Kisah Hartomo berbisnis sekolah montir
Februari 24, 2008
PROFIL
Tabloid Kontan No. 45, Tahun X, 14 Agustus 2006
Motor Bekas Berbuah Sekolah
Kisah Hartomo berbisnis sekolah montir
Gara-gara terhantam krisis 1998, dagangan motor bekas Hartomo teronggok. Ia pun banting setir membuka kursus montir. Sekarang siswanya tercatat belasan ribu orang, tersebar di 10 kota.
Garis hidup orang tidak bisa ditebak. Seperti itulah kisah sukses Hartomo Koes Alam Syahrir. Meski tak pernah bercita-cita memiliki sekolah bengkel, Hartomo kini memiliki jaringan kursus montir terbesar di Indonesia. Hartomo Mechanical Training Center (HMTC) kepunyaannya ada di 10 kota dengan belasan ribu siswa. HTMC memasok kebutuhan montir di bengkel resmi pabrikan motor, seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan Kymco. Bahkan, Hartomo yang berusia 33 tahun ini juga sudah mengikat janji dengan pabrikan India, TPS, yang baru mau masuk ke Indonesia.
Hartomo memang tidak memiliki seluruh sekolahnya sendiri, karena jaringan itu menyebar dengan sistem waralaba yang dijual Rp 200 juta. Dari satu siswa yang baru masuk, Hartomo mendapat jatah 30% dari uang kursus antara Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. Jadi, kalau saban tahun HMTC menerima 1.000 hingga 1.500 siswa, kalikan saja berapa rupiah yang masuk ke kantong Hartomo.
Hartomo mengaku tidak pernah bercita-cita mendirikan sekolah montir. Ia hanya mengikuti naluri bisnisnya saja. “Cuma kebetulan, saya main di motor dari tahun 1993, dengan berdagang motor bekas,” kenangnya.
Sukses itu memang tidak semudah menjentikkan jari tangan, apalagi memakai jalan pintas. Cerita bisnis Hartomo dimulai sejak ia masih sekolah di bangku SMA. Ketika itu setiap pagi Hartomo pergi ke sekolah, dan siangnya menjadi penjual alat-tulis kantor di toko Wijaya Stationary, Kampung Melayu. Dengan gaji rata-rata Rp 150.000 per bulan, Hartomo menjajakan alat tulis kantor ke berbagai instansi di daerah Jakarta Timur. “Kalau dengan bonus, gaji saya sekitar 600.000,” ujarnya. Selama tiga tahun Hartomo menjadi sales.
Setelah lulus SMA, anak pengusaha restoran itu meneruskan kuliah. Uang tabungannya selama bekerja sebagai sales alat tulis kantor, waktu itu, ada sekitar Rp 3 juta. Tabungan tersebut dibelikan motor Yamaha RX King yang menjadi teman setia yang mengantarnya pergi kuliah. Saat di kampus ada teman yang menawar motornya Rp 3,7 juta. Hartomo termakan iming-iming itu. “Saya pikir enak juga, ya, dapat Rp 400.000 untuk satu motor. Saya kerja sebulan saja hanya dapat Rp 600.000,” tuturnya. Ia pun merelakan motornya dan menukar dengan Honda Grand seharga Rp 2,6 juta. Motor Honda itu lantas dilepas dengan harga Rp 3,2 juta.
Tetap saja ada angka gagalnya
Setelah dua kali merasakan nikmatnya menjual motor bekas, Hartomo jadi ingin berbisnis jual beli motor. Ia segera melaksanakan niatnya. Tiga tahun kemudian, tahun 1996 volume penjualan Hartomo mencapai 300 motor bekas sebulan. Tak aneh jika salah satu perusahaan pembiayaan bersedia mengikat kontrak dengannya untuk menjual motor tarikan dari nasabah yang tak kuat membayar cicilan. Hartomo membeli setiap motor itu dengan harga Rp 1,8 juta, dan menjual dengan harga pasar. Walhasil, Hartomo memperoleh untung berlipat. “Waktu itu saya bisa dapat untung bersih Rp 50 juta sebulan,” kisahnya.
Masa jaya itu tak bertahan lama. Saat krisis moneter tahun 1998, bisnis jual beli motornya kena imbas. Penjualan Hartomo turun drastis. Itu sebabnya, ia berpikir untuk banting setir. Bisnisnya memang tidak bisa jauh-jauh dari motor. “Kalau tetap bisnis motor bekas, paling dua tahun lagi saya tamat,” tuturnya.
Maka, pada 1 Juli 1999, Hartomo mengubah gerai motor bekasnya menjadi tempat kursus montir. Motor jualan yang tidak laku rencananya akan direlakan untuk dicincang murid-muridnya.
Hartomo membuka kursusnya dengan biaya Rp 500.000 per orang. Sebulan pertama, Hartomo hanya mendapat satu siswa yang lulusan SD. Jelas saja Hartomo berpikir ulang. Soalnya, ia sudah mempekerjakan lima karyawan. “Awalnya, saya mikir mau ngelanjutin atau enggak. Tapi, saya termotivasi untuk melanjutkan sampai tiga bulan,” ujarnya. Bulan berikutnya murid Hartomo bertambah tujuh orang. Lalu, bulan ketiga mencapai 12 orang.
Siswa pertama Hartomo yang memunculkan motivasi itu sekarang bekerja di Daan Mogot. Hartomo bilang, murid pertama itu sempat bikin malu. Soalnya, biar sudah lulus kursus montir di HMTC, ia belum bisa membuka ban motor. “Katanya, belum diajarkan di kursus,” kenang Hartomo sambil terkekeh-kekeh. Namun, dari situlah Hartomo berusaha memperbaiki materi dan metode pengajarannya.
Dari seluruh siswanya, kata Hartomo, sekitar 30% mendirikan usaha sendiri dan sisanya bekerja di bengkel resmi produsen motor. Sepuluh persen lainnya, Hartomo tidak malu-malu mengakui kegagalan kursusnya. “Enggaklah kalau dibilang 100% berhasil semua. Kegagalan pasti ada,” ungkap pria yang suka bicara apa adanya ini. Hartomo juga membuka pintu seluasnya bagi semua orang. Tidak ada batas pendidikan minimal untuk kursus montirnya, lulusan SD atau universitas, sama-sama diterima.
Setelah mengembangkan sekolah montir, Hartomo berencana membuka bisnis baru yang tak jauh dari motor, yakni bengkel waralaba. Bengkel itu akan menangani semua merek motor yang ada di jalan. Tentu saja, para teknisinya akan didatangkan dari sekolah Hartomo sendiri.
+++++
Gemblengan ala HMTC
Sebenarnya ada banyak sekolah bengkel di Indonesia selain milik Hartomo. Kurang lebih jumlahnya mencapai 20 sekolah montir. Sebut saja Safari, ada ACM, dan Yamaha Engineering School. Tapi, hanya kursus Hartomo yang mementingkan praktek ketimbang teori dengan porsi 90:10. Risikonya, setiap murid harus diberi satu motor yang bisa diotak-atik.
Hartomo mengembangkan tiga jenis kursus, yakni standar, modifikasi, dan modifikasi plus. Aturan main di HMTC pun cukup unik. Misalnya ujian kelulusan. Setiap siswa diuji untuk merakit kerangka sepeda motor yang tercerai berai hingga sepeda itu bisa lari di jalan. Waktunya hanya dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Jumlah motor yang harus dirakit sama dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian. Jika siswa yang mengikuti ujian sebanyak 10 orang, maka motor yang harus dipasang, ya, sebanyak 10 buah. “Siswa tidak diberi tahu jenis motor apa yang akan dia pasang,” ujar Hartomo.
Umar Idris, Yuwono Triatmodjo
Artikel HMTC klik disini
Entry Filed under: Bisnis. Tag: hartomo, Hartomo hmtc, Hartomo Mechanical Training Center, pengusaha sekolah bengkel, pengusaha sukses, profil pengusaha.
14 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
Ary Santosa Yudha | Februari 24, 2008 at 1:28 pm
ok banget, cukup inspiratif. Menurut saya yang paling menarik adalah keberanian mas Hartomo untuk banting setir. Resikonya sangat besar tuh, tidak semua pebisnis berani melakukan itu. Dibutuhkan keberanian besar untuk melakukannya. Sementara di luar sana banyak para pengusaha kecil yang memaksakan diri melanjutkan bisnis yang sudah jenuh hingga titik darah penghabisan.
Salut buat mas Hartomo, rasanya kita patut belajar dari beliau
2.
sutra tarigan | Juni 4, 2008 at 3:44 am
saya bangga sama mas hartomo dengan sekolah montirnya,saya mau belajar dari semangatnya buka usaha itu dan saya ingin belajar dari dia cara membuka bengkel dan sekolah montir.
3.
cipta | Juni 24, 2008 at 8:40 am
keren banget…
kalau di bandung udah ada belom sekolah montirnya??
minta alamat donkkk
4.
Alessa | September 2, 2008 at 2:41 am
Tolong info alamat & no telp nya donk…
Makasih banyak
5.
Merzan S | September 17, 2008 at 11:18 am
bang bisa gak di kirim ke imail merjan, tips-tips supaya cepat membongkar mesin motor/ turun mesin
6.
holis | Oktober 13, 2008 at 3:24 am
bravooo HMTC, gue alumnix bro.lulusan dari Jogja 3 taon silam.. btw,thank to hmtc crew n mas hartomo. gue salah satu yang boleh dibilang berhasil dari HMTC.. thank to tentorx jogja..
7.
ryan | Oktober 19, 2008 at 8:30 am
assalamualaikum wr wb Bapak aku seorang lulusan sekolah dasar pengen kursus tempat bapak kalou ada hubungi no ini 02199896469 peneg jadi montir.wasalam
8.
rafiq | Desember 4, 2008 at 2:51 am
Bang mau tanya kalo di jakarta alamatnya dimana?
pa ini juga kursus montir untuk pesawat?
mohon infonya.
tx
9.
aju setia budi | Desember 18, 2008 at 5:57 am
aku ingin belajar menjadi seorang montir motor dan mobil yang handal ada yg bisa bantu gak, ni no tlp saya yg bisa di hubungi: 081585641864
10.
Wira | Januari 27, 2009 at 7:04 am
Alamat tempat kursus anda d mn??
11.
tedhy | Februari 10, 2009 at 7:01 pm
mas bisa minta alamatnya ??
saya lagi nyari2 tempat kursus nee..
12.
tedhy | Februari 10, 2009 at 8:03 pm
mas monta alamtnya di jakarta ya……
atau klo da yang tau, mohon infonya…
13.
lela | Februari 12, 2009 at 3:45 am
pak, saya mau kursus montir.
saya minta informasinya donk, diemail kan saja ke nurlaela@intra.tunasgroup.com
klo bisa alamat, no telp, n nama institusinya.
yang dijakarta
thx
Salam
Lela
14.
bronson | Februari 14, 2009 at 5:29 am
mas minta alamat kursusnya dan biaya kursusnya