 25.000 sampai Rp 100.000. Begitu sampai di tempat biasa mangkal, Fendi langsung memasang papan yang bertuliskan “Jual Voucher HP”. Tak ketinggalan, Fendi juga mencantumkan harga-harga pulsa elektrik yang ia jajakan. Setelah itu, duduklah ia menunggu pembeli.

Untuk memulai usahanya ini Fendi mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp 4 juta. Modal itu ia pergunakan untuk membeli kartu-kartu voucher pulsa sebesar Rp 2 juta dan membayar deposit pulsa elektrik kepada distributor atau dealer Rp 2 juta. “Yang elektrik pulsanya ditransfer ke ponsel saya. Kalau menjual saya tinggal transfer lagi pulsa itu ke pembelinya,” ujar Fendi. Oh, ya, modal itu belum menghitung modal untuk sepeda dan pembuatan etalase.

Setelah ditekuni, ternyata usaha kecil-kecilan ini lumayan menguntungkan. Saat ini, Fendi mengaku bisa mengantongi omzet sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta per hari. “Kalau yang beli anak-anak SMA biasanya mereka lebih senang yang elektrik. Tapi, kalau orang kantoran kebanyakan beli yang voucher biasa,” tutur Fendi.

Dari voucher elektrik, Fendi mengambil untung sekitar Rp 1.000-Rp 2.000 per kupon. Dari voucher fisik, untungnya sekitar Rp 2.000-Rp 3.000 per kupon. “Kalau yang voucher fisik harganya bisa berubah-ubah, tergantung dari barang di pasar lagi banyak atau tidak,” imbuhnya.

Total jenderal, setelah dikurangi modal, Fendi pun bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 200.000-an per hari. Lumayan, bukan?

Jika ingin memperoleh keuntungan yang lebih besar, tentu saja, Anda harus memperbesar skala usaha. Untuk itu, sebaiknya Anda memiliki tempat usaha berupa kios kecil. Tentu saja lokasinya harus strategis; bisa di pinggir jalan, di dekat perumahan, dekat pasar, kantor, atau dekat sekolahan. Selain itu, Anda juga mesti menyediakan modal yang lebih besar lagi.

Sebagai perbandingan, mari kita tengok kios 28 Celluler yang berada di Pos Pengumben, Jakarta Selatan. Ibu Ella, pengelola kios ini, mengaku sudah memulai usahanya sejak Juni 2002. “Modal yang saya keluarkan sekitar Rp 30 juta, itu belum termasuk untuk belanja awal voucher-nya,” ujar Ella. Modal itu sebagian besar ia gunakan untuk menyewa kios, membeli etalase, dan pernak-pernik lain.

Sistem yang lebih canggih juga ada

Sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Fendi, Ella mengaku mengambil keuntungan sekitar Rp 1.000-Rp 1.500 per kupon. Tapi, Ella tidak Cuma mengandalkan pendapatan dari penjualan pulsa. Untuk menggenjot penjualan ia juga menjajakan beberapa aksesori ponsel. Hasilnya, Ella bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 10 juta per bulan. Itu termasuk keuntungan dari penjualan voucher yang mencapai sekitar 80 kupon per hari.

Agar usahanya sukses, setiap pemilik gerai pulsa tentu saja harus menyediakan produk voucher dari semua operator seluler yang ada. Artinya, ia juga harus menjalin kerja sama dengan dealer atau subdealer semua operator. Cuma, sekarang, sudah ada dealer yang bekerja dengan hampir semua operator. Artinya, kita tinggal bekerja sama dengan satu dealer saja dan kita sudah memperoleh pasokan voucher keluaran semua operator.

Salah satu dealer masuk kategori seperti adalah PT Epay Indonesia. Perusahaan ini sekaligus menjadi dealer untuk Indosat, Telkomsel, Flexi, dan Esia. Hanya PT Excelcomindo (ProXL) saja yang belum. PT Epay ini menawarkan pola kerja sama yang unik kepada para pengecer.

Selain harus menyediakan tempat, para mitra Epay juga harus menyetorkan modal awal Rp 5 juta. Dari jumlah itu, Rp 2 juta akan dipergunakan untuk membayar sebuah mesin voucher elektronik yang disebut mesin voucher Epay; sementara Rp 3 juta untuk deposit awal pulsa. Oh, ya, tapi pulsa yang dijual Epay ini hanya pulsa elektrik, lo; tidak ada voucher fisik.

Pengecer juga harus menyediakan sambungan telepon tetap (fixed line). Soalnya, ketika ada pembelian pulsa, pengecer harus memasukkan semua data pembelian ke dalam mesin voucher Epay dan mengirimkannya ke PT Epay melalui sambungan telepon. “Tapi, semua biaya telepon ditanggung PT Epay,” ujar Januar, pemilik Toko Baru, yang menjadi mitra Epay. Begitu proses pengiriman data selesai, mesin tadi akan mengeluarkan secarik kertas berisi kode-kode tertentu. Nah, pembeli pulsa tinggal memasukkan kode-kode ke ponselnya, dan pulsa pun akan langsung masuk. Jadi, agak-agak mirip sistem voucher fisik.

Potensi untungnya? Menurut Januar, ia bisa mengantongi margin keuntungan sekitar 2% sampai 10% dari pulsa-pulsa elektrik yang dijualnya. Hebatnya, sekarang, Januar sudah membawahkan jaringan toko-toko sendiri sampai sekitar 20 toko. Jadi, ia sudah menjadi seperti dealer bagi PT Epay. Omzet toko-toko itu bervariasi, sekitar Rp 1 juta sampai Rp 8 juta per hari. Dari toko-toko itu, sekitar 10 toko sudah balik modal. “Karena untungnya tipis, kita harus berpacu dengan waktu dan omzet,” ujar Januar lagi.

Cipta Wahyana, Markus S., Harris Hadinata, Yohan Rubiyantoro

Tabel simulasi perhitungan bisa di donlod di SINI

About these ads

Entry filed under: Bisnis. Tags: , , , .

Peluang baru usaha cuci mobil panggilan IKLAN JADOEL vol 1

9 Komentar Add your own

  • 1. Ide Bisnis Usaha  |  April 7, 2008 pukul 3:38 am

    usaha jualan pulsa adalah usaha yang sangat menarik!

    salam dari idebisnisusaha.com

    Balas
  • 2. arliana zipfhara  |  April 30, 2008 pukul 2:29 pm

    mohon daftar harga

    Balas
  • 3. ABDU ZAHRUL  |  Mei 19, 2008 pukul 4:18 am

    Mohon kirimkan daftar harga pulusa elektronik

    Balas
  • 4. jalu  |  Mei 19, 2008 pukul 2:53 pm

    lumayan asal lokasinya tepat seperti lokasi padat penduduk,dekat plasa,kampus.kos-kosan kampung padat saya kira pasti ramai yang terpenting dalam melayani konsumen ramah murah senyum sabar ulet pasti jossssssss.

    Balas
  • 5. aurel  |  Agustus 28, 2008 pukul 3:50 am

    adduh…gmna kalo aq blm pnya modal cukup y?
    kalo kecil2an dulu, misalnya 500ribu dulu gmna?
    ntar dari untungny kan bs pelan2 terpenuhi…
    gmna kalo bgitu?
    soana aq butuh usaha buat tambahan…
    yaaahh dari kecil2an dulu gitu…gmn?

    Balas
  • 6. Andi  |  September 2, 2008 pukul 10:50 pm

    Aku sudah jd penjual pulsa lebih dari 4 tahun,bagi yg mau ikut aku,silahkan sms ke 085646833063,khusus september bonus deposit 2% tiap tambah deposit saldo

    Balas
  • 7. vido  |  Oktober 1, 2008 pukul 12:20 am

    website PT. e-pay indonesia, http://www.e-pay.co.id sudah tidak bisa diakses karena domainnya sudah expire. Jangan-jangan perusahaannya sudah bangkrut.

    Balas
  • 8. widnyana  |  Mei 29, 2009 pukul 4:09 pm

    Bisa dikirimin daftar harga pulsa elektrik? trim’s

    Balas
  • 9. Dimas Cell  |  Juni 15, 2009 pukul 12:51 pm

    kirim donk Daftar harga agen + pendaftaran + cara transaksi + syarat 2x TqU

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Add to Technorati Favorites

RSS VIVAlog

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.