Mencicip tawaran waralaba Bakmi Tebet dan Langgara
Maret 24, 2008
WARALABA
Tabloid KONTAN No. 45, Tahun IX, 15 Agustus 2005
Serupa GM Plus Waralaba
Mencicip tawaran waralaba Bakmi Tebet dan Langgara
Bila ingin mencicipi pasar bakmi yang cukup besar, tawaran waralaba Bakmi Langgara atawa Bakmi Tebet ini bisa menjadi pilihan. Modalnya relatif terjangkau. Diharapkan usaha ini bisa balik modal dalam waktu sembilan bulan hingga 1,5 tahun.
Dia memang bukan makanan asli Indonesia. Tapi, penganan bernama bakmi ini sudah lekat benar dengan lidah orang kita. Penggemarnya banyak, dan tak mengenal kasta. Abang becak maupun tukang ojek bisa menikmati bakmi gerobak di pengkolan. Ibu rumah tangga ataupun anak kos bisa mencegat tukang bakmi keliling di perumahan mereka. Para bos pun bisa menyantapnya di restoran.
Tak heran, ada banyak restoran yang secara khusus menyajikan bakmi sebagai menu utama. Sebut saja Bakmi GM yang tak asing lagi di telinga kita. Ada juga Bakmi Gang Kelinci, Bakmi Japos, Bakmi Golek, hingga Bakmi Margonda. Di luar nama-nama beken itu, masih banyak rumah makan bakmi yang diam-diam tumbuh membesar di kawasan Jabotabek hingga ke berbagai daerah. Contohnya Bakmi Langgara, yang beken juga dengan nama Bakmi Tebet, dua merek dari satu pemilik.
Sulur-sulur Bakmi Langgara di seputar wilayah Jakarta ini mencapai 85 gerai. Lantas, masih ada 17 gerai lagi di berbagai daerah. Dalam waktu dekat, Bakmi Langgara bakal buka gerai di Mekah dan Kuala Lumpur. Menyusul, ada rencana buka gerai di Brunei dan Kuching.
Menu andalan Bakmi Langgara tak jauh beda dengan restoran bakmi lain. Ada bakmi kuah, ada pula bakmi goreng, dengan aneka varian. Tampilan dan rasanya mirip dengan Bakmi GM, namun dengan harga yang sedikit lebih murah. Wahyu Saidi, pemilik Bakmi Langgara, mengakui Bakmi GM masih menjadi patokan penggemar bakmi seluruh Indonesia. “Bila tidak bisa menyamai Bakmi GM, minimal kita bisa menyerupainya dengan racikan sendiri,” terang Wahyu.
Tahun 2001, Wahyu membuka Bakmi Langgara di Menara Kadin. Kebetulan tempatnya dapat gratis, dengan pola bagi hasil. Nama Langgara ia pakai untuk menunjukkan bakmi racikannya itu ditanggung halal. Ternyata, kedai bakmi yang memakan investasi Rp 200 juta-kebanyakan untuk bumbu dan bahan baku-sukses berat. Kursi-kursi di gerainya tak pernah sepi dari pengunjung yang terlihat asyik menyantap hidangan bakmi.
Sukses ini memicu Wahyu terus menambah jumlah gerainya. Sehabis buka di Jalan Pemuda, awal 2002, beberapa pemilik modal pun mulai menyatakan minatnya untuk bermitra dengan Bakmi Langgara. Maka, setelah dua tahun beroperasi, Wahyu pun menawarkan waralaba bagi pemodal yang berminat.
Tak perlu pusing cari koki
Awalnya, Wahyu menawarkan waralaba untuk dua jenis gerai bakmi. Satu, Bakmi Langgara untuk kalangan menengah ke atas. Dua, Bakmi Tebet untuk menengah ke bawah. Sayang, upaya dia membidik dua segmen itu tak mengena. Lambat laun, Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet membaur menjadi satu. Sekarang ini Wahyu membagi nama Bakmi Langgara untuk wilayah selatan dan Depok. Untuk wilayah lainnya dan luar kota, nama Bakmi Tebet-menunjukkan bahwa ini bakmi dari Jakarta-menjadi trademark-nya.
Mau nama Bakmi Langgara atau Bakmi Tebet, Wahyu mengutip biaya waralaba yang sama. Yakni, Rp 60 juta. Biaya ini sudah termasuk initial fee atawa franchise fee untuk lima tahun plus berbagai perlengkapan memasak, perlengkapan makan, dan dekorasi gerai. Biaya ini memang belum semuanya. Terwaralaba masih harus menyediakan sejumlah dana untuk menyewa tempat serta modal kerja awal, seperti untuk membeli bahan-bahan masakan.
Selain bisa memakai nama Bakmi Tebet atau Bakmi Langgara, terwaralaba akan menerima pasokan bumbu dan resep dari pewaralaba. Soal tenaga kerja, bila terwaralaba tak mampu menyediakan pekerja dan koki, Wahyu yang akan menyediakannya. Tak tanggung-tanggung, Wahyu akan mengirimkan enam orang tenaga terlatih termasuk koki untuk bekerja di gerai milik terwaralaba. Terwaralaba juga tak perlu pusing mengurus izin usaha, sebab Wahyu yang akan membereskannya. “Terwaralaba cukup mengurus izin dari tetangga,” terang Wahyu.
Di samping menyediakan modal, tentu saja di terwaralaba perlu mencari lokasi usaha yang pas. Wahyu selaku pewaralaba akan ikut menyurvei dan memutuskan apakah lokasi itu layak atau tidak. Pusat keramaian dan lokasi yang banyak dikunjungi orang untuk makan, seperti mal dan pusat keramaian lain, terbilang lokasi yang pas.
Bayar royalti kalau sudah untung
Bila semua persiapan sudah beres, gerai pun bisa jalan. Nah, laiknya dalam system waralaba, terwaralaba harus membayar royalty fee kepada Wahyu. Besarnya 3,5% dari omzet bulanan. Tapi, jangan khawatir, bila omzet per bulan Anda belum mencapai Rp 15 juta, Anda tak perlu membayar royalti itu. “Prinsip saya, membagi hasil, bukan menarik untung,” cetus Wahyu.
Bagi terwaralaba yang omzetnya di bawah Rp 15 juta sebulan, Wahyu tidak tinggal diam. Antara lain, dia akan membantu promosi. Umumnya, begitu franchisee membuka gerai untuk pertama kali, bentuk promosi yang dilakukan adalah pemberian diskon sebesar 50%. Diskon ini berlaku selama dua hari pertama. Pada hari ketiga dan keempat, diskon berkisar 20%- 30%. Sesudah itu barulah diberlakukan harga biasa. Promo diskon ini biasanya sangat efektif.
Wahyu menandaskan, promosi ini mutlak diperlukan, tak hanya buat gerai yang masih sepi pembeli. Bentuknya macam-macam, dan tak melulu atas petunjuk pewaralaba. Terwaralaba bisa melakukan promosi atas idenya sendiri. Contohnya apa yang dilakukan Heri Rasyid, seorang terwaralaba Bakmi Langgara, yang membuka satu gerai di Plumpang (Tanjungpriok) dan satu gerai lagi di Karawaci. “Saya melakukan promosi dengan mug, dan itu bisa meningkatkan omzet hingga 10%-20%,” ujarnya. Untuk gerai di Karawaci yang sedang melakukan promo diskon 50%, Heri bisa mencetak omzet sekitar Rp 3 juta sehari. “Normalnya, sih, sekitar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per hari,” imbuh Heri.
Bila semua berjalan lancar, dengan omzet Rp 1 juta sehari saja, Wahyu memperkirakan terwaralaba akan mencapai titik impas dalam waktu 1,5 tahun. Kala omzetnya seperti gerai Heri, mencapai Rp 2 juta sehari, balik modalnya hanya dalam waktu sembilan bulan. Resep sukses di bisnis ini, selain pintar memilih lokasi, “Terwaralaba juga harus gigih dan tidak cepat bosan,” tandas Wahyu.
+++++
Terinspirasi Bakmi GM
Di balik sukses Bakmi Langgara atawa Bakmi Tebet adalah seorang pria dengan seabrek gelar kesarjanaan. Dialah Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, Msc., penggagas dan pemilik Bakmi Langgara atawa Bakmi Tebet ini.
Seusai kena hajar krismon, Wahyu mula-mula menjajal bisnis makanan palembang. Sayang, usaha itu kurang cemerlang. Yakin bisnis makanan bakal tetap menguntungkan, Wahyu pun banting setir ke kedai bakmi yang pasarnya amat besar. “Bakmi itu makanan segala lapisan, dari anak kecil sampai orang tua,” ujar insinyur sipil lulusan ITB ini.
Awalnya dia berharap bisa menjadi terwaralaba Bakmi GM. Sayang, Bakmi GM tak menawarkan waralaba. Tapi, Wahyu tak hilang akal. Dia pun mencoba membuat racikan bakmi sendiri dengan cara mengundang beberapa eks-koki GM, ahli kuliner, dan jago masakan. Hasilnya, berdirilah jaringan kedai bakmi milik Wahyu yang memang banyak miripnya dengan Bakmi GM.
Agung Ardyatmo
Tabel simulasi perhitungan bisa di donlod di SINI
Entry Filed under: Bisnis. Tag: bakmi langgara, bakmi tebet, usaha, usaha makanan, waralaba, waralaba makanan.
9 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
ANANG ARIEF | Mei 3, 2008 at 3:06 pm
SAYA TERTARIK DENGAN BAKMI TEBET KAMI PUNYA RUKO
YANG SANGAT STRATEGIS DI KOTA MALANG SEMOGA AWAL
EMAIL INI AKAN BERKESINAMBUNGABN SALAM HORMAT
BUAT BAPAK WAHYU
REGARD,
ANANG ARIEF – MALANG
0811xxxxx
2.
Romi Eko P | Mei 12, 2008 at 11:51 am
Bagaimana cara memulai bisnis bakmi tersebut? Siapa yang harus dihubungi jika ingin memulai usaha ? Saya ada keinginan untuk berwirausaha dg system waralaba.
3.
blogkage | Mei 12, 2008 at 11:42 pm
@anang arief, romi eko
Bakmi Tebet
Jalan Margonda Raya No. 392 Pondok Cina Depok
021 – 7888 6544
4.
Danu | Mei 26, 2008 at 2:38 am
Ass.war wb.
Saya tertarik dengan bakmi Langgara, apabila dimungkinkan saya akan membuka di daerah Bintaro. Mohon info kantornya dimana.
Dony, Bintaro
5.
Erald | Mei 29, 2008 at 2:28 pm
Apakah bakmi tebet bs smpai ke daerah..saya di kalteng..minta info ke mana saya bs menghubungi..
6.
Dindin Hajarudin | Juli 25, 2008 at 8:13 am
Saya tinggi di daerah bekas, kl di lihat dr puluang, daya beli masy, cukup tinggi. hanya perlu cari lokasi yg pas untuk kalangan menengah ke atas dan bawah
7.
mahfud | Agustus 13, 2008 at 4:26 am
saya punya tempat di semarang pingin kerja sama saya hanya punya tempat ok di banyumanik semarang
8.
cps | Oktober 12, 2008 at 4:58 am
bakmi tebet sama bakmi GM enakan mana ya??
9.
rachmad hidayat | Januari 28, 2009 at 8:32 am
bagaimana karyawan bapak wahyu saidi, apakah gaji mereka masih dibawah standar,,